Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LXXXVI : Ini Salahku...


__ADS_3

Wida yang tengah duduk disudut kelas, nampak tak bersemangat. Asti yang baru datang langsung duduk disebelahnya dan menatapnya heran.


"Hei, ada apa dengan mu?" tanyanya. "Bukankah semuanya telah selesai. Kau dijemput Prima kan? Apa ibumu melarangnya?"


Wida hanya menghela napas. Entah mengapa rasanya ia seperti mati rasa. Asti yang penasaran memegang bahu Wida. Diperhatikannya wajah Wida. Akhirnya ia melihat kalau Wida seperti nya habis menangis.


"Katakan padaku, ada apa?" katanya lembut setelah menyadari ada sesuatu pada sahabatnya itu.


Wida hanya tertunduk. Mulutnya seakan tak bisa terbuka untuk menceritakan apa yang terjadi. Dan akhirnya air matanya yang berbicara... menetes satu-satu membasahi rok abu-abunya.


Tanpa bertanya apa-apa lagi Asti memeluk sahabatnya. Dibiarkannya sahabatnya itu menangis di pelukkannya. Tubuh Wida yang bergetar, menandakan bahwa ia benar-benar sedang terluka. Isakkannya yang pelan membuat Asti ikut meneteskan air mata, seakan merasakan kesedihan Wida.

__ADS_1


Prima menatap Soni yang keluar dari parkiran dengan pandangan penuh kemarahan. Hatinya sungguh tak terima melihatnya berboncengan dengan Wida. Tapi apa daya... ia yang menyuruh Wida tadi agar ikut dengan Soni, karena dirinya tak bisa datang menjemput. Namun ia tak menyangka, bahwa hatinya akan sesakit ini.


Nina menyentuh lengan Prima. Ia merasa cemas dengan kemarahan yang terlihat dimata Prima. Bukannya ia tak melihat kalau Wida berboncengan dengan Soni. Hanya saja ia berpura-pura tidak melihatnya.


Hatinya sebenarnya terkejut sekaligus senang saat melihat Soni dan Wida menyalip motor Prima. Jadi ia tidak perlu susah-susah untuk meyakinkan dan membuktikan ketidak tulusan Wida pada Prima. Sekarang Prima bisa melihat, bahwa ia lebih baik dari Wida.


"Ayo," ajaknya pada Prima, "dikit lagi mau masuk."


Prima yang tampak kesal hanya diam, dan berjalan mendahului Nina. Nina yang tampak yakin bahwa Prima marah pada Wida, tersenyum puas. Dengan langkah riang disusulnya Prima.


Begitu juga dengan Prima. Ia juga berhenti didepan kelas Wida. Namun Prima memilih untuk masuk dan melihat keadaan Wida. Nina yang ikut berhenti, menahan tangan Prima agar tidak masuk kekelas Wida. Prima pun menoleh.

__ADS_1


"Kau duluan saja, aku ingin melihat keadaan Wida," katanya sambil menepis tangan Nina. Dan kemudian berlalu masuk kekelas Wida, meninggalkan Nina yang mengerutkan alisnya karena heran.


Bagaimana ia tidak heran, jelas-jelas Prima melihat Wida dan Soni berboncengan, tapi... mengapa Prima tidak marah? Ada apa sebenarnya? Apakah sebegitu besarnya rasa suka Prima pada Wida, sehingga ia selalu saja dapat memaafkan setiap kali Wida melakukan kesalahan?


Yah, ia tahu, ini bukanlah kesalahan pertama yang dibuat Wida. Banyak kesalahan-kesalahan lain yang telah dibuat olehnya, baik saat dengan Soni atau pun Ryan. Tapi Prima selalu saja berpihak pada Wida. Nina menghela napas. Sungguh ia tidak mengerti jalan pikiran Prima.


Prima melangkah dengan pelan kearah Wida. Ia melihat Asti yang memeluk Wida. Ia tahu, hati Wida pasti saat ini sangat sakit, karena melihat ia berboncengan dengan Nina. Sama seperti dirinya, yang juga sakit hati, melihat kekasihnya di bonceng rivalnya, Soni.


Tapi sakit hatinya berbeda. Ia sakit hati dengan Soni, bukan Wida. Karena ia tahu Wida berboncengan dengan Soni karena terpaksa. Tapi sakit hati Wida pasti karenanya. Karena ia yang harusnya menjemput Wida, malah berboncengan dengan Nina.


Prima telah berdiri di belakang Asti. Di aturnya napasnya untuk menghilangkan rasa gugupnya, karena ia merasa bersalah pada Wida.

__ADS_1


"Wida..." panggilnya dengan suara pelan.


Asti yang tengah memeluk Wida terkejut, karena tiba-tiba ada suara dibelakangnya. Ia melepaskan pelukkannya, menoleh ke arah Prima dan menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Kepalanya pun digerakkan seakan bertanya 'apa yang sebenarnya terjadi' pada Prima. Dan Prima hanya menghela napas, seakan mengatakan 'bahwa ini salahnya'...


__ADS_2