
Prima memakaikan helm kekepala Wida. Wida hanya memandang Prima dengan rasa kesalnya. Rupanya ia masih marah dengan candaan Prima.
"Kenapa?" tanya Prima sambil mencubit pipi Wida gemas, "kau masih marah?"
"Aku tidak suka candamu," kata Wida merajuk.
"Tenang saja... Dewi bukan pengadu. Lagian kalau ia mengadu juga tidak apa. Jadi mamihku tahu betapa aku sayang padamu."
Prima sudah siap di atas vespanya, di ikuti Wida yang duduk di belakangnya. Dan motor pun akhirnya melaju keluar dari rumah Prima.
Prima tidak langsung mengantar Wida pulang. Ia mengajak Wida makan disebuah rumah makan yang cukup jauh dari rumahnya.
Setelah memesan makanan, mereka memilih tempat duduk yang berada di pojok restoran. Prima menyuruh Wida untuk duduk disampingnya. Tapi karena Wida masih merasa kesal, ia memilih duduk di hadapan Prima.
"Sepertinya Nina akrab dengan ibumu," kata Wida memulai percakapan sambil menunggu pesanan.
Prima menyandarkan tubuhnya kekursi. Ditatapnya Wida yang duduk dihadapannya.
"Mamihku selalu akrab dengan semua temanku, tidak hanya dengan Nina saja. Apalagi dengan Eko. Saking akrabnya mereka, terkadang aku sampai bingung, sebenarnya aku atau Eko anaknya. Jadi kau tidak usah memikirkan kedekatan Nina dengan mamihku. Kalau kau nanti sering bersamanya, kau juga akan akrab dengannya" kata Prima panjang lebar.
Prima sengaja menceritakan betapa akrabnya ibunya dengan teman-temannya. Ia tidak ingin Wida merasa rendah diri karena kedekatan Nina dengan ibunya.
__ADS_1
Wida yang mendengarnya hanya terdiam. Tapi tetap saja rasanya berbeda, pikir Wida. Aah... entahlah... yang penting baginya sekarang adalah perasaan Prima padanya. Bukankah Prima sudah berkali-kali mengatakan kalau ia sayang padanya? Jadi apa yang ia cemaskan?
"Oh iya, katanya kau akan menunjukkan sesuatu padaku, dirumahmu. Apa itu?" tanya Wida saat ingat tujuan Prima membawanya kerumahnya.
Prima tersenyum.
"Maaf... aku lupa," jawab Prima. Bukannya lupa sih... tapi memang tidak ada yang akan ia tunjukkan pada Wida, pikirnya.
"Mungkin lain kali aku akan menunjukkannya padamu."
Setelah selesai makan Prima mengajak Wida berkeliling dengan motornya. Saat ditengah jalan entah mengapa Wida merasakan sakit di bagian perutnya.
Prima bingung, dan menepikan motornya lalu berhenti.
"Apa harus sekarang?"
Wida mengangguk sambil meringis.
Mata Prima berkeliling mencari tempat yang ada toiket umumnya. Dimana ia harus mencari toilet umum? Pikirnya. Sedangkan mini market atau pom bensin yang terdekat tidak ada disekitar jalan itu.
Tiba-tiba Prima melihat penginapan yang berada tidak jauh darinya. Dan dengan segera ia membawa motornya menuju kesana.
__ADS_1
"Tunggu!" kata Wida tiba-tiba saat mereka sudah sampai di depan penginapan.
"Mengapa kesini?"
Prima menghentikan motornya kembali.
"Bukankah kau sudah tidak tahan?"
"Iya... tapi tidak disini juga, kali," tolak Wida, merasa malu.
"Bagaimana kalau ada yang melihatnya? Nanti dipikirnya kita mau macam-macam lagi."
"Mau dimana lagi? Di sini yang terdekat. Lagian siapa yang akan melihat kita," kata Prima bersikeras.
Tiba-tiba Wida meringis kembali merasakan sakit di perutnya.
"Tuh, lihat! Apa kau masih bisa tahan sampai rumah? Kita hanya numpang ke toilet, kok. Bukan mau ngapa-ngapin," kata Prima, yang akhirnya menjalankan kembali motornya untuk masuk ke dalam penginapan.
Wida yang dengan wajah menunduk, akhirnya mau tidak mau menuruti ajakan Prima. Lagi pula ia benar-benar memang sudah tidak tahan lagi.
Namun tanpa Prima dan Wida sadari, dari seberang penginapan, ada sepasang mata yang melihat mereka masuk ke dalam penginapan. Dan mengabadikannya melalui ponsel yang ada ditangannya...
__ADS_1