
Senyum Nina makin melebar saat Ryan berlari melintasinya. Perhitungannya sangat tepat. Ia yakin bahwa Ryan akan termakan omongannya bila menyangkut soal Wida. Buktinya, tanpa pikir panjang Ryan langsung berlari, yang sepertinya mencari Wida. Nina juga mempercepat langkahnya, ia tidak ingin melewatkan pertunjukkan yang akan terjadi.
Wida dan Asti berjalan dengan santai di gang yang biasa mereka lewati bila pulang dari sekolah. Dibelakang mereka tampak Prima dan Eko yang mengikuti dengan sabar.
"Mana ada sih orang pacaran jalannya jauhan begini," gerutu Eko. Sepertinya ia tak rela melihat Asti yang berjalan dengan Wida.
"Kau yang menyuruhku bersabar, kenapa sekarang kau menggerutu?" Prima menjawab dengan kesal.
"Pokoknya kau harus segera selesaikan masalahmu dengan Wida," kata Eko sambil melangkah cepat. Sepertinya ia ingin menyusul Asti.
Prima menarik tangan Eko untuk menghentikannya.
"Jangan gitulah... temani aku... nanti aku pinjami...," kata-kata Prima terputus saat dilihatnya Ryan melewatinya.
Eko yang sedang berjalan pun jadi berhenti.
"Mau apa dia?" tanyanya.
Ryan yang berlari berhasil menyusul Wida.
"Kak!" serunya, dan berhasil membuat Wida terhenti.
Wida menoleh kearah Ryan yang berdiri disampingnya.
"Ryan?" katanya heran melihat sosok yang ada disampingnya. "Ada apa? Bukankah seharusnya kau masuk kelas?"
Ryan tersenyum.
"Iya... tapi sudah telat, Kak," jawabnya sambil menggaruk kepala.
__ADS_1
"Lama tidak bertemu, Kak. Apa kabar Kakak sekarang?"
Wida juga tersenyum. "Baik," jawabnya singkat.
"Kakak mau pulang, kan? Aku antar, ya?" kata Ryan grogi karena bingung mau bicara apa.
"Tidak usah, ada kak Asti yang akan mengantarku," jawab Wida sambil menunjuk Asti, yang tiba-tiba menjawil Wida, agar Wida menengok kebelakang. Wida pun menurut. Dan betapa terkejutnya ia dengan apa yang dilihatnya.
Ryan yang juga melihat kode yang dibuat Asti, ikut menoleh kebelakang. Bukan hanya Wida, Ryan pun juga ikut terkejut, karena dilihatnya Prima yang datang menghampiri mereka.
Ternyata Prima yang melihat Ryan menghampiri Wida, terbakar api cemburunya. Dengan langkah cepat di lewatinya Eko yang terhenti. Eko yang kemudian tersadar Prima melewatinya, segera menyusul Prima, karena takut Prima akan terbawa emosi.
"Ada apa kau kesini? Bukankah seharusnya kau masuk kelas?" tanya Prima dengan nada sinis begitu sampai di dekat Wida. Dengan sekali gerakan tangannya menarik tangan Wida, agar Wida berdiri dibelakangnya.
Wida yang masih terkejut, makin terkejut dengan gerakan Prima yang menariknya kebelakang Prima.
Ryan yang tidak suka dengan perbuatan Prima terhadap Wida, menatapnya tajam.
Prima tersenyum sinis. Matanya pun tak kalah tajam saat menatap Ryan.
"Pasti ada masalah kalau kau yang menyapanya."
Asti yang berdiri disamping Wida merasa cemas. Ia menoleh ke arah Eko, dengan memberi kode agar Eko melerai mereka. Eko yang melihat ke arah Asti hanya menggelengkan kepalanya. Ia merasa belum saatnya untuk bertindak. Wida pun terlihat bingung dengan situasi yang tiba-tiba itu.
"Kenapa jadi masalah? Bukankah sekarang kak Wida bukan siapa-siapa kak Prima?" Ryan semakin berani.
"Siapa bilang aku bukan siapa-siapa Wida?" Prima semakin tertantang.
"Semua! Semua anak disekolah juga tahu, kalau kak Prima putus dengan kak Wida!" suara Ryan semakin meninggi, membuat beberapa siswa yang berjalan didekat mereka terhenti ingin tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
Dan dari kejauhan, terlihat Nina yang berdiri seorang diri, menyaksikan peristiwa yang memang sudah direncanakannya. Dan sepertinya, rencananya benar-benar berhasil.
Prima yang sudah tidak bisa menahan emosinya bersiap maju untuk menyerang Ryan.
"Kau..." katanya tertahan, karena Wida memegang tepi baju Prima dengan kedua tangannya.
"Jangan Prima!" katanya mengingatkan Prima. "Ia benar-benar hanya menyapa..."
Prima mengurungkan niatnya. Dengan kesal dihempaskannya tangannya yang sudah terangkat untuk memukul Ryan. Dirasakannya tangan Wida yang mencengkram erat tepi bajunya. Prima menghela napas menahan emosinya.
Ryan melihat tangan Wida yang ada di pinggang Prima. Hatinya bertanya-tanya, apakah benar yang dikatakan perempuan bernama Nina tadi, bahwa Wida putus dengan Prima?
Wida melangkah maju dan berdiri di depan Prima.
"Sebaiknya kau kembali kesekolah. Bagaimana hubungan Kakak dan Prima, Kakak rasa itu urusan kami berdua," kata Wida pelan berusaha menengahi.
"Tapi Kak... apakah benar Kakak baik-baik saja? Ada yang bilang Kakak tampak tertekan karenanya," Ryan masih mencoba mengorek keterangan Wida.
Mendengar kata 'tertekan' membuat Prima membelalakkan matanya pada Ryan. Emosinya pun sudah tak dapat ditahannya lagi.
"Benar-benar anak ini!" katanya seraya maju melewati Wida yang berdiri di depannya.
Kali ini Eko yang menghalangi Prima. Ditahannya Prima dengan memegang tangannya. Wida pun menahan Prima dengan berdiri menghadang Prima.
"Sudahlah Ryan... Kakak mohon... kembalilah kekelas. Kakak tidak mau menerima hukuman lagi jika kalian berkelahi!"
"Tapi, Kak..."
Wida yang benar-benar takut Prima akan mengamuk, akhirnya menggandeng tangan Prima, dan menyeretnya meninggalkan Ryan yang diam terpaku melihat kepergian Wida.
__ADS_1
Ditempat lainnya, Nina tersenyum sinis melihat drama yang terjadi didepannya. Ia kini sudah mendapat jawaban atas apa yang terjadi antara Prima dan Wida. Rupanya putusnya hubungan mereka hanya pura-pura, agar dirinya tak tersakiti. Tapi... tanpa mereka sadari, justru kepura-puraan mereka telah menambah dalam luka di hatinya...