
Nina mencuri pandang ke arah tempat duduk Prima. Tapi sepertinya Prima benar-benar tidak peduli padanya. Prima sama sekali tidak melihat kearahnya, seakan-akan ia tidak ada di kelas itu. Nina tertunduk sedih. Sepertinya Prima benar-benar marah padanya.
Sifa yang melihat gelagat Nina hanya menghela napas. Sebagai seorang sahabat rasanya miris juga kalau melihat sahabatnya bersedih. Apalagi hanya gara-gara cowok. Andai saja ada yang bisa ia lakukan untuk Nina, batinnya sambil melihat ke arah Prima. Yah... sepertinya aku harus melakukan sesuatu untuk Nina...
Sebenarnya Prima tahu bahwa Nina memperhatikannya. Dan ia juga tahu Nina pasti menangis. Tapi mau bagaimana lagi... ia harus berjaga jarak dengan Nina mulai sekarang. Karena Nina telah terlalu banyak ikut campur dalam hidupnya. Ia tidak ingin Nina mengaturnya lagi, bagaimana atau dengan siapa ia bergaul. Apalagi jika itu menyangkut hubungannya dengan Wida.
Saat istirahat tiba, Wida telah memantapkan hatinya untuk memberitahukan masalah penelpon gelap itu pada Prima. Dengan di antar Asti yang juga mau ke kantin ia keluar dari kelas.
Baru saja ia berbelok arah, tiba-tiba ia menabrak seseorang, Sofi, si anak kelas satu yang menyukai Prima.
"Eh, maaf," kata Wida reflek.
Namun Sofi hanya menatap mata Wida dengan tatapan yang membuat Wida mengerutkan alisnya. Dan kemudian berlalu meninggalkan Wida tanpa berkata apa-apa.
Wida menoleh ķe arah Asti.
"Kenapa dia?" tanyanya.
Asti mengangkat bahunya sambil menarik tangan Wida.
__ADS_1
"Biarkan saja," jawabnya acuh.
Eko melihat Wida dan pujaan hatinya ada didekat pintu kelas. Tampak Asti melambai padanya. Eko tersenyum. Lalu tangannya menepuk bahu Prima dengan mata masih tertuju ke Asti.
Prima yang sedang memasukkan buku-bukunya menoleh ke Eko. Lalu menoleh lagi mengikuti arah pandangan Eko. Bibirnya langsung tersenyum saat dilihatnya Wida yang tengah melambai padanya. Dan tanpa menunggu lama, ia langsung bangun dari duduknya dan melewati Eko untuk menghampiri Wida. Eko yang tidak mau ketinggalan akhirnya ikut bangun mengikuti di belakang Prima. Tanpa mereka sadari beberapa pasang mata tertuju ke arah mereka.
"Ada apa?" tanya Prima begitu tiba dihadapan Wida.
Wida yang tahu kalau ada yang memperhatikan mereka, merasa canggung.
"Kita ke kantin," katanya sambil menarik tangan Asti yang ada di sampingnya menuju kantin.
"Tumben... kau yang duluan datang kekelasku... ada apa?" tanya Prima pada Wida.
Wida terdiam. Ia tampak ragu apakah akan menceritakan masalahnya atau tidak pada Prima.
"Kalau kau tidak mau cerita, biarkan aku yang cerita," kata Asti tidak sabaran.
"Cerita apa?" kata Eko dan Prima hampir berbarengan.
__ADS_1
Wida meletakkan jari telunjuknya di bibirnya yang mengerucut.
"Sshhh... Jangan keras-keras!" katanya setengah berbisik. "Nanti ada yang mendengar.."
Prima dan Eko mencondongkan tubuhnya agar mendekat.
"Memangnya ada rahasia apa, sih?" tanya Eko penasaran.
"Wida mendapat ancaman!" akhirnya Asti yang buka suara, karena gemas menunggu Wida yang terlalu banyak berpikir. Dan Wida mendelik karenanya.
"Ancaman?" tanya Prima dengan alis berkerut, "ancaman apa? Dari siapa?"
"Ancaman telepon!" kembali Asti menyerobot Wida yang sudah membuka mulutnya untuk menjawab. "Dan ia tidak tahu dari siapa.."
Wida melipat bibirnya karena tidak jadi bicara. Sepertinya Asti jadi jubirnya sekarang, pikirnya kesal.
"Benar, Wid?" tanya Prima yang kini wajahnya terlihat mulai cemas.
Wida mengangguk pelan.
__ADS_1
"Tapi ini rahasia. Kalian harus pura-pura tidak tahu. Karena kita tidak tahu, apa yang akan dia lakukan terhadapku atau Prima..."