
Jam istirahat pun tiba. Wida merapikan bukunya dan menyimpannya di laci mejanya. Asti yang biasanya langsung kabur ke kantin, hari ini lebih memilih menemani Wida di kelas.
Wida menoleh ke arah Asti.
"Aku tidak apa-apa... kau ke kantin saja," kata Wida pelan.
Asti tersenyum kecut.
"Apanya yang tidak apa-apa? Kau tahu sendiri bagaimana Laras..."
"Aku kenapa?" Laras tiba-tiba sudah berdiri disamping Asti dan memotong pembicaraannya.
Asti yang terkejut dengan kedatangan Laras yang tiba-tiba langsung menoleh ke arahnya.
"Apa aku salah, kalau aku bertanya?" tanya Laras sambil berkacak pinggang dan menatap tajam Asti.
Wida yang juga terkejut mendesah pelan. Ia pikir Laras sudah melupakan kejadian tadi. Tapi ternyata ia masih penasaran.
"Tidak... kau tidak salah kalau hanya bertanya," jawab Wida gugup mendahului Asti yang sudah membuka mulutnya untuk berbicara.
"Dan ia.. itu memang aku... " Wida tertunduk malu saat mengakuinya.
Asti mengatup kembali mulutnya yang terbuka dengan wajah kesal. Di tatapnya Laras dengan tajam.
"Nah, kau sudah bertanya dan mendapatkan jawabannya! Sekarang pergilah!" usir Asti dengan penuh emosi.
"Kenapa kau mengusirku? Aku mau pergi atau tidak terserah aku, dong!" Laras tampak marah dengan perkataan Asti.
Tatapan matanya kembali ke Wida.
"Aku tidak menyangka kau seperti itu, Wid! Kau telah membawa nama kelas kita menjadi jelek, tahu?"
__ADS_1
Beberapa murid lain yang memang penasaran ingin mendengar jawaban Wida tadi, tampak datang dan berkerumun. Suara mereka terdengar kasak kusuk membenarkan perkataan Laras.
"Ya!" kata seorang murid perempuan lainnya menimpali. "Harusnya kau berpikir dua kali bila ingin masuk ketempat seperti itu!"
Wida tampak semakin tertunduk. Air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia semakin merasa bersalah karena perbuatannya itu.
Asti semakin geram dengan teman-temannya yang tampak menyudutkan Wida.
"Memangnya kalian tahu, kenapa Wida kesana?!" kata Asti setengah berteriak mencoba membela sahabatnya. "Ia hanya numpang ke toilet disana! Tidak lebih!"
Terdengar beberapa murid lainnya tertawa sinis mendengar jawaban Asti.
"Hei, As!" kata Rina, salah seorang teman sekelas mereka, "memangnya kami anak tk yang bisa kau bohongi? Pakai alasan numpang ke toilet segala! Memangnya ga' ada tempat lain, apa? Kita semua juga tahu kali, kalau tempat yang dia datangi itu tempat apa. Masa iya mereka hanya numpang ke toilet?"
"Memangnya itu tempat apa?!" tiba-tiba Prima datang menyeruak di antara kerumunan teman sekelas Wida. Ia berjalan menghampiri tempat duduk Wida, dengan wajah yang terlihat penuh amarah.
Saat bel istirahat berbunyi, Prima buru-buru menyelesaikan catatannya yang ketinggalan. Bahkan ia tidak menyadari kalau Nina sudah berdiri di samping mejanya. Eko yang duduk di pinggir sampai menjawilnya, memberitahu bahwa Nina datang mencarinya. Eko pun tahu diri, dan beranjak bangun meninggalkan mereka berdua.
"Aku mau bicara Prim," katanya pelan.
Prima hanya menoleh sekilas.
"Maaf Nin, aku sedang huru-buru," tolak Prima, sambil terus menulis di bukunya.
"Aku mau bicara tentang foto itu..." kata Nina ragu.
Prima menghentikan tulisannya. Ia menoleh ke arah Nina dengan wajah datar.
"Kenapa? Apa kau ingin mengatakan, bahwa kau yang mengambil foto itu dan menempelnya di mading?" tanya Prima dengan mata menyipit penuh selidik.
Nina terkejut dengan pertanyaan Prima yang jelas-jelas menuduhnya.
__ADS_1
"Astaga!" serunya. "Kau pikir, aku yang melakukannya? Aku bukan orang semacam itu, Prim! Aku saja tidak tahu bagaimana gambar foto itu. Walau aku tidak menyukai hubunganmu dengan Wida, aku tidak akan mungkin melakukan itu!"
Prima meletakkan pulpen yang dipegangnya. Diasandarkannya tubuhnya kesandaran bangku sambil mendesah pelan.
"Benar, bukan kau yang melakukannya?" Prima masih tidak percaya.
Mata Nina tampak berkaca-kaca. Ia kecewa dengan Prima yang sepertinya tidak mempercayainya.
"Untuk apa aku melakukan itu?" tanyanya dengan suara tertahan karena menahan tangisnya yang akan pecah.
Prima menatap mata Nina yang sudah meneteskan air mata. Sepertinya Nina tidak berbohong.
"Maafkan aku," katanya pelan, terdengar ada sedikit rasa sesal disuaranya yang parau.
"Pikiranku sedang kacau. Aku pikir kau yang melakukannya dengan temanmu, Sifa. Karena selama ini kalianlah yang selalu mengganggu Wida."
Nina menarik napasnya yang terasa berat karena menahan emosinya.
"Bukan aku... atau Sifa. Sifa juga hanya melihatnya sekilas sebelum foto itu di copot oleh Eko, dan ia memberitahukanku. Makanya aku penasaran, benarkah itu kamu, yang bersama Wida?"
Prima kembali mendesah pelan.
"Tentu saja itu aku. Memangnya kau pikir Wida jalan dengan siapa?"
Tiba-tiba Prima merasakan ponselnya yang ada disaku celananya bergetar. Ada pesan masuk dari Eko. Seketika tubuhnya menegang setelah membaca pesan itu
Nina memperhatikan sikap Prima yang berubah. Wajah Prima terlihat cemas. Pasti pesan dari Wida, batinnya cemburu.
Prima berdiri, dimasukkannya ponselnya ke saku celananya kembali. Ia menoleh ke arah Nina yang masih duduk disebelahnya.
"Maaf Nin, aku masih ada urusan..."
__ADS_1
Nina terdiam sebentar sambil menatap Prima dengan sedikit kesal. Lalu ia pun berdiri, memberi jalan pada Prima yang langsung berlari meninggalkan kelas, dengan diiringi pandangan Nina yang penuh rasa cemburu...