Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CLXXXVIII : Keputusan Sudah Bulat...


__ADS_3

'Praaang'


Prima yang mendengar suara jatuh dari arah ruang makan tampak tersentak. Dengan reflek wajahnya menoleh ke arah ruang tersebut. Ia berusaha untuk melihat apakah ada seseorang disana. Namun ia tidak melihat siapa pun di sana karena lampu utama ruang makan dimatikan dan hanya lampu dinding saja yang menyala.


Wida yang juga terkejut saat mendengar suara benda jatuh itu, membuka matanya.


"Apa itu?" tanyanya setengah berbisik. Ia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang tampak panik.


"Bukan apa-apa.." jawab Prima kembali menoleh ke arah Wida.


"Paling hanya tikus.."


Wida yang nafasnya sempat tertahan karena sentuhan Prima, kini menghembus lega. Perhatian Prima yang teralih sesaat, membuatnya menepis tangan Prima yang sedang menyentuh tubuhnya dengan cepat. Ia takut jika ada yang melihat aksi mereka. Segera ia merapikan t-shirtnya yang sempat tersingkap tadi.


Gairah Prima yang tadi menggebu mendadak hilang karena terkejut. Sebenarnya ia masih ingin melanjutkan penjelajahannya pada Wida, namun setelah dilihatnya ekspresi Wida yang tampak panik, ia mengurungkan niatnya. Apalagi setelah Wida menepis tangannya. Prima pun menarik dirinya dari hadapan Wida dan kembali duduk bersandar disamping Wida.


"Apakah kau tidak ingin melihat suara apa tadi?" tanya Wida yang masih penasaran apakah suara tikus atau... Eko.


Setelah mendesah pelan, Prima bangun dari duduknya. Dan tanpa menoleh ke Wida, ia berjalan perlahan ke arah ruang makan. Sepertinya ia sudah menduga bahwa suara yang mereka dengar tadi adalah ulah Eko, karena ia tidak terkejut saat melihat Eko yang sedang berdiri di ujung meja makan. Di hampirinya Eko yang memang sepertinya sudah menunggu dirinya.


"Apa-apaan kau ini..." gerutunya setelah berdiri di depan Eko. "Apa maksudmu melakukan itu?"


Eko tidak langsung menjawab gerutuan Prima, di teguknya air dalam gelas yang ada di tangan kirinya.


"Kau pikir saja sendiri, kenapa aku melakukan itu," jawab Eko sambil meletakkan gelasnya di meja makan.


Mata Prima terlihat kesal saat menatap Eko. Ia tidak percaya kalau Eko akan mengusiknya, padahal biasanya sahabatnya itu tidak pernah ikut campur dengan masalah pribadinya.


"Apa kau pikir, aku akan melakukan hal bodoh terhadap Wida?"tanya Prima kesal.

__ADS_1


"Bukankah kau hampir melakukannya?" Eko balik bertanya.


"Kau..!"


"Aku hanya tidak ingin kau akan menyesali perbuatanmu. Bukan kau yang aku cemaskan, tapi Wida. Aku tidak ingin Wida rusak masa depannya hanya karena perbuatan bodohmu! Kau tahu Wida hanya punya ibu. Apa kau ingin menghancurkan harapan ibunya?"


Prima terdiam. Dalam hatinya ia membenarkan perkataan sahabatnya itu. Ada benarnya juga perkataan Eko, batinnya, hampir saja ia termakan nafsu birahinya yang menggila... dan merusak masa depan Wida. Hhh...


"Sebaiknya kau antar Wida pulang..." kata Eko, ketika dilihatnya Prima yang terdiam, "tidak enak, ini sudah larut malam. Aku yakin ibunya Wida tidak tahu kalau anaknya kau bawa keluar rumah. Cepatlah, sebelum ibu Wida menyadari kalau anaknya tidak ada dirumah. Bukannya aku mengusirmu.."


Tanpa menjawab perkataan Eko, Prima berbalik meninggalkan Eko dan kembali ketempat dimana Wida berada.


Sepeninggalnya Prima keruang makan, Wida duduk dengan gelisah. Hatinya bertanya-tanya apakah benar itu suara kucing yang menjatuhkan sesuatu atau... Eko yang melakukannya. Hatinya berharap kalau itu memang kucing... tapi... memangnya Eko punya kucing? Dugaan Wida semakin kuat, kalau itu bukanlah kucing... melainkan Eko. Kalau memang Eko... apa ia melihat apa yang mereka lakukan? Lalu... apakah ia akan cerita pada Asti, sahabatnya? Ah... betapa malunya ia kalau Asti samapai tahu.. Wida semakin gelisah dalam duduknya menunggu kedatangan Prima.


Tidak berapa lama Prima pun datang dengan wajah yang terlihat kesal. Wida yang tidak mengerti dengan kekesalan Prima, hanya mengerutkan alisnya.


Prima hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Wida.


"Ayo... aku antar kamu pulang," katanya mengalihkan pembicaraan. "Aku takut kalau kelamaan, ibumu akan menyadari kalau kau tidak ada di rumah."


Tanpa banyak bertanya lagi Wida pun langsung berdiri, mengikuti Prima yang berjalan ke arah keluar rumah.


"Apa kita tidak pamit dulu pada Eko?" tanyanya pelan.


"Tidak usah... mungkin dia sudah tidur," jawab Prima sambil lalu.


Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul satu lewat malam itu, saat Wida tiba dirumahnya. Prima yang menurunkannya tidak jauh dari rumahnya, langsung pulang setelah melihatnya masuk kedalam pagar. Tidak pernah ia pulang selarut ini sebelumnya. Dan untung saja, ibunya masih terlelap di kamar tidurnya.


Dihempaskannya tubuhnya diatas kasurnya yang empuk, begitu ia tiba di kamarnya. Dengan sikap tubuhnya yang terlentang dan wajah mengahadap ke langit-langit kamarnya, ia menerawang. Pikirannya penuh dengan kejadian saat di rumah Eko. Satu persatu, apa yang mereka lakukan di sana terbayang di matanya. Perdebatannya dengan Prima, sampai saat Prima menyentuh tubuhnya yang sensitif. Ia tidak menyangka kalau dirinya akan membiarkan Prima melakukan itu. Apa karena mereka akan berpisah? Hhhhh... Wida mendesah pelan.

__ADS_1


Seperti Wida, Prima juga langsung masuk kekamarnya saat tiba di rumahnya. Semua penghuni rumah sepertinya sudah terlelap, kecuali mbok Uti yang masih menunggunya dan menyambut kedatangannya. Baru saja ia duduk di pinggir ranjangnya yang empuk sambil membuka jam tangannya, terdengar ketukkan di pintu kamarnya dan suara mbok Uti yang meminta ijin untuk masuk.


"Masuklah mbok," kata Prima mengijinkan mbok Uti.


Pintu kamar terbuka, dan masuklah mbok Uti dengan nampan berisi susu dan roti lapis di atasnya.


"Dari mana sih, Den? Kok pulangnya malam benar?" tanya mbok Uti sambil meletakkan bawaannya di meja nakas.


"Jangan bilang-bilang mamih papih kalau aku pulang malam, ya mbok.." kata Prima tanpa menjawab pertanyaan mbok Uti.


Mbok Uti hanya tersenyum menanggapi perkataan tuan mudanya.


"Mbok keluar ya, Den," katanya dan kemudian ia pun berlalu keluar kamar.


Setelah melepas segala atribut yang dipakainya, Prima merebahkan tubuhnya. Pikirannya yang sumpek menerawang pada kejadian saat dirumah Eko. Entah setan apa yang selalu membuatnya lupa diri bila ia berada di dekat Wida. Bukan sekali ia memiliki hasrat seperti itu pada kekasihnya itu. Dikamarnya ini pun ia pernah menggila juga saat hanya berdua dengan Wida. Untung saja tadi ada sahabatnya yang mengingatkannya, walau ia merasa sedikit kesal karenanya. Hhh... desahnya, sepertinya ia memang tidak bisa lepas dari Wida...


Sarapan pagi di keluarga Prima terasa harmonis. Semua anggota keluarga hadir diruang makan, termasuk Prima, yang memang sudah ada lebih dulu disana daripada yang lain.


"Tumben Kak, sudah nongol. Biasanya harus di gebrak dulu, baru turun," celetuk Dewi disela suara sendok dan garpu di piringnya.


Ayah dan Ibu Prima menoleh kearah Prima berbarengan. Sepertinya mereka ingin melihat reaksi putranya atas ucapan adiknya itu.


Prima mendesah pelan.


"Iya.. karena ada yang mau Kakak sampaikan pada Papih dan Mamih," kata Prima sambil melihat ke arah kedua orang tuanya.


Spontan ayah Prima meletakkan sendok dan garpu yang ada di tangannya ke piring, setelah mendengar perkataan Prima.


"Kalau kau mau membahas masalah kuliahmu, Papih tidak mau dengar. Keputusan Papih dan Mamih sudah bulat. Kau berangkat lusa dengan Nina ke Jogja!"

__ADS_1


__ADS_2