Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CLVII : Teman Mu... Apa Bedanya...


__ADS_3

Nina yang seakan baru tersadar dengan apa yang terjadi, tersentak saat Prima berbalik meninggalkannya. Apa ini? Apakah Prima baru saja menyalahkannya? Pikirnya. Apakah ia menuduhnya? Padahal ia begitu mengkhawatirkannya saat menunggunya tadi...


Setengah berlari Nina mengejar Prima. Ditariknya lengan Prima agar Prima menghentikan langkahnya.


"Tunggu!" katanya menahan Prima.


"Apa... apa kau barusan menuduhku? Kau menuduhku melakukannya?" tanyanya setelah Prima berhenti dan berdiri menghadapnya.


"Kalau bukan kau siapa lagi?!" Prima balik bertanya dengan emosi yang kembali meledak.


Wida yang takut Prima lepas kendali menahan lengan kekasihnya itu dengan kedua tangannya.


"Prima..." katanya setengah berbisik mengingatkannya.


Nina yang mendengar bisikkan itu, melirik ke Wida yang ada di samping Prima. Dilihatnya Wida yang tampak memeluk lengan Prima dengan erat. Entah mengapa hatinya terasa miris.


"Memang bukan aku.." katanya kembali menatap Prima. "Kalau aku yang melakukannya, buat apa aku menunggu dan mencemaskanmu tadi."


Prima menatap Nina tajam.


"Iya bukan kau... tapi temanmu! Apa bedanya kalau begitu?"

__ADS_1


"Temanku?" Nina menatap Prima bingung. "Teman yang mana? Sifa?" tunjuk Nina pada Sifa yang berdiri tidak jauh dibelakangnya. "Anin...?" Mata Nina melebar setelah menyebut nama Anin, seakan menyadari sesuatu. Apa... apa mungkin dia?


Prima tersenyum sinis saat melihat perubahan wajah Nina.


"Kau cari sendiri jawabannya!" Dan setelah mengatakannya, Prima berbalik sambil menggandeng Wida, meninggalkan Nina yang kembali terpaku.


Lama Nina diam terpaku selepas kepergian Prima dan teman-temanya. Pikirannya kini penuh dengan Anin. Matanya mengejap-ngejap seakan mencoba mengingat-ingat apa yang telah Anin lakukan atau ucapkan sebelum kejadian foto terjadi.


Sifa yang melihat sahabatnya terdiam, datang menghampirinya dan menepuk bahunya.


"Hei... sudahlah... tidak usah kau ambil hati. Aku tahu kau tidak melakukannya," Anin mencoba menenangkannya.


Nina menoleh, ditatapnya Sifa dengan mata yang masih menerawang.


"Siapa? Aku? Aku tidak sebodoh itu untuk menggali kuburanku sendiri," kata Sifa tampak tersinggung. "Sudahlah. Kau jangan sampai di pengaruhi olehnya. Jelas-jelas ia telah menuduhmu. Ia bahkan tidak berpikir mengapa kau masih ada disekolah sampai saat ini."


"Tapi... aku rasa Prima benar," kata Nina pelan. "Aku... aku mencurigai Anin..." dan sekarang mata Nina menatap dalam mata Sifa..


Prima, Wida, Asti dan Eko, berkumpul di halaman belakang rumah Eko. Mereka duduk berpasang-pasangan mengelilingi meja kecil dengan wajah serius. Sepertinya mereka masih terbawa suasana hati Prima yang masih kesal karena Nina.


"Aku rasa memang bukan Nina pelakunya," kata Wida pelan memecah kesunyian diantara mereka.

__ADS_1


Asti yang mendengarnya mendengus kesal.


"Bagaimana bisa bukan dia pelakunya? Kau tahu mereka itu bersahabat. Sudah pasti Anin melakukan itu karena Nina. Yang aku heran kenapa Anin, bukan Sifa. Padahal Sifa yang biasanya membela Nina mati-matian saat kau dan Nina berselisih."


Wida kembali terdiam begitu mendengar perkataan Asti. Ia kembali ragu pada pemikirannya sendiri.


Prima yang ada disebelahnya melihatnya dengan pandangan sayang. Dibelainya kepala Wida lembut.


"Kau terlalu baik. Kau selalu tidak bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang tidak. Sudah berulang kali Nina melakukan hal-hal yang tidak terduga untuk memisahkan kita, tapi kau masih saja membelanya."


"Bagaimana kalau memang bukan dia pelakunya?" tanya Wida sambil menatap Prima.


"Bagaimana kalau iya?" Prima sengaja membalik pertanyaan Wida, yang membuat Wida kembali menutup mulutnya.


Prima tersenyum saat melihatnya. Diraihnya tangan Wida yang ada di pangkuan Wida. Digenggamnya tangan kekasihnya itu dengan mesra.


"Kau tidak usah khawatir, berdoalah bahwa semua masalah ini akan cepat berlalu..."


Namun doa Prima rupanya masih belum terkabul. Sore itu, sebelum bell tanda pulang berbunyi, diruang kepala sekolah, tampak Pak Anton dan bu Shinta sedang duduk dihadapan kepala sekolah yang tampak marah. Keduanya tampak menundukkan kepalanya.


"Mau sampai kapan kalian menyembunyikan masalah ini dari saya?" kata sang kepala sekolah dengan nada tinggi. "Masa saya harus tahu dari orang tua murid kalau ada masalah seperti ini disekolah ini!"

__ADS_1


Pak Anton dan bu Shinta mengangkat kepalanya. Keduanya saling pandang tak percaya... rupanya ada orang tua murid yang melaporkan masalah ini ke kepala sekolah...


__ADS_2