Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CLXXXV : Ku Ikuti Kemana Kau Mau...


__ADS_3

Setelah mengantar Wida, Prima langsung pulang kerumahnya. Tanpa menghiraukan sapaan adiknya, Dewi, ia langsung menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas.


Prima menghempaskan tubuhnya yang terasa penat diatas kasurnya yang empuk. Matanya menatap kelangit-langit kamarnya yang putih bersih. Terdengar desahan yang berat dari mulutnya. Entah mengapa sekarang masalah kuliahnya terasa begitu membebani pikirannya.


Sekarang matanya terpejam. Apakah ia sanggup meninggalkan Wida disini, jauh darinya jika ia kuliah di Jogja? Batinnya. Apakah ia bisa kuliah dengan tenang, bila di ingatnya tatapan Soni pada Wida yang begitu berambisi untuk memiliki kekasihnya itu? Aah.. Desahnya lagi.


Tiba-tiba ia beranjak bangun dari tempat tidurnya, lalu keluar kamar dengan bergegas. Dengan langkah lebar ia berjalan menuju ruang kerja ayahnya.


Pak Gunawan yang selalu disibukkan oleh urusan kantornya, selalu membawa pulang kerjaannya dan melanjutkannya diruang kerjanya. Saat dilihatnya Prima yang datang dengan wajah serius, ia langsung menghentikan kegiatannya.


"Ada apa?" tanyanya setelah menghela napas, karena merasa agak terganggu dengan kedatangan Prima.


"Kalau tidak penting, nanti saja bicaranya, saat makan malam."


Prima yang sudah berdiri tegak di depan ayahnya, menggelengkan kepalanya menolak keinginan ayahnya.


"Tidak, Pih.." jawabnya. "Aku mau bicara sekarang."


Ayah Prima menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi. Ditatapnya Prima dalam.


"Silahkan..." katanya menyuruh Prima untuk memulai bicara.


Prima menghela napas seakan sedang mengumpulkan keberaniannya.


"Pih.. Untuk kali ini, ijinkan aku melakukan keinginanku.." katanya dengan cepat. "Aku ingin kuliah disini.."


Prima menghembuskan napas lega setelah mengatakan keinginannya, tanpa terbata.


Ayah Prima terdiam. Ekspresi wajahnya tampak datar, seakan sudah menebak apa yang akan dikatakan anaknya itu.


Melihat diamnya sang ayah, Prima menjadi gelisah.


"Aku mohon, Pih.." katanya lagi, karena sang ayah hanya menatapnya dan terdiam.


Ayah Prima mengubah posisi duduknya. Setelah dilihatnya Prima yang gelisah menunggu jawabannya, akhirnya ia berkata dengan suara pelan.


"Apa kau mau mengingkari janjimu pada Papih?" katanya yang malah balik bertanya pada Prima.

__ADS_1


"Papih paling tidak suka dengan orang yang ingkar janji. Apa karena gadis itu kau mengingkari janjimu? Apa ia yang memintamu untuk kuliah disini? Kalau memang seperti itu, berarti gadis itu tidak baik untukmu.."


Prima meneguk ludahnya mendengar perkataan ayahnya. Ia tidak menyangka ayahnya akan berkata seperti itu.


"Bukan seperti itu, Pih..." bantahnya, "ini tidak ada sangkut pautnya dengan Wida.."


"Kalau memang seperti itu, ya sudah... kau tepati saja janjimu.. Toh, nanti disana ada Nina yang menemanimu.."


Ayah Prima bangun dari duduknya, ia berjalan menghampiri Prima, lalu menepuk pundak putranya itu. Dan tanpa berkata apa-apa lagi ia meninggalkan ruangannya, meninggalkan Prima yang berdiri terpekur dengan wajah tertunduk lesu.


Keputusan ayahnya sepertinya memang sudah tidak bisa di ubah. Harapan kuliah bersama Wida telah pupus sudah. Lalu dengan langkah lesu ia pun berjalan meninggalkan ruangan kerja ayahnya untuk kembali kekamarnya.


Keluarga Pak Gunawan tampak sedang makan malam bersama. Namun sepertinya Prima tidak hadir disana.


"Dewi, coba kau panggil kakakmu untuk makan malam," kata ibu Prima pada Dewi.


Dewi menatap ibunya.


"Sepertinya kak Prima tidak ada di kamarnya, Mih. Tadi aku lihat ia keluar dengan motornya," katanya serius.


"Keluar? Kapan?" tanya sang ibu sambil meletakkan sendoknya. "Bukankah ia baru kembali tadi sore.. masa keluar lagi."


"Bukankah tadi kakak habis bicara dengan papih, sore tadi?" celetuk Dewi tiba-tiba membuat pak Gunawan menghentikan makannya. "Iya, kan Pih?"


Pak Gunawan tersedak begitu mendengar celetuk Dewi. Diraihnya gelas yang berisi air putih, untuk menghilangkan rasa tersedaknya.


"Iya," jawabnya sambil mengangguk pelan.


Ibu Prima menatap suaminya.


"Kenapa ia mencari papih?" tanya dengan alis berkerut.


"Biasa... Masalah kuliahnya. Sepertinya ia keberatan untuk kuliah di Jogja..."


Rupanya Prima pergi ke rumah Wida. Ia duduk diatas motornya yang berhenti di depan rumah Wida. Di pandanginya rumah Wida yang temaram sejenak, sebelum ia meraih ponselnya yang ada di sakunya. Sepertinya ia sedang ragu, apakah ia ingin menemui Wida atau tidak.


Di aktifkannya ponselnya, kemudian ditekannya angka satu yang merupakan panggilan cepat untuk Wida. Terdengar nada dering panggil berbunyi. Cukup lama ia menunggu.

__ADS_1


"Ya.. Hallo.." terdengar suara Wida menjawab panggilannya. "Ada apa Prima?"


"Kau sedang apa?"


Wida yang ternyata sedang tidur-tiduran di atas kasurnya yang empuk, segera bangun dan duduk bersila dengan bantal di pangkuannya setelah mendengar suara Prima di ponselnya.


"Sedang tidak apa-apa.." jawabnya sambil merapikan rambutnya seakan-akan takut Prima tahu penampilannya yang kusut.


Prima yang masih menatap rumah Wida terdiam sejenak.


"Bisakah kau keluar? Aku sedang ada di depan rumahmu.."


Wida yang mendengar perkataan Prima kalau kekasihnya itu sedang ada diluar rumahnya, sedikit terperanjat.


"Kau ada diluar?" tanyanya sedikit tak percaya.


"Hmmm.."


Tanpa menunggu lama Wida segera beranjak keluar kamar, setelah mengganti pakaiannya.


Dilewatinya ruang tamu tanpa bersuara, karena takut ibunya akan mendengar langkahnya. Dengan pelan dibukanya pintu, lalu menutupnya kembali setelah ia berada diluar. Lalu ia berlari melewati halaman rumahnya.


Sesampainya di pagar rumahnya, Wida berhenti sejenak. Tersenyum manis pada Prima yang sedang menatapnya.


"Hai.." sapanya lembut sambil membuka pintu pagar dan berjalan ke arah Prima.


Prima yang disapa hanya menatap Wida yang sedang berjalan kearahnya. Hatinya yang sedang galau karena keinginannya yang ingin kuliah bersama Wida tidak terpenuhi, membuatnya kehilangan kata-kata. Diraihnya tangan Wida, setelah Wida berdiri didepannya, kemudian dengan dua tangannya ia menggenggam tangan itu.


Wida yang menyadari ada yang aneh pada diri Prima, mengerutkan alisnya.


"Ada apa?" tanyanya pelan.


Prima mendesah pelan. Dilepasnya tangan Wida, kemudian diraihnya helm yang biasa di gunakan Wida. Lalu tanpa menjawab pertanyaan Wida, ia menyerahkan helm itu pada Wida.


"Kita jalan-jalan malam ini.."


Wida dengan reflek menerima helm yang disodorkan Prima. Dari raut wajah Prima ia tahu, kalau Prima tidak ingin ada penolakkan darinya. Sambil mendesah pelan dipakainya helm itu. Dilihatnya sekilas kearah Prima yang sudah siap di motornya. Dan tanpa bertanya apa-apa lagi, ia langsung duduk di belakang Prima yang telah siap untuk melajukan motornya.

__ADS_1


Angin malam menerpa wajah Wida, kecepatan laju motor membuat Wida merangkul erat tubuh Prima. Ia yang dapat merasakan kesedihan dari paras wajah Prima, membiarkan Prima membawa dirinya kemana Prima mau...


#maap lama absen.. 🙏semoga tetap setia membaca kisah Wida dan Prima .. terima kasih..


__ADS_2