
Prima menyandarkan tubuhnya ke bangku, setelah bell tanda istirahat berbunyi panjang. Matanya tampak terpejam, seakan sedang menetralisirkan otaknya yang semrawut karena telah bekerja keras menghadapi berbagai ulangan pagi ini. Ujian kelulusan yang sudah hampir dekat, membuat hari-harinya di penuhi dengan berbagai ulangan di sekolah. Walaupun ia termasuk tiga besar di kelasnya, tetap saja ia harus belajar ekstra keras untuk mendapatkan hasil yang terbaik agar dapat lulus dengan nilai sempurna.
Tiba-tiba sebuah tepukkan yang cukup keras mendarat di bahunya membuat matanya terbuka lebar. Dengan kesal ia menoleh ke arah Eko, yang telah menepuknya itu. Yang di toleh hanya nyengir tak jelas seakan tak merasa bersalah karena telah mengganggunya.
"Kira-kira dong! Sakit tau!" omelnya.
Eko malah tersenyum lebar mendengar omelan sahabatnya itu.
"Lagian... Seperti orang yang habis perang saja..." kata Eko menggoda, "di bawa santai saja.. Aku yang nilainya pas-pasan tidak ambil pusing, yang penting sudah berusaha. Mau ke kantin, tidak?"
Prima mendesah. Dirapikannya peralatan sekolahnya yang berserakan di meja. Lalu tanpa semangat ia bangun dari duduknya dan mengikuti langkah Eko keluar dari kelas.
"Kau mau ke kelas Wida dulu?" tanya Eko, begitu mereka sudah diluar kelas.
"Tidak usah," kata Prima sambil mendahului berjalan ke arah kantin, "Kita tunggu saja mereka disana."
Suasana kantin sudah ramai. Eko dan Prima duduk ditempat yang biasa mereka tempati. Sambil melahap makanannya, mata Prima mengawasi satu persatu siswa yang masuk ke area kantin. Sepertinya ia mencari sosok Wida. Tak lama kemudian ia melihat Asti yang sedang mengantri untuk membeli makanan. Saat Asti menoleh ke arah mereka, Eko melambaikan tangannya untuk memanggilnya. Dan Asti pun datang menghampiri.
"Loh.. Kau datang sendiri? Mana Wida?" tanya Eko begitu Asti mendekat. Ia sengaja bertanya tentang Wida pada Asti, karena ia tahu Prima pasti tidak akan menanyakannya karena gengsinya yang tinggi.
"Dia di kelas," jawab Asti. "Ini titip batagor, katanya ia tidak boleh keluar dari kelas oleh seseorang," kata Asti lagi sambil melirik ke arah Prima yang tampak terdiam.
Prima yang setengah melamun, terlihat sedikit terkejut oleh perkataan Asti. Ia baru sadar bahwa ia tadi sempat melarang Wida agar tidak keluar dari kelas tanpa sepengetahuannya. Prima menundukkan kepalanya menghindari tatapan Asti yang terlihat kesal padanya.
Eko yang melihat gelagat Prima yang gelisah, bisa menduga bahwa Primalah yang melarangnya.
"Kau melarang Wida keluar dari kelas?" tanyanya dengan alis berkerut. "Konyol sekali."
Prima tidak menanggapi perkataan Eko. Tangannya yang memegang sedotan, mengaduk-aduk es tehnya asal, menunjukkan kalau dirinya sedang galau.
"Okeh," kata Asti menyela, "aku mau kembali ke kelas. Kasihan Wida lama menunggu batagornya. Sepertinya ia tidak sarapan tadi."
Dan tanpa berkata apa-apa lagi ia meninggalkan Eko dan Prima.
Eko melirik sahabatnya yang masih sibuk dengan es tehnya.
"Kau tidak ingin menemui Wida?" tanyannya.
"Tidak.." jawab Prima singkat.
Asti menyorongkan batagor yang di bawanya kehadapan Wida setelah duduk di bangkunya.
"Aku ketemu Prima di kantin," katanya, "ia sedang bersama Eko."
__ADS_1
Wida meraih batagornya dari tangan Asti, lalu langsung melahapnya tanpa mengomentari perkataan Asti.
"Apakah menurutmu, ia marah padamu karena masalah tadi pagi?" tanya Asti sambil menatap Wida lekat.
Mulut Wida yang sedang mengunyah langsung terhenti. Matanya menatap Asti dengan kesal.
"Kau cerewet sekali hari ini," katanya kesal.
"Bukannya begitu.. Biasanya ia selalu datang secepat kilat saat jam istirahat.. Ini, ia malah kekantin sama Eko."
Wida menghela napas kesal, mulutnya kembali mengunyah batagornya dengan pikirannya yang tak karuan, karena mulai terpengaruh perkataan Asti. Memang perkataan Asti ada benarnya juga, pikirnya, bisa jadi Prima marah padanya karena memergokinya tadi pagi. Ah... desahnya, biarlah.. Nanti juga dia baik sendiri...
Dan dugaan Wida ternyata benar, begitu ia keluar dari kelasnya, ternyata Prima sudah menunggunya di balik pintu kelasnya bersama Eko. Prima tampak canggung saat matanya beradu pandang dengan mata Wida. Begitu pula sebaliknya, Wida terlihat gugup tidak tahu apa yang mau di katakannya. Asti yang melihat kecanggungan mereka langsung bertindak.
"Ko... Ayo kita pergi duluan, sepertinya ada yang mau mereka bicarakan," katanya sambil menarik tangan Eko.
Eko yang mengerti maksud pacarnya itu langsung mengangguk setuju.
"Kami duluan, ya," katanya sambil berlalu bersama Asti meninggalkan Wida dan Prima yang masih terdiam.
Sepertinya keduanya saling menahan diri, untuk memulai bicara. Prima yang sedikit arogan, karena merasa Wida telah melakukan kesalahan padanya, menginginkan Wida memulai bicara lebih dulu untuk meminta maaf padanya.
Dan sepertinya Wida menyadari hal itu. Ia menghela nafas pelan, mencoba menenangkan hatinya.
Prima masih terdiam, sepertinya bukan kata-kata itu yang ingin ia dengar dari mulut Wida.
Wida kembali mendesah. Ditatapnya mata Prima yang masih terlihat kesal padanya. Sepertinya ia memang benar-benar harus mengalah.
"Kalau kau marah karena tadi pagi, aku minta maaf... Aku tak akan mengulanginya lagi... Okey?"
Prima masih terdiam, ditatapnya mata Wida dalam. Dan perlahan tatapan kesalnya mulai menghilang. Sepertinya ia merasa senang, karena kalimat yang ditunggunya, telah terucap. Ia melipat kedua bibirnya, sebelum akhirnya membentuk sebuah senyuman. Dan tanpa menjawab perkataan Wida, ia menarik tangan kekasihnya itu untuk meninggalkan sekolah.
Namun Wida yang penasaran dengan sikap Prima, menahan langkahnya, dan membuat langkah Prima ikut tertahan.
"Kau belum menjawab pertanyaanku..." katanya sedikit merajuk.
Senyum Prima semakin melebar. "Aku tidak marah..." katanya, dan kembali menarik tangan Wida untuk mengikuti langkahnya.
Wida akhirnya tersenyum. Syukurlah.. Batinnya, ia memang tidak ingin Prima marah dan salah paham lagi padanya. Dan dengan perasaan senang, ia pun mengikuti langkah Prima...
Ternyata Asti dan Eko menunggu mereka di tempat parkiran. Asti tersenyum saat melihat wajah keduanya sudah kembali ceria.
"Nah, gitu dong.." katanya dengan nada menggoda, "kalau ada masalah di bicarakan baik-baik. Tidak sehat tahu, kalau pacaran ribut melulu.."
__ADS_1
Wida hanya tersenyum menanggapi perkataan sahabatnya itu.
"Bagaimana... Mau kemana kita hari ini?" tanya Eko pada Prima.
"Terserah..." jawab Prima singkat sambil menyerahkan helm pada Wida.
"Baiklah.. kalau begitu kita kerumahku saja. Kebetulan ibuku sedang keluar kota. Kita bisa santai disana..." kata Eko menawarkan diri. Dan yang lainnya pun mengangguk setuju...
Rumah Eko yang sederhana namun luas itu memang terlihat sepi. Pengurus rumah yang biasanya membersihkan rumah, sepertinya sudah pulang. Orang tua Eko yang merupakan pekerja, bisa di bilang jarang ada dirumah, karena kesibukkan mereka. Bahkan Eko saja jarang bertemu atau berkumpul dengan kedua orang tuanya karena sibuknya.
Eko mengajak teman-temannya ke ruang keluarga untuk bersantai, sepertinya ia ingin mengajak mereka menonton film.
"Duduklah.. Aku akan mengambil minuman dan cemilan sebentar," katanya mempersilahkan.
"Aku ikut!" kata Asti sambil mengejar Eko yang sudah jalan ke arah dapur.
Wida yang ditinggalkan begitu saja oleh Asti, kembali merasa canggung karena hanya berdua saja dengan Prima.
"Kau tidak ingin duduk?" tanya Prima tiba-tiba mengejutkan dirinya. Ia menoleh ke arah Prima yang ternyata sudah duduk diatas permadani yang terbentang di ruang keluarga itu.
"Sini.." katanya sambil menepuk tempat di sebelah kirinya. "Duduklah.."
Dengan canggung Wida menghampiri Prima, lalu duduk disampingnya.
Prima memperhatikan Wida yang telah duduk disampingnya.
"Apa yang kalian bicarakan tadi pagi?" tanya Prima yang sepertinya membahas masalah pertemuan Wida dengan Ryan.
Wida langsung menoleh cepat ke arah Prima, begitu mendengar pertanyaan Prima yang tiba-tiba mengungkit masalah pertemuannya dengan Ryan.
Wida mendesah, sepertinya ia agak sedikit kesal. Bukankah katanya ia tidak marah, tadi? Pikirnya. Mengapa tiba-tiba ia menanyakannya?
"Kami tidak bicara apa-apa..." jawab Wida sedikit ketus.
"Masa kalian tidak bicara apa-apa..?" kata Prima sambil melihat ekspresi wajah Wida yang tampak cemberut. "Bukankah kalian tadi berpegangan tangan?"
kata Prima lagi yang sepertinya sengaja menggoda Wida.
Mendengarnya, Wida langsung membelalakkan matanya.
"Pegangan tangan apa?" katanya dengan suara yang agak keras. "Jelas-jelas ia hanya sedang menyalamiku karena permintaan maafnya! Kau kalau tidak tahu apa-apa jangan asal terka sendiri, dong!"
"Aku kan hanya tanya... Kok kamu ngegas?" kata Prima dengan senyum menggodanya.
__ADS_1
Wida yang akhirnya sadar kalau Prima hanya menggodanya, merasa makin kesal. Diambilnya bantal kursi yang tergeletak tidak jauh darinya. Lalu di pukulkannya ke arah Prima yang kini tertawa berkali-kali, hingga akhirnya Prima menangkap tangannya. Dan dengan sekali sentak, ditariknya tangan Wida hingga wajahnya menjadi dekat dengan wajah Prima. Dan tanpa sempat Wida menghindar, Prima telah meraih wajahnya... Lalu dengan cepat mendaratkan kecupan di bibirnya...