Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LXXXIV : Lagi-Lagi... Maafkan Aku...


__ADS_3

Pagi itu Wida mendengar suara motor berhenti didepan rumah. Dengan antusias ia berlari keruang tamu. Di intipnya dari balik jendela, siapa yang datang dan membuka pintu pagar.


Wajah yang tadi tampak senang, kini berubah menjadi tak bersemangat, saat tahu bahwa yang datang bukanlah orang yang diharapkannya. Dengan enggan ia kembali kekamar.


Ibu yang papasan dengannya saat akan kembali ke kamar bingung melihat wajah Wida yang muram.


Terdengar suara seseorang memberi salam dari balik pintu. Ibu yang sudah hapal suara Soni, segera berjalan ke arah pintu dengan wajah ceria. Dibukanya pintu dengan senyum mengembang di wajahnya.


Soni yang disambut langsung membungkuk hormat dan mencium tangan ibu.


"Tunggu, ya... Ibu panggil Wida," kata Ibu dengan ramah.


Wida yang terduduk di pinggir kasur terlihat galau. Matanya melihat kesana kemari karena bingung. Bagaimana ini, batinnya, mengapa Soni yang datang lebih pagi... bukankah Prima janji padanya bahwa ia akan datang lebih pagi dari Soni agar mereka bisa berangkat bersama?


Wida meraih ponselnya. Di hubunginya nomor Prima dengan cepat. Nada tunggu pun berbunyi... dan akhirnya terhuhung!

__ADS_1


"Kamu dimana?" tanpa basa-basi lagi Wida langsung bertanya begitu nada tunggu berhenti.


Cukup lama tak ada jawaban. Wida yang tak ingin berangkat bareng Soni, tak sabar menunggu jawaban Prima.


"Halo Prima! Bagaimana ini... Soni sudah datang untuk menjemputku!"


"Ya sudah..." jawab Prima terdengar tak bersemangat, "Kau berangkat saja dengan Soni. Aku akan menunggumu disekolah..."


"Apa?" Wida terkejut dengan keputusan Prima. "Kau ini bagaimana? Bukankah kau janji akan menjemputku?"


"Maafkan aku..." tuuut... terdengar nada putus berbunyi.


Mengapa ia menyuruhku berangkat dengan Soni? Batinnya. Bukankah dengan begitu berarti ia menyerahkan dirinya pada Soni? Kenapa tidak bilang saja agar ia naik angkot? Kenapa...? Aah.. ia sungguh tidak mengerti apa maksud Prima. Apakah ini berarti Prima menyerah pada Soni?


Prima mematikan ponselnya. Ternyata saat ia menerima panggilan dari Wida, ia berada didepan rumah Nina. Ia sedang menjemput Nina.

__ADS_1


Kemarin, saat Nina marah, ternyata ibu Nina datang dari arah dapur. Tanpa tahu apa yang terjadi dan hanya mendengar perkataan terakhir yang keluar dari mulut Nina, ibu langsung tersenyum senang.


"Tentu saja Prima mencemaskanmu," katanya yang datang sambil membawa minuman untuk Prima.


"Kalian sudah saling kenal dari kecil, dekat dan akrab. Bagaimana tidak mencemaskan satu sama lain bila ada yang sakit?" Ibu Nina duduk didepan Nina dan Prima sambil meletakkan nampan yang di bawanya dimeja.


"Duduklah," katanya pada Nina yang masih berdiri.


Nina duduk dengan wajah yang masih tampak kesal. Ibu yang melihatnya tersenyum. Prima yang terkejut dengan kedatangan Ibu Nina, hanya melirik kearah Nina sekilas.


"Kau tahu kan, kalau Nina suka merajuk? Kalau tidak di bujuk, ngambeknya tidak akan hilang," kata ibu mencoba mendamaikan Nina dan Prima, karena dipikirnya dua insan muda yang ada di hadapannya ini sedang berselisih.


"Biasanya, kalau Nina ngambek, ia tidak akan mau kesekolah. Seperti dulu waktu di SMP, saat ngambek karena ayahnya lupa memberi hadiah saat ulang tahunnya. Kau ingat kan nak Prima?" tanya Ibu Nina yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Prima.


Yah, Prima ingat kejadian itu saat mereka SMP dulu. Sampai-sampai Ibu Nina menelponnya untuk datang, dan membujuk Nina agar mau kesekolah. Dan Prima berhasil membujuknya.

__ADS_1


"Daripada Nina besok tidak kesekolah gara-gara ngambek, makanya kau harus datang untuk menjemputnya, ya?" pinta Ibu Nina.


Dan inilah akhirnya. Ia terdampar didepan rumah Nina dan harus merelakan Wida berangkat dengan Soni, guna menepati janjinya pada Ibu Nina. Walau sebenarnya ia tak rela...


__ADS_2