
Wida keluar dari ruang kantor tanpa bicara sedikit pun. Prima yang berjalan disampingnya pun tidak dilirik sama sekali. Ia pun makin mempercepat langkahnya, dan kemudian akhirnya berlari meninggalkan Prima yang terpaku menatapnya untuk kembali kekelasnya.
Prima mendesah ketika dilihatnya Wida yang berlari kekelasnya. Ia memahami mengapa Wida tidak bicara padanya. Mungkin ia marah, begitulah pikirnya. Akhirnya dengan langkah gontai ia kembali kekelas. Saat masuk kekelasnya, tanpa ia sadari, mata Nina mengawasinya sampai ia duduk. Eko menyambutnya dengan senyuman seorang sahabat. Ia sepertinya mengerti bahwa Prima sedang tidak ingin bicara. Maka ia pun hanya diam dan tidak bertanya apa-apa pada Prima.
Setelah dilihatnya Prima duduk, Nina kembali fokus kebuku yang sedang dibacanya. Namun sepertinya ia tidak benar-benar fokus. Paras wajahnya terlihat tampak kesal. Sepertinya ia tidak terima atas apa yang terjadi pada Prima. Wida.. batinnya, sepertinya Prima berubah banyak karena dirinya. Hheh! Desahnya kesal.
Sifa yang ada disebelahnya menoleh karenanya. "Kenapa?" tanyanya bingung, karena dilihatnya sobatnya itu begitu kesal. Nina tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalannya pelan.
Wida masuk kekelasnya dengan kepala tertunduk, setelah guru mengijinkannya. Ia merasa bahwa semua mata dikelasnya sedang tertuju padanya. Sesampainya di bangku ia langsung duduk, mengabaikan Asti yang sepertinya akan bertanya. Asti pun mengurungkan niatnya. Ia membiarkan Wida yang terlihat tak ingin bicara.
Yah.. pikiran Wida memang sedang berkecamuk. Ia merasa kesal sekaligus malu dengan kejadian ini. Memang waktu bolos dengan Prima rasanya menyenangkan. Bermain seharian tanpa memikirkan apa yang akan terjadi nantinya. Namun imbasnya ternyata benar-benar membuat ia malu. Karena sepertinya satu sekolah tahu, kalau ia tetangkap bolos karena pacaran. Hheh.. dengus Wida kesal.
Jam istirahat tiba. Wida merebahkan kepalanya di meja dengan santai. Dengan posisi kepala yang dimiringkan, ia memperhatikan Asti yang sedang merapikan peralatan tulisnya.
"Kekantin, yuk!" ajak Asti.
__ADS_1
"Tidak, ah.. kau saja," jawab Wida dengan malas.
"Ya udah, nanti aku bawakan batagor ya.." pamit Asti setelah memasukkan tempat pensilnya kedalam tas dan meninggalkan Wida yang galau.
Wida memejamkan matanya. Ia menarik napas lalu menghembuskannya pelan, seakan sedang membuang sesak yang menghimpit dadanya. Dirasakannya ada seseorang yang duduk disebelahnya. Ia mengira Asti yang balik lagi karena lupa sesuatu.
"As.. bawakan aku somay saja.. jangan batagor," katanya tanpa membuka matanya. Bukannya menjawab, orang yang di duganya 'Asti' tiba-tiba memegang tangannya yang tergeletak di samping kepalanya.
Wida membuka matanya. Betapa terkejutnya ia begitu tahu bahwa yang ada disampinya adalah Prima, bukannya Asti. Wida langsung mengangkat kepalanya dan duduk tegak. Ditariknya tangannya yang sedang di pegang Prima. Prima tersenyum.
"Kau tidak apa-apa?" Prima malah balik bertanya, dan tidak peduli dengan sekitarnya.
"Pergilah.. nanti ada guru yang melihat," Wida mendorong badan Prima agar Prima segera pergi. Namun Prima malah menangkap tangan Wida dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.
"Memang kenapa kalau ada yang melihat? Kan kita tidak melanggar aturan," jawab Prima santai.
__ADS_1
Wida yang masih diselubungi rasa takut mencoba melepaskan pegangan Prima. Tapi karena kuatnya genggaman Prima, usahanya sia-sia. Akhirnya Wida mendiamkannya.
"Kan tadi pak Anton mengatakan, bahwa tidak ada larangan pacaran disekolah. Yang ada hanya larangan bolos.." terang Prima.
"Tapi setidaknya kita tidak boleh terlihat berduaan begini.." Wida tak mau kalah, "pake pegangan segala lagi!" Wida menggoyangkan tangannya yang di pegang Prima.
"Berduaan bagaimana.. itu..masih ada beberapa anak kok di kelas.." kata Prima sambil menunjuk dengan kepalanya.
"Bagaimana kalau kita kekantin?" tawar Prima. "Disana kan ramai.. yuk?"
Wida menatap Prima kesal. "Kau pergilah sendiri," katanya, "aku sedang malas keluar kelas."
Prima mendesah pelan. "Kau marah ya padaku?" tanyanya sambil melepas tangan Wida.
Wida menarik tangannya. "Aku tidak marah.. tapi sebaiknya kita jangan terlihat bersama dulu disekolah.."
__ADS_1
"Aku tidak bisa kalau tidak melihatmu.." kata Prima pelan. "Ya sudah.. aku kembali kekelas.. jangan lupa nanti aku tunggu di taman belakang sekolah." Prima bangun dan pergi meninggalkan Wida yang memandangnya dengan perasaan sedih.