Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LVI : Bukan Aku..


__ADS_3

Prima memarkirkan motornya di rumah warga yang menyediakan parkiran untuk anak-anak sekolah. Karena sekolahnya melarang siswanya membawa kendaraan bermotor. Setelah meletakkan helm di tempat penitipan, mereka berjalan beriringan menuju kesekolah.


"Apa.. tidak sebaiknya kita jalan terpisah?" tanya Wida tiba-tiba. Prima menoleh ke arah Wida, "Kenapa?" Prima balik bertanya, "kau malu jalan denganku?" Wida menggeleng cepat, "Bukan.. hanya saja.. Asti bilang guru tahu kita bolos.."


Prima menghentikan langkahnya, dan Wida ikut berhenti. "Nanti.. kalau guru bertanya kenapa kau bolos.. bilang saja di paksa aku. Oke?" Prima mengajari Wida agar terhindar dari hukuman. Wida menatap Prima, "Tapi.. aku merasa tidak di paksa.. walau awalnya kau paksa.." jawab Wida. Prima tersenyum, didekatkannya wajahnya kewajah Wida seraya mencubit pipi Wida dengan gemas, "Kau bilang saja begitu.." katanya lembut, "agar kau tidak kena hukuman."

__ADS_1


Wida menepis tangan Prima yang mencubit pipinya. Lalu berjalan kembali mendahului Prima. Prima mengejar Wida. "Hei.. kau dengarkan perkataanku?" kata Prima setelah mensejajari langkah Wida. "Kenapa aku harus bilang begitu?" Wida tidak setuju, "aku memang salah, kok. Tidak apa kalau kena hukuman." Prima menghentikan langkah Wida dengan menarik tangan Wida. "Aku tidak mau kamu kena hukuman!" kata Prima tegas. Wida menghela napas, "Tapi aku juga gak mau kalau kamu menanggung sendirian.." katanya sambil melepaskan pegangan Prima, dan kemudian berlari meninggalkan Prima menuju sekolah. Prima hanya menggelengkan kepalanya atas sikap Wida. Dan dengan setengah berlari ia pun menyusul Wida.


Wida telah sampai dikelasnya. Senyumnya mengembang saat melihat Asti yang tengah duduk di bangkunya. Dengan langkah cepat ia ketempat duduknya. Asti yang melihatnya melambaikan tangannya. Disambutnya Wida dengan membantu meletakkan tasnya di bawah meja. "Kau.. nekat sekali kemarin," katanya begitu Wida duduk di sebelahnya. Wida tersenyum malu. " Kalau memang mau bolos, jangan sampai ketawan dong.." lanjut Asti, "guru lagi yang lihat!" Wida terperangah mendengar perkataan Asti. "Apa?" katanya tak percaya, "guru? Bukannya..." Wida menghentikan kata-katanya. Bukannya Soni? lanjut Wida dalam hati. Padahal ia sempat menduga kalau Soni yang mengadukannya.


Tidak beda dengan Wida, Prima juga menduga kalau Sonilah yang mengadukannya kemarin dengan bu Shinta, wali kelas mereka. Saat ia tiba dikelas, ia langsung mendekati Soni yang sedang gobrol dengan Edi dan Robi di pojok kelas. Tanpa basa-basi ia langsung mencengkeram kerah baju Soni.

__ADS_1


Edi dan Robi yang sedang duduk di meja segera berdiri, karena melihat Prima yang dalam keadaan emosi. Beberapa anak yang ada di kelas pun sontak melihat kearah mereka. Begitu juga Nina, Sifa dan Anin yang juga sedang duduk di bangku mereka.


Sepertinya Prima memang sudah tidak bisa membendung emosinya. Didorongnya badan Soni dengan keras, hingga Soni hampir terjatuh jika tidak ditahan Edi. "Kau kan yang bilang kalau aku dan Wida bolos kemarin ke bu Shinta?!" dengan emosi Prima mengulangi pertanyaannya. Soni yang tidak terima di tuduh mengadu, membantah perkataan Prima. "Jangan sembarangan kau menuduh!" bantahnya keras, "Aku tidak mengadu apa-apa!" "Kalau bukan kau yang mengadu, memangnya siapa lagi?" Prima makin emosi, "hanya kau yang ada di sana selain aku dan Wida!" "Mana aku tahu!" Soni mulai emosi. Edi yang memeganginya, menahan tubuh Soni agar tidak maju menerjang Prima. "Kau pikir aku tega mengadukan Wida?"


Prima makin gusar begitu Soni menyebut nama Wida. Tangannya yang mengepal seperti hendak dilayangkan ke wajah Soni. Namun Robi yang sigap segera menahannya. Eko yang baru kembali dari toilet terkejut melihat ada kerumunan di pojok kelas. Ia berlari mendekat begitu dilihatnya Prima yang sedang di pegangi Robi.

__ADS_1


"Ada apa?" tanyanya pada Robi. Matanya bergantian menatap Soni dan Prima yang tampak emosi.


__ADS_2