Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CLXXXII : Kau Simpan Saja Sendiri...


__ADS_3

Sebenarnya hati Prima masih kesal dan tidak bisa menerima kalau Ryan menemui kekasihnya itu. Walau Wida sudah mengatakan kata maaf padanya, tetap saja rasanya masih ada yang menggantung di hatinya, kalau ia tidak menanyakan apa yang telah mereka lakukan di belakang kelas Wida tadi pagi.


Namun saat Wida menjelaskan apa yang terjadi dengan emosinya yang meledak-ledak, malah membuat dirinya merasa gemas ketika melihat bibir Wida yang bergerak-gerak saat berbicara.


Dan saat ia menangkap tangan Wida yang sedang memukulnya dengan bantal, ia langsung mengambil kesempatan untuk mengecup bibir kekasihnya itu. Dan kini, bibir mungil yang tampak menggemaskannya itu telah berada dalam perangkapnya. Tanpa memberi kesempatan pada Wida untuk melepaskan bibirnya, ia mengecupi bibir itu tanpa henti.


Wida yang tidak menyangka dengan gerakkan Prima yang cepat dan tiba-tiba itu, akhirnya hanya pasrah, setelah usahanya yang gagal untuk melepaskan bibirnya dari perangkap bibir Prima. Dan dengan perlahan, akhirnya ia terbuai oleh sentuhan bibir Prima.


"Ehem..!"


Tiba-tiba sebuah suara mendehem mengejutkan mereka. Dan ciuman membara mereka terhenti seketika. Dengan reflek Wida mendorong tubuh Prima dengan keras, membuat Prima hampir terjengkang.


Tanpa mereka sadari, rupanya Eko dan Asti telah kembali dari dapur. Melihat pemandangan yang sedikit 'panas' itu, membuat Eko mendehem untuk mengingatkan kalau ada yang lain di ruangan itu.


"Wah.. gak boleh di tinggal sebentar ya kayanya.." goda Eko sambil melirik Prima.


Prima hanya tersenyum nakal mendengar perkataan Eko. Sedangkan Wida, yang tampak memerah wajahnya hanya terdiam. Lalu untuk menutupi kecanggungannya ia berdiri menyambut nampan berisi minuman yang di bawa Asti.


Dan tak lama akhirnya mereka asik mengobrol sambil menonton film.


"Senin depan kita akan ujian.." kata Eko ditengah obrolan. "Kau yakin akan kuliah di Jogja jika kita lulus nanti?"


Prima menatap Eko.


"Kenapa kau bahas itu?" tanya Prima yang tampak tidak suka jika Eko membahas tentang kuliahnya nanti. Di liriknya Wida yang tampak berubah wajahnya saat mendengarnya.


"Yaah.. Tidak apa-apa sih. Hanya saja, bagaimana hubungan kalian bila kalian terpisah begitu."


Prima mendesah pelan. Ditatapnya Eko dengan pandangan kesal, karena sepertinya Eko tidak paham kalau ia tidak ingin membahasnya di depan Wida.


"Tidak ada hubungannya kuliahku dengan hubungan kami. Lagian, belum tentu juga aku akan ke Jogja," kata Prima dengan ketus.


Mendengar nada bicara Prima yang sepertinya agak kesal, membuat Eko tersadar kalau sahabatnya itu tidak ingin membahas tentang rencana kuliahnya di Jogja.


"Yah... Baguslah kalau itu belum pasti.. Semoga saja kau tetap kuliah disini.."


Namun ternyata harapan Prima untuk kuliah bersama Wida telah kandas. Saat ia pulang ke rumahnya, ayahnya langsung menyuruhnya untuk menemuinya di ruang kerjanya.


"Ada apa, Pih?" tanyanya begitu ia sudah berada diruang kerja ayahnya.


Ayah Prima tersenyum saat melihat anaknya yang sedang melangkah memasuki ruangannya.


"Kau sudah datang.." sapanya begitu Prima berdiri di seberang mejanya.


Prima mengangguk.


"Kata Dewi, Papih mencariku. Ada apa?"


"Papih sudah meminta Om Januar, untuk menjagamu saat di Jogja nanti. Dan juga sekaligus untuk membantumu masuk ke Universitas Negeri disana," kata ayah Prima santai langsung membahas permasalahannya.


Prima terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka ayahnya telah bertindak tanpa sepengetahuannya.


"Tapi, Pih... Aku belum mengatakan setuju untuk kuliah disana," katanya menolak.

__ADS_1


"Hei... Kau kan sudah janji akan menuruti permintaan Papih, untuk kuliah disana. Kau tidak bisa menolaknya," kata ayah Prima sambil bersandar.


Prima terdiam. Wajahnya langsung terlihat serius mengingat janji yang telah di ucapkannya saat meminta ayahnya untuk membantu menangani masalah Wida.


"Kau jangan khawatir, kau tidak akan kuliah sendiri disana. Nina juga akan kuliah disana. Mamihmu bilang, orang tua Nina juga akan mengirim Nina kesana," kata ayah Prima lagi yang langsung membuat Prima terperanjat...


Musim ujian pun berlalu tanpa terasa. Anak-anak kelas tiga SMA Jaya bisa bernafas lega karenanya. Dan saat kelulusan yang di nanti-nantikan akhirnya datang. Rupanya tradisi corat-mencoret baju ternyata masih berlaku, walau sekolah telah melarang keras mereka.


Asti dan Wida tampak saling bertukar tanda tangan di baju mereka. Begitu pula dengan siswa lainnya. Tampak Eko dan Prima datang menghampiri.


"Hei... Sisakan tempat untukku!" kata Eko sambil menghampiri Asti, lalu membubuhkan namanya di baju Asti. Asti hanya tersenyum geli saat spidol Eko bermain di punggungnya. Prima juga ikut membubuhkan namanya disana.


"Sekarang kamu, Wida!" kata Eko beralih ke Wida. Wida pun menyerahkan punggungnya pada Eko. Begitu pula sebaliknya, Eko merelakan punggung dan dadanya untuk di coret-coret oleh Wida dan Asti.


Prima dan Wida saling berhadapan dengan spidol di tangan kanannya masing-masing.


"Kau mau aku coret disebelah mana? Atas atau bawah?" goda Prima sambil melihat kearah dada dan perut Wida.


Wida hanya tersenyum simpul mendengar godaan Prima.


"Memangnya kau mau yang mana?" balas Wida dengan senyum menggoda.


Prima tersenyum nakal.


"Atas kalau boleh.." kata Prima sambil mengangkat tangan kanannya siap membubuhkan namanya didada Wida.


Namun Wida dengan sigap memberikan bahunya pada Prima.


Dengan bibir manyun Prima akhirnya membubuhkan tanda tangannya di bahu Wida. Lalu dengan jahil ia pun mencoret pipi Wida dengan membuat gambar hati. Keduanya pun tertawa ceria.


"Aku boleh tanda tangan di bajumu, Wida?" tanya sebuah suara yang membuat Wida dan Prima menoleh bersamaan. Ternyata Nina, yang tiba-tiba saja sudah berada tidak jauh dari mereka.


Prima menurunkan tangannya yang habis menggambari pipi Wida. Ia memberi jalan pada Nina yang datang mendekati Wida.


"Tentu boleh, kenapa tidak?" kata Wida sedikit kaku. Lalu ia membalikkan tubuhnya, untuk memberikan punggungnya pada Nina.


Nina mulai menuliskan namanya palan-pelan di punggung baju Wida.


"Apa kau tahu, kalau aku dan Prima akan kuliah bersama di Jogja?" kata Nina pelan di dekat telinga Wida.


Mata Wida terbuka lebar seketika saat mendengarnya. Reflek ia melihat ke arah Prima yang sedang di kerubungi teman-temannya untuk di coret bajunya. Dibuatnya dirinya setenang mungkin saat Nina selesai menulis dan berdiri dihadapannya. Karena ia tahu, sepertinya Nina memang sengaja mengatakannya.


"Oh ya... Aku baru tahu.." katanya sambil menatap mata Nina.


Senyum kemenangan tersirat di bibir Nina. Ia merasa kali ini ia akan bisa mengungguli Wida.


"Kau tidak apa-apakan kalau kami kuliah bersama?"


Wida terdiam. Entah mengapa ia merasa muak melihat senyum Nina yang sepertinya sedang mengejeknya itu.


"Memangnya aku kenapa? Tidak masalah bagiku, Prima kuliah dengan siapa," kata Wida sambil menutup spidolnya lalu berjalan meninggalkan Nina.


Senyum Nina semakin melebar saat Wida berlalu meninggalkannya. Hatinya merasa puas mendengar ada sedikit nada kecewa dari suara Wida.

__ADS_1


Prima yang melihat kekasihnya berlalu begitu saja tanpa mengajaknya, segera berlari mengejarnya melewati Nina yang masih tersenyum sinis.


"Wida! Tunggu!" serunya setelah berhasil mengejar Wida dan meraih tangannya. "Ada apa? Kenapa kau pergi begitu saja?"


Wida yang terhenti, menatap Prima yang berdiri menghadangnya dengan kesal.


"Kau bilang, kuliahmu di Jogja belum pasti. Tapi kenapa Nina mengatakan kalau kalian akan kuliah bersama di sana?"


Prima tampak terperanjat mendengarnya. Ia tidak menyangka kalau Nina ternyata memang sengaja mendekati Wida, untuk mengatakan hal yang tak perlu itu.


"Aku... Aku juga baru tahu..." kata Prima pelan. "Aku berniat akan memberitahumu nanti.."


"Wida!" seseorang memanggil Wida dan membuatnya menoleh.


Tampak Soni datang menghampiri Wida dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Boleh aku minta tanda tanganmu di bajuku?" katanya tanpa mempedulikan Prima yang berdiri di dekat Wida.


Prima yang merasa terganggu dengan kedatangan Soni, menatapnya kesal.


"Mau apa kau kemari?" tanyanya ketus.


Soni menoleh ke arah Prima.


"Apa kau tidak dengar, kalau aku mau minta tanda tangan Wida?" jawabnya tak kalah ketus.


Lalu ia kembali menatap Wida.


"Bolehkan?"


Wida tersenyum dan mengangguk. Di bukanya tutup spidolnya.


"Dimana?" tanyanya pelan.


"Disini.." kata Soni menunjuk dada kirinya.


Wida mendekat. Dengan hati-hati ia membubuhkan tanda tangannya di tempat yang di tunjuk Soni.


Soni memandangi wajah Wida yang kini begitu dekat dengan wajahnya, tanpa berkedip. Saat spidol Wida menari didadanya, ia merasa ada yang mendesir di hatinya, membuat senyumnya semakin tak lepas dari wajahnya.


Dan ternyata itu semua tidak luput dari mata Prima. Prima yang pencemburu melihat adegan di depan matanya dengan kesal. Ingin sekali ia menarik Wida agar menjauh dari Soni. Namun apa daya, saat itu adalah hari dimana para siswa saling bertukar nama di baju sekolah mereka. Maka tak etis bila Prima melakukan itu.


"Sudah.." kata Wida sambil tersenyum saat tanda tangannya selesai. Ia menutup spidolnya


"Oh... Terima kasih, ya," kata Soni sambil melihat hasil coretan Wida.


"Kau juga ingin tanda tanganku?" tanya Soni menawari Wida.


Baru saja Soni membuka spidolnya, Prima yang sedang cemburu, segera menarik tangan Wida untuk menjauh dari rivalnya itu.


"Tidak usah!" katanya dengan nada kesal. "Kau simpan saja untuk dirimu sendiri."


Dan tanpa peduli dengan tatapan Wida yang sepertinya protes dengan sikapnya, Prima kembali menarik tangan Wida dan membawanya pergi dari sana...

__ADS_1


__ADS_2