
Wida terpaku di sisi tempat tidurnya. Tangan kirinya masih menggantung di telinga kirinya dengan ponsel yang sudah tak bersuara lagi. Ia tidak menyangka Prima memutuskan pembicaraan mereka lebih dulu. Biasanya ia selalu menunggunya sampai ia menutup panggilannya. Apakah ia marah? Batin Wida.
Perlahan tangannya turun dari telinganya. Kepalanya tertunduk dan matanya menatap ponsel yang kini berpindah kepangkuannya. Hati Wida merasa resah. Sikap Prima yang tidak biasanya itu sungguh membuatnya gundah. Pasti Prima marah, batinnya. Tidak mungkin ia mengakhiri pembicaraannya lebih dulu, kalau ia tidak marah.
"Mau sampai kapan kau disitu?" tiba-tiba suara ibunya mengejutkannya. Kepala ibunya kembali tersembul dari balik pintu kamarnya dengan wajah yang kini terlihat kesal. Wida tanpa menjawab pertanyaan ibunya langsung turun dari tempat tidurnya. Meraih handuk yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Dan dengan mengabaikan wajah ibunya yang manyun ia melangkah keluar dari kamarnya.
Soni ternyata benar-benar menepati perkataannya. Belum juga Wida selesai mandi, ia sudah datang dan disambut dengan senyuman hangat oleh ibu Wida. Dan seperti biasa, ibu Wida pun langsung sibuk menyuguhkan minuman dan cemilan untuk tamu paginya itu.
"Sebentar, ya..." katanya ramah sambil meletakkan suguhan yang di bawanya di meja. "Wida sedang siap-siap."
Soni tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu," jawab Soni sopan.
Ibu pun kemudian meninggalkan Soni dan kembali masuk kedalam rumah. Soni yang di tinggalkan tampak menghela napas pelan sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa. Sebenarnya ia selalu gugup bila berhadapan dengan Wida. Karena ia tahu bagaimana perasaan Wida terhadapnya. Tapi mau bagaimana lagi, hatinya sudah terlanjur terpaut padanya. Dan ia masih ingin mendapatkannya walau harus menikung temannya, Prima.
Cukup lama Soni menunggu, dan akhirnya Wida keluar juga, dengan setelan kaos sweater berwarna pink yang di padukan dengan celana jeans biru. Entah mengapa, apapun yang di pakai Wida, Soni selalu terpukau oleh penampilannya. Dan hari ini Wida tampak begitu cantik di matanya.
"Hai," sapanya pelan.
Wida yang di sapa hanya tersenyum kecil.
"Apa kita berangkat sekarang?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Terserah kau saja," jawab Soni santai. "Tapi ibumu telah membuatkan aku minuman, apa tidak apa kalau aku tidak meminumnya?"
__ADS_1
Soni yang tahu sifat baik Wida tampak memanfaatkannya, agar bisa berlama-lama dirumah Wida.
Dan usaha Soni berhasil. Dengan sedikit terpaksa Wida akhirnya duduk di sofa, berhadapan dengan Soni. Sebenarnya ia enggan bila harus berbincang-bincang dengan Soni di rumahnya. Walau dulu ia pernah suka bila berbicara dengan Soni, karena memang Soni teman yang asik untuk berbagi cerita. Namun setelah ia tahu Soni ada hati dengannya, ia pun mulai menjaga jarak. Ia tidak ingin Soni akan salah paham padanya.
"Ya sudah, kau minumlah dulu," kata Wida pelan mempersilahkan Soni.
Soni tersenyum menang, dengan santai diraihnya cangkir yang berisi teh manis, lalu diseruputnya pelan dengan mata yang tak lepas dari wajah Wida. Wida yang tahu Soni menatapnya dengan intens, memalingkan wajahnya ke jendela. Walau bagaimana pun juga ada sedikit kecanggungan bila ia ditatap seperti itu. Dan senyum Soni semakin melebar saat melihatnya.
Waktu pun berlalu, percakapan yang mendapat sedikit respon dari Wida membuat Soni memutuskan untuk segera pergi dari rumah Wida.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang, takut keburu siang.." kata Soni sambil berdiri dari duduknya. Wida hanya mengangguk pelan menanggapi ajakan Soni. Dan setelah mereka pamit pada ibu Wida, mereka pun pergi.
Soni mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Wida yang duduk di belakang tampak seperti jaga jarak agar tidak menyentuh Soni. Dan Soni menyadari hal itu. Lalu dengan sengaja ia menambah kecepatan motornya. Wida yang terkejut dengan hentakan yang mendadak itu, langsung memegang baju Soni. Dan Soni pun menyeringai karenanya.
***
Nina yang sedang duduk di tepi tempat tidurnya, tampak memikirkan sesuatu. Matanya berputar-putar, seakan ada suatu rencana yang dipikirkan di kepalanya. Setelah tatapan matanya telah terfokus, ia pun bergerak kearah meja belajarnya untuk mengambil ponselnya yang tergeletak disana. Lalu dihempaskannya kembali tubuhnya di kasurnya yang empuk dengan ponsel di genggamannya.
Dengan cepat dihubunginya seseorang melalui ponselnya.
"Hallo, Sifa... Sibukkah kau hari ini?"
***
__ADS_1
Setelah mendatangi beberapa kampus swasta di kotanya, Soni dan Wida beristirahat di cafe samping toko buku Astro yang merupakan tempat favorit Wida. Karena setelah beristirahat, Wida berniat ingin melihat-lihat buku disana. Soni yang memang ingin menghabiskan waktu bersama Wida seharian, dengan senang hati mengikuti keinginan gadis itu.
"Kenapa kau tidak mendaftar di negeri, bukankah nilaimu bagus?" Soni mulai membuka percakapan.
Wida menggeleng.
"Tadinya aku mengejar beasiswa, tapi gagal. Uang ibu tidak cukup untuk membayarnya, bila tanpa beasiswa," jawab Wida pelan. "Aku mencari yang terjangkau saja.."
Soni hanya mengangguk pelan menanggapi jawaban Wida.
"Kau sendiri? Bukankah kau mampu baik dalam nilai atau materi?" tanya Wida balik.
Soni tersenyum.
"Aku ingin santai. Orang tuaku tidak mempermasalahkan mau negeri atau swasta, jadi aku bebas memilih. Aku ingin kita satu kampus. Aku ingin menemanimu..." kata Soni jujur.
Mendengar jawaban Soni yang tampak tulus membuat Wida menatapnya. Hatinya sedikit terharu atas perhatian Soni padanya. Andai saja Prima bisa seperti itu... batin Wida. Wida yang tiba-tiba menyadari kata hatinya, terkejut sendiri. Kenapa ia kini membandingkan Soni dengan Prima? Wida tertunduk, lalu dengan gugup di aduknya latte digelasnya dengan sedotan, dengan harapan Soni tidak menyadari sikapnya.
Soni tersenyum melihatnya. Bukan sehari dua hari ia mengenal Wida, ia tahu kalau gadis manis itu tidak pandai berbohong dan mudah tersentuh hatinya. Dan karena itulah, ia akan memanfaatkan itu semua untuk mendapatkannya. Ia akan pelan-pelan meraih hati Wida, dengan cara memberikan perhatian-perhatian kecil dan tulus, yang mampu menyentuh hati gadis itu.
Setelah di rasa cukup beristirahat, mereka pun beranjak pergi dari cafe dan masuk ke dalam toko buku Astro. Suasana di toko itu tidak terlalu ramai, karena memang bukan hari libur. Wida yang tampak senang bila berada ditengah buku-buku, tampak bingung memilih buku apa yang ingin ia baca. Soni dengan setia mendampinginya, dan sesekali ia menawarkan buku bacaan yang mungkin di sukai Wida.
Dan mereka pun mulai asik membahas buku-buku yang mereka baca. Kecanggungan diantara mereka pun sirna. Sesekali mereka tertawa bersama, melupakan status 'pacar teman' atau 'sahabat pacar'. Soni memang pandai memanfaatkan suasana dan hati Wida. Dengan mudah ia bisa membuat gadis itu merasa santai saat dengannya. Wida pun seakan menghapus jarak yang sempat ia buat tadi, antara dirinya dan Soni. Kini yang ada hanya keakraban sebagai teman saja. Namun... tanpa mereka sadari, seseorang tengah mengambil gambar-gambar ke akraban mereka melalui ponselnya....
__ADS_1