Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LXIV : Bukan Salah Paham... Lagi...


__ADS_3

Dan Prima memang menunggu Wida di ujung gang rumahnya. Cukup lama ia menunggu. Diambilnya ponsel dari dalam tasnya. Ia melakukan panggilan ke nomor Wida. Berdering. Lama.. Dan tidak di angkat. Prima menghela napas. Ada apa dengan Wida? Pikirnya. Tidak biasanya ia begini.. apa dia sakit? Atau.. Ingin sekali ia kerumah Wida. Namun Wida pernah melarangnya untuk tidak kerumahnya dulu sementara ini. Karena katanya, Ibunya marah padanya karena masalah bolos dulu.


Waktupun berlalu. Prima tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Setelah ia menulis beberapa pesan untuk Wida, ia pun pergi dengan motornya menuju sekolah.


Soni dan Wida sampai disekolah dengan cepat. Jam masuk pun masih lama. Saat Soni memarkirkan motornya Wida berlari meninggalkan Soni menuju kelasnya. Soni yang melihatnya hanya menghela napas pelan. Tanpa menyadari ada beberapa pasang mata yang heran melihatnya datang kesekolah bersama Wida.


Sesampainya di kelas Wida langsung duduk dikursinya. Diambilnya ponsel dari dalam tasnya. Dilihatnya ada panggilan dari Prima disitu, dan beberapa pesan.


'Hai..'


'Kok lama, aku sudah sampai'


'Cepatlah'


'Wida.. aku tinggal, ya'


'Telepon aku'


Wida menghela napas sedih. Apa yang aku katakan nanti bila Prima bertanya? Batinnya.


Asti yang baru datang, heran melihat Wida yang tampak galau.

__ADS_1


"Hai.." sapanya, "tumben dah sampai." Dilihatnya ponsel di tangan Wida. "Tidak kau titip ponselmu di guru piket? Ketahuan, orang tuamu di panggil loh."


Wida hanya terdiam.


Soni menoleh kekelas Wida saat ia melewatinya. Dilihatnya Wida yang duduk di pojok kelas sedang melihat ponselnya. Mungkin melihat panggilan yang tadi didengarnya saat di motor. Dan itu pasti dari Prima, batinnya. Sebenarnya ia kecewa dengan sikap Wida yang kabur darinya tadi. Yang tanpa mengatakan apa-apa meninggalkannya. Tapi mau apalagi, memang ia yang mungkin agak 'memaksa' Wida untuk mau berangkat dengannya. Dan dengan ada sedikit rasa cemburu, ia pun menuju kekelasnya.


Bel berbunyi tepat saat Prima sampai didepan gerbang sekolah. Ia pun berlari menuju kelasnya. Dan menoleh sekilas saat lewat didepan kelas Wida, untuk memastikan bahwa pacarnya sudah hadir disekolah. Bibirnya tersenyum kecil saat dilihatnya Wida ada di bangkunya.


Eko menyambut Prima dengan senyumnya.


"Aku pikir kau tidak masuk.." katanya begitu Prima duduk disebelahnya.


"Tidak.." jawab Eko kalem.


Eko yang melihat Soni dan Wida diparkiran motor tadi, sebenarnya ingin bertanya pada Prima, mengapa bukan dirinya yang bersama Wida. Tapi Eko merasa bahwa Prima tidak mengetahui hal tersebut dari tenangnya paras wajah Prima.


"Kau.. tidak sedang bertengkar kan, dengan Wida?" tanya Eko akhirnya. Sepertinya ia tidak dapat menahan rasa ingin tahunya. Prima yang merasa janggal dengan pertanyaan sobatnya itu, langsung menoleh dan menatap Eko penuh selidik.


"Ada apa?" Prima balik bertanya. "Apa ada sesuatu?"


Eko mendesah. "Bukan begitu... hanya saja.."

__ADS_1


"Hanya saja, apa?" Prima penasaran dengan perkataan Eko yang menggantung.


"Tidak ah... " Eko mengurungkan niatnya membuat Prima makin penasaran.


"Hei!" seru Prima kesal dengan sikap Eko. Eko menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia menatap Prima lekat. "Kamu janji ya.. jangan emosi.." katanya pelan. Prima mengerutkan alisnya. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Eko. "Iya," jawabnya.


"Tadi... aku lihat... sepertinya Wida bareng Soni kesekolah... dengan motor Soni.." kata Eko dengan nada bicara lambat. Matanya mengawasi ekspresi wajah Prima. Dan benar saja... wajah Prima menegang. Secepat kilat ia menoleh ke arah Soni yang duduk di barisan sebelahnya.


Eko langsung memegang tangan Prima.


"Kau sudah janji tidak akan emosi tadi," Eko memperingatkan. Tulang pipi Prima terlihat mengeras. Sepertinya ia sedang menahan emosinya.


"Jangan sampai kau salah paham lagi dengan Soni," kata Eko mengingatkan masalah yang baru selesai kemarin. "Tanyakan Wida, apa sebenarnya yang terjadi."


Prima menghela napas karena kesal.


"Tapi aku yakin, kali ini bukan salah paham!" kata Prima tanpa melihat kearah Eko, karena pandangannya tak lepas dari Soni.


Soni yang merasa ada yang mengawasinya, menoleh kearah Prima. Dan ternyata benar apa yang dirasakannya. Mata Prima menatap tajam kearahnya. Soni membalas tatapan Prima. Sekian detik mereka saling tatap. Dari tatapan Prima, Soni menduga bahwa Prima mungkin sudah tahu, kalau Wida berangkat dengannya tadi. Untunglah pak Bram masuk kekelas untuk memulai pelajaran. Jika tidak, mungkin pertikaian antara dirinya dan Prima mungkin akan terulang kembali.


Eko bernapas lega saat di lihatnya pak Bram yang masuk kekelas. Karena sepertinya, Prima sudah hampir berdiri untuk mendekati Soni. Ditepuknya bahu sahabatnya itu. Untuk menghilangkan emosi Prima, dan mengingatkan bahwa guru mereka sudah datang.

__ADS_1


__ADS_2