Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LVIII : Hukuman..


__ADS_3

Suasana kelas Wida tampak hening. Anak-anak sedang mencatat tugas yang diberikan oleh guru. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kelas yang ternyata Eko. Guru yang sedang mengajar mempersilahkan Eko masuk. "Ada apa?" tanyanya. "Di suruh panggil Wida Bu sama pak Anton, untuk kekantor ", kata Eko dengan sopan. Wida yang mendengar namanya disebut langsung melihat kedepan kelas. "Wida!" panggil gurunya. "Ya, Bu", jawab Wida yang kemudian berdiri dan menghampiri gurunya. Asti yang mau bertanya mengurungkan niatnya, dan hanya melihat Wida yang berjalan kedepan kelas.


Sebenarnya dari awal Wida masuk kekelasnya, hatinya sudah merasa was-was. Ia merasa bahwa teman-temannya sedang kasak-kusuk membicarakannya. Dan ia pun tak luput dari Asti yang selalu cerewet bila ia melakukan kesalahan. Betapa terkejutnya ia saat tahu bahwa bukan Sonilah yang mengadukannya. Melainkan pak Anton, wali kelasnya sekaligus guru konseling. Dan sekarang kecemasannya bertambah saat Eko masuk kekelasnya dan mengatakan kalau ia di panggil pak Anton.


"Ada apa, Bu?" tanyanya begitu sampai dihadapan gurunya. "Kau di panggil pak Anton ke kantor", jawab gurunya, "pergilah.." "Baik Bu", kata Wida. Ia pun pamit, begitu juga dengan Eko. Mereka berjalan beriringan menuju kantor.

__ADS_1


Selama perjalanan menuju ke kantor, Wida dan Eko tidak banyak bicara. Eko merasa dirinya tidak perlu ikut campur dalam urusan asmara antara Wida dan Prima. Wida yang pikirannya sedang ruwet karena masalah bolos kemarin, juga merasa enggan untuk bicara.


Akhirnya mereka sampai didepan pintu kantor. Eko mengetuk pintu dengan pelan, dan kemudian masuk kedalam bersama Wida. Mata Wida sempat berpapasan dengan Prima. Kemudian berpindah alih menatap Soni. Kenapa ada Soni disini? pikirnya, bukankah kata Asti bukan ia yang mengadukannya? Wida mengucapkan salam ke pak Anton dan bu Shinta, "Pagi bu.. pak.." katanya sambil mengangguk hormat. Ia berdiri di samping Prima.


"Kamu tahu kenapa di panggil kesini?" tanya pak Anton pada Wida. Wida sebenarnya tahu, tapi ia malu untuk mengakuinya. Dan akhirnya ia hanya terdiam saja. "Kalian berdua boleh kembali kekelas!" kata bu Shinta pada Eko dan Soni. "Soni.." panggil bu Shinta, "jangan sampai berkelahi lagi, ya.." Soni hanya mengangguk, lalu mengikuti Eko keluar ruangan.

__ADS_1


Braak!! Prima dan Wida terkejut karena tiba-tiba pak Anton menggebrak meja. Wida yang memang belum pernah di panggil guru karena melakukan kesalahan, merasa amat ketakutan. Tangannya mengepal dengan kencang agar tidak bergetar. Prima yang tampak lebih tenang melirik ke tangan Wida yang mengepal. Ingin rasanya ia menggenggam tangan itu untuk menenangkannya.


"Sekolah tidak melarang siswanya untuk berpacaran", kata pak Anton setelah dilihatnya kedua muridnya itu hanya terdiam, "karena kalian sudah memasuki usia untuk masa itu. Dilarang pun kalian pasti akan melakukannya diam-diam. Tapi bila sudah mengganggu pelajaran kalian, itu akan merugikan kalian. Apalagi sampai membolos. Kalian sudah kelas tiga, fokuskan untuk kelulusan kalian." Pak Anton memberi nasihat panjang lebar. Bu Shinta menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan pak Anton.


"Sudah berapa kali Prima membolos, bu Shinta?" tanya pak Anton pada bu Shinta. "Kayanya baru kali ini", jawab bu Shinta singkat. "Wida juga baru kali ini.." lanjut pak Anton, "jadi sepertinya orang tua tidak perlu di hubungi dahulu. Walau ibunya Wida sudah tahu. Tapi bila terulang lagi, kami terpaksa menghubungi orang tua kalian. Mengerti?" Wida dan Prima mengangguk berbarengan tanda mengerti. Wida merasa lega, terlihat dari kepalan tangannya yang mengendur. Prima pun menghela napas pelan, karena merasa lega bahwa orang tuanya tidak perlu tahu.

__ADS_1


"Kalian jangan senang dulu", bu Shinta buka suara, "jangan kalian pikir kalian bebas begitu saja. Nanti sepulang sekolah kalian bersihkan taman belakang sekolah dan toilet. Dan juga buat kertas pernyataan bahwa kalian tidak akan bolos lagi. Itu hukuman kalian."


"Iya, bu.." jawab keduanya berbarengan.


__ADS_2