
Prima yang tiba-tiba mendapat pelukan dari seorang gadis yang keluar dari dalam rumahnya, terkejut sesat. Namun saat dia tahu siapa yang memeluknya, ia pun ikut memeluk gadis itu erat, tanpa sadar bila ada Wida yang sedang memperhatikannya dengan pandangan bingung.
Dan saat gadis itu melepas pelukkannya dan bertanya siapa Wida, barulah Prima tersadar.
"Oh iya..." katanya sambil tersenyum dan menarik tangan Wida agar mendekat, "kenalkan, ini pacar kakak, Wida namanya."
Wida dengan senyum canggung mengulurkan tangannya, yang langsung di sambut dengan ramah oleh gadis itu.
"Aku pikir, kak Nina pacar kakak..." ceplos Dewi setelah bersalaman dengan Wida, membuat Wida terperanjat karena rupanya Dewi tahu tentang Nina.
Namun Wida tersadar... pastilah ia tahu, batin Wida, bukankah Prima dan Nina kenal sejak mereka kecil? Dan pastilah seluruh keluarga Prima juga mengenal Nina.
"Jangan ngaco kamu," kata Prima sambil menjitak adiknya lagi, "kakak tidak pernah menganggap kak Nina sebagai pacar."
Prima melirik ke arah Wida.
"Ini adikku Wid, Dewi..." kata Prima memperkenalkan adiknya pada Wida.
"Jangan dianggap serius omongannya. Ia memang suka ceplas-ceplos."
Wida hanya tersenyum mendengar perkataan Prima. Ada kelegaan di pandangan matanya. Yah, lega... karena ternyata gadis itu adik Prima. Hampir saja ia berpikiran yang macam-macam, karena ia tidak menyangka bahwa adik Prima adalah seorang gadis yang cantik.
"Aku pernah cerita kan, kalau adik dan orang tuaku ada di Jogja," Prima mengingatkan Wida.
"Iya," jawab Wida sambil mengangguk. "Tapi aku tidak menyangka kalau adikmu sudah sebesar ini, dan cantik pula."
Prima tertawa.
__ADS_1
"Kenapa? Kau tidak berpikir yang macam-macam, kan?"
Wajah Wida yang memerah seakan membenarkan dugaan Prima. Dan Prima kembali tertawa melihatnya.
"Bodoh," katanya lembut sambil mengacak-acak rambut Wida.
Dewi yang melihat sikap kakaknya pada Wida hanya tersenyum. Ia dapat melihat sepertinya kakaknya itu sangat menyayangi Wida.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Prima beralih kembali ke adiknya. "Apa mamih dan papih ikut kesini juga?"
Rupanya Prima memanggil orang tuanya dengan sebutan papih dan mamih.
Dewi mengangguk.
"Sepertinya aku akan pindah sekolah disini, kak. Mamih ada didalam, tapi papih sedang keluar untuk memeriksa cabang yang ada disini."
Prima mengangguk menanggapi perkataan Dewi.
Prima masuk kedalam sambil menggandeng adiknya, dan dengan tangan yang satunya lagi, ia memegang tangan Wida.
Saat tiba di ruang tamu, sekali lagi Wida dan Prima terkejut. Karena mereka melihat Nina tengah duduk di sofa bersama seorang wanita paruh baya yang berpenampilan anggun.
Wida menduga bahwa wanita itu pastilah ibu Prima. Tapi... mengapa ada Nina disana? Perlahan Wida melepaskan tangannya dari pegangan tangan Prima.
Tidak berbeda dengan Wida, Prima juga bertanya-tanya dalam hati, kenapa Nina ada di sana bersama ibunya. Prima merasakan saat Wida melepaskan tangannya dari pegangannya. Namun ia membiarkannya. Ia lalu melepaskan gandengannya pada Dewi, dan berjalan perlahan mendekati ibunya.
"Mamih," sapanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kapan mamih sampai?" Prima memeluk ibunya, yang disambut hangat oleh ibunya. Lalu Prima mengecup pipi ibunya dengan sayang.
Wida yang melihat sikap Prima pada ibunya, bisa mengetahui bahwa Prima cukup dekat dengan ibunya.
Setelah memeluk ibunya, Prima menyapa Nina.
"Hai, Nin, sudah dari tadi?"
Nina mengangguk sambil tersenyum manis.
"Iya," jawabnya singkat.
Ibu Prima menatap wajah Prima dengan penuh kerinduan.
"Mamih sampai disini jam sembilan tadi," jawabnya lembut. Lalu matanya beralih melihat kearah Wida.
"Siapa dia?"
Prima menoleh ke arah Wida. Lalu menganggukkan kepalanya sebagai tanda panggilan agar Wida mendekat.
Wida yang mengerti anggukan Prima, berjalan perlahan mendekati Prima. Dengan sopan Wida membungkuk lalu menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan ibu Prima.
Ibu Prima pun menyambut tangan Wida. Dan ia tersenyum saat Wida mencium tangannya dengan sopan.
Nina yang melihat adegan itu tersenyum sinis. Pandangan matanya tak dapat menyembunyikan rasa tidak sukanya dengan sikap Wida.
"Ini Wida, Mih," kata Prima memperkenalkan setelah Wida salaman dengan ibunya.
__ADS_1
"Pacar kak Prima, Mih!" celetuk Dewi tiba-tiba sambil berjalan menghampiri dan kemudian duduk di sebelah ibunya.
"Cantik, ya?"