Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CLIII : Satu Persatu... Mulai Terungkap


__ADS_3

Dering bell yang panjang disambut dengan desahan napas lega oleh Prima. Dengan cekatan tangannya memasukkan semua peralatan tulisnya ke dalam tas. Berbeda dengan Eko yang tampak santai, ia hanya menggeleng melihat kesibukan sahabatnya itu.


Dini, salah seorang teman sekelas mereka tampak datang menghampiri.


"Kalian di panggil bu Shinta, kata bu Sri. Ditunggu di ruang BK," katanya dan kemudian berlalu pergi tanpa menunggu jawaban Prima.


Prima dan Eko saling tatap.


"Apa pelakunya sudah ditemukan?" tanya Eko pelan.


Prima hanya mengangkat bahu. Dan keduanya pun bergegas merapikan peralatan tulis, lalu segera berlari keluar kelas setelah semua rapi.


Eko dan Prima tidak langsung pergi ke ruang BK. Mereka lebih dahulu menuju ke kelas Wida dan Asti. Belum sampai di depan kelas Wida, mereka bertemu di lorong sekolah.


"Mau kemana?" tanya Prima pada Wida dan Asti.


"Kami di panggil bu Shinta, disuruh ke ruang BK," jawab Asti.


"Kalau begitu, kita bareng. Kami juga di panggil," kata Eko menimpali.


Dan ke empat sahabat itu pun segera menuju ke ruang BK.


Wida merasa jantungnya berdetak cepat. Hatinya bertanya-tanya mengapa mereka di panggil. Apakah pelakunya sudah ketemu? Batinnya. Siapa? Apa yang akan terjadi selanjutnya bila mereka sudah mengetahuinya? Hhheeh... desahnya pelan.


Prima yang mendengar desahan napas Wida, menoleh ke arahnya. Disentuhnya tangan Wida lembut. Ia ingin menggandeng tangan itu, untuk sekedar menenangkannya.

__ADS_1


Namun Wida yang sedang tak ingin terlihat terlalu dekat dengan Prima, menarik tangannya dan berpura-pura memegang tali tasnya. Prima yang sedikit terkejut dengan sikap Wida, hanya meliriknya sekilas. Tangannya yang gagal menggenggam tangan Wida, dimasukkannya kedalam saku celananya dengan wajah kecewa.


Di ruang BK sudah menanti bu Shinta dan pak Anton yang tengah duduk berdampingan. Kali ini mereka duduk di sofa yang ada di ruang BK.


Satu persatu Eko, Asti, Prima dan Wida masuk kedalam ruangan. Mereka pun langsung duduk memenuhi sofa yang ada diruang itu. Pak Anton yang bingung karena Asti dan Eko ikut hadir, nampak mengerutkan alisnya.


"Kenapa kalian ikut hadir?" tanyanya sambil menatap Eko dan Asti bergantian.


Asti tersipu malu, karena memang ia hanya ingin menemani Wida.


"Kami hanya penasaran saja, pak," jawab Asti tidak enak hati, "ingin tahu siapa yang melakukannya."


Pak Anton hanya mendesah pelan menanggapi perkataan Asti.


"Coba Bu, tunjukkan pada mereka rekaman video itu," katanya sambil menoleh ke arah bu Shinta.


"Sofi..!!" kata Wida dan Prima berbarengan setelah tak lama rekaman terputar. Terlihat jelas wajah Sofi di layar ponsel yang sedang meletakkan sesuatu di atas meja piket. Prima menatap Wida seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Begitu juga dengan Wida, yang tidak menyangka bahwa Sofi pelakunya.


Asti dan Eko yang hanya tahu bahwa anak dalam rekaman itu adalah anak kelas satu, melihat ke arah Wida dan Prima dengan bingung.


"Kalian kenal dengan anak ini?" tanya Eko yang tidak menyangka kalau ternyata mereka mengenalnya.


Prima dan Wida mengangguk bersamaan.


"Iya... dia pernah menyatakan suka padaku..." kata Prima sambil menghela napas.

__ADS_1


"Dan ia minta ijin padaku," sambung Wida, "untuk menyukai Prima."


Pak Anton dan bu Shinta hanya diam memperhatikan ke empat siswa yang ada di depannya, yang sepertinya telah menemukan titik terang dalam permasalahan mereka.


"Tapi aku tidak menyangka bahwa pelakunya adalah Sofi... anak semanis itu.." kata Wida pelan.


"Ia tidak semanis yang kau pikirkan. Buktinya ia bisa melakukan hal yang membuat dirimu celaka," kata Asti ketus.


"Bagaimana?" tanya pak Anton akhirnya setelah lama memperhatikan. "Apa perlu kita panggil Sofi untuk mengklarifikasi masalah foto kalian?"


"Harus dong Pak!" seru Asti bersemangat, "ini kan pencemaran nama baik! Sekalian kami juga ingin tahu, siapa peneror Wida selama ini. Apakah dia atau bukan."


"Baiklah. Tolong kau panggil Sofi, Ko, mungkin saja ia sudah datang," perintah pak Anton pada Eko.


Eko yang ingin masalah sahabatnya cepat selesai, langsung beranjak bangun dan segera keluar dari ruangan. Sesampainya di luar, matanya mencari-cari Sofi diantara anak kelas satu yang baru datang. Dihampirinya salah seorang anak kelas satu, dan ditanyanya tentang Sofi dan kelasnya. Setelah ia mendapat info tentang dimana kelas Sofi, ia pun segera berlari menuju kesana.


Nina, yang tanpa sengaja mendengar bahwa Prima di panggil ke ruang BK oleh bu Shinta, mengajak dua sahabatnya untuk menunggu Prima dan teman-temannya diseberang ruangan tersebut. Ia ingin tahu apa keputusan para guru itu, mengenai masalah yang di hadapi Prima.


Tidak berapa lama, Nina cs melihat Eko keluar dari ruangan tersebut. Tampak oleh mereka, kalau Eko seperti sedang mencari-cari seseorang. Lalu Eko berlari dan memasuki salah satu kelas dimana anak kelas satu berada.


"Apakah ia sedang mencari seseorang?" tanya Nina pada kedua sahabatnya, sambil melihat ke arah kelas yang di masuki Eko.


"Sepertinya begitu," jawab Sifa lirih, "tapi.. kenapa di kelas satu?"


Pertanyaan Sifa sontak membuat Anin dan Nina menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Apakah pelakunya anak kelas satu?"


Mata Nina melebar saat mendengar dugaan Sifa, begitu pula dengan Anin. Dan dengan serempak mereka kembali melihat ke arah kelas yang di masuki Eko. Dengan pandangan penasaran, seakan ingin segera tahu, siapa yang akan keluar bersama Eko...


__ADS_2