Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CXII : Hari Ini Kau Boleh Menang...


__ADS_3

Wida yang tertunduk mengangkat wajahnya, dan kembali menatap Prima saat mendengar perkataan Prima yang mengakui dirinya sebagai pacar, di hadapan ibunya. Ia tidak menyangka kalau Prima akan berani mengatakannya. Apalagi ada Nina disana, yang sepertinya lebih didukung apabila ia yang menjadi pacarnya ketimbang dirinya.


Prima membalas tatapan Wida sambil tersenyum. Ia tahu, Wida yang polos itu pasti sangat terkejut dengan pernyataannya di depan ibunya.


Prima kembali menatap ibunya.


"Bagaimana, Mih? Mamih belum menjawab pertanyaanku," tuntut Prima.


Ibu Prima menghela napas. Ia tidak menyangka bahwa ternyata anaknya sudah dewasa, dan memiliki pilihannya sendiri. Sekilas diliriknya Nina. Bukannya ia tidak tahu kalau Nina menyukai putranya sedari kecil. Tapi mau bagaimana lagi, sepertinya Prima hanya menganggapnya sebagai teman.


"Terserah padamu," kata ibu Prima akhirnya. "Tapi bagaimana dengan Nina?" Ibu menoleh ke arah Nina.


Nina terkejut ia melihat ke arah ibu Prima dan Prima bergantian.


"Kenapa dengan aku?" tanyanya gugup. Dalam hati Nina merasa kesal, bagaimana sih ibu Prima ini? Kenapa ia malah menyudutkanku dengan pertanyaan seperti itu? Harusnya bilang saja tidak boleh, karena aku lebih baik! Kan beres.


"Ya.. kenapa dengan Nina?" Prima ikut bertanya. "Nina hanya teman bagiku. Tidak lebih."


Buk! Hati Nina bagai dihantam bola baja, saat mendengar perkataan Prima. Ia merasa hatinya hancur untuk kesekian kalinya. Bahkan kali ini terang-terangan di depan ibu Prima. Ia merasakan matanya sudah mulai panas.

__ADS_1


"Tidak..." ibu Prima seperti bingung harus berkata apa, menyesal juga ia mengajukan pertanyaan seperti itu. "Maksud Mamih... kalian kan sudah lama bersama... jadi.."


"A... Aku tidak apa-apa, kok," potong Nina.


"Aku tidak pernah mengikat Prima. Ia bebas untuk suka dengan siapa saja."


Suara Nina terdengar bergetar, dan matanya pun mulai memerah.


Prima yang melihatnya tahu, bahwa Nina sedang berusaha menahan agar air matanya tak tumpah. Lalu ia pun berdiri, ditariknya tangan Wida untuk mengikutinya keluar dari ruang tamu. Ia tidak ingin jika Wida melihat Nina menangis. Karena selama ini Nina selalu tampak tegar di depan Wida.


"Mau kemana, Kak?" celetuk Dewi yang sedari tadi hanya diam.


Ibu Prima hanya melongo melihat putranya membawa seorang gadis ke kamarnya.


"Prima..!" panggilnya setelah tersadar.


Prima yang mengerti maksud panggilan ibunya hanya melambaikan tangannya, dan berkata, "Tenang Mih, aku tahu apa yang aku lakukan."


Sepeninggalnya Prima dan Wida, akhirnya pertahanan Nina pun runtuh juga. Tubuhnya bergetar dan ia pun mulai terisak pelan.

__ADS_1


Ibu Prima yang menyadari kalau Nina menangis, segera merangkulnya. Dibelainya rambut Nina dengan sayang.


"Sudahlah," bujuknya, "kau jangan menangis. Kau tahu kan, bagaimana Prima? Kalau memang itu kemauannya, kita tidak bisa menolaknya."


Nina tertunduk dan menangis pelan. Dewi yang tampak iba, pindah duduknya ke samping Nina. Lalu mengusap-usap punggung Nina.


"Sabar Kak. Biar bagaimana pun, kak Nina tetaplah seorang kakak bagiku," katanya berusaha menenangkan Nina.


"Nah, dengarkan? Kau tetap bagian dari keluarga ini," kata ibu Prima mendukung ucapan Dewi.


Nina mengangkat wajahnya, ditatapnya ibu Prima lekat.


"Tapi tante tahu kan, bagaimana perubahan Prima setelah mengenal Wida? Bukankah aku telah menceritakan semua, apa yang dilakukan Prima belakangan ini disekolah?"


Ibu Prima mengangguk seakan mengerti apa yang di maksud oleh Nina.


"Iya... tante ingat. Makanya, kita biarkan dulu saja apa maunya Prima. Tapi nanti, jika Wida membawa dampak buruk bagi Prima, tante tidak akan membiarkannya..."


Nina terdiam. Hatinya bersorak senang mendengar perkataan ibu Prima. Kau boleh menang hari ini Wid, tapi kita lihat berapa lama kemenanganmu bertahan...

__ADS_1


__ADS_2