Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CCVIII : Rahasia Wida


__ADS_3

Asti sedang merapikan alat tulisnya ketika Eko menghubunginya. Awalnya ia merasa senang karena menduga Eko akan mengajaknya kencan.


"Halo, Ay.. ada apa?" sapa Asti semanis mungkin dengan panggilan 'Ayang'nya.


"Kamu masih di kampus?" tanya Eko tanpa basa-basi dengan nada serius.


Asti yang sedikit kecewa karena nada bicara Eko yang tampak tidak mempedulikannya, menjawab dengan jutek, "Iya. Aku masih di kampus. Kenapa?"


"Kau pulang jam berapa?"


"Sekarang," jawab Asti masih ketus, "kenapa, sih?" Penasaran juga ia dengan pertanyaan-pertanyaan Eko.


"Bisa nanti kau mampir ke rumah Wida? Si Prima rewel sekali. Katanya Wida mengabaikannya belakangan ini."


"Mengabaikan bagaimana?"


"Entahlah... Makanya nanti kau kesana. Bisa, ya?"


"Iya.."


Sekarang Asti sudah ada di depan rumah Wida. Karena sudah sering kesana, ia dengan santai membuka pintu pagar rumah Wida dan melangkah masuk ke halaman rumah. Keadaan rumah tampak sepi. Apa pada tidur siang, ya? Batinnya. Maklum saja waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lewat.


Asti mengetuk pintu rumah Wida sambil mengucapkan salam. Beberapa kali Asti melakukannya. Sampai akhirnya seseorang terdengar menjawab salamnya dan membukakan pintu.


"Eh... Mba Asti.." sapa Mba Yayuk yang membuka pintu. "Ada apa? Mari masuk..."


Asti tersenyum. "Wida ada, Mbak?"


Kening Mba Yayuk berkerut. "Loh.. Memangnya Mba Asti gak tau, ya? Mba Wida kan ke Jogja.. Kuliah di sana.."


Asti terkejut mendengar penuturan Mba Yayuk. "Ke Jogja?"


Kini wajah Asti tampak memerah menahan emosi, menunggu jawaban Wida melalui ponselnya.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak bilang padaku, kalau kau ke Jogja? Apa kau mulai main rahasia-rahasiaan denganku?" serang Asti begitu Wida menjawab panggilannya.


"Bu.. Bukan begitu..." suara Wida terdengar gugup. "Aku hanya belum sempat memberitahukanmu. Aku bermaksud akan menceritakan semuanya padamu saat aku tiba di Jogja nanti. Tapi aku mohon, kau jangan bilang siapa-siapa dulu, ya. Baik Prima ataupun Eko..."


Asti hanya mendengus kesal mendengar permintaan sahabatnya itu.


"Ya sudah! Nanti aku telepon lagi. Aku lagi ada di depan rumahmu ini."


Tanpa menunggu jawaban dari Wida, Asti memutuskan panggilannya, dan pergi meninggalkan rumah Wida dengan sepeda motornya.


Wida mendesah pelan begitu panggilan Asti terputus. Matanya kembali menerawang keluar jendela mobil yang masih berada di jalan tol. Hmm.. Semoga saja Asti tidak ember, batinnya...


Akhirnya Wida pun sampai di rumah Mas Danu. Rumah yang cukup besar dengan pekarangan yang lumayan luas. Di teras rumah tampak seorang wanita paruh baya yang bertubuh besar, berdiri dengan wajah tersenyum. Bude Lastri, ibu dari Mas Danu, yang ternyata telah menunggu kedatangan mereka.


Begitu Wida turun dari mobil, Bude Lastri langsung menyerbu kearah Wida. Dengan wajah berseri, ia meraih tubuh Wida dan memeluknya erat. Wida yang kini tenggelam dalam tubuh Budenya yang gemuk tampak tersengal.


"Duh, Gusti... kamu sudah sebesar ini, toh nduk..." kata Bude Lastri sambil menggoyang-goyangkan tubuh Wida.


Mas Danu yang melihat Wida gelagapan di pelukan ibunya merasa geli.


"Sudah dong, Bu. Kasihan De Wida, sesak napas dia di peluk ibu."


Bude Lastri tertawa sendiri sambil melepaskan pelukannya.


"Maaf, ya.. Bude seneng kamu datang. Sudah berapa lama ya, kamu tidak kemari. Ayo... Ayo masuk, kalian pasti sudah lapar, ya? Bude sudah siapkan makan untukmu.."


Wida benar-benar disambut baik oleh keluarga Budenya. Pakde Nur, ayah Mas Danu, juga tampak menyukai Wida. Maklumlah mereka tidak punya anak perempuan. Mas Danu tiga bersaudara, dan semuanya lelaki.


Setelah berbincang-bincang dengan keluarga Budenya, Mas Danu membawa Wida ke kamar yang akan di tempati Wida. Setelah pintu kamar terbuka, senyum langsung terkembang di wajah Wida. Bagaimana tidak, kamar yang ada di hadapannya ini jauh berbeda dengan kamarnya di rumah. Tempat tidur yang besar, lemari juga besar, meja belajar yang cantik selaras dengan kursinya, dah ada sebuah laptop yang terlihat mahal di atas mejanya. Wah.. benar-benar lengkap isi kamarnya.


"Bagaimana? Kau suka kamarnya?" tanya Mas Danu yang sudah lebih dulu masuk kedalam kamar.


Wida menganggukkan kepalanya, "Suka, Mas..."

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu.." kata Mas Danu sambil tersenyum menanggapi perkataan Wida. "Kau rapikanlah barang bawaanmu. Bila ada yang kau perlukan, kau bisa panggil Mas. Mas keluar dulu, ya."


Sepeninggal Mas Danu, Wida tidak langsung merapikan barangnya. Ia masih memandangi kamar barunya. Yah... semoga hari-harinya di Jogja seindah kamar barunya, batinnya.


Asti mengaduk-aduk es teh manis yang ada di hadapannya dengan sedotan. Hatinya bimbang, apakah ia akan memberitahu pacarnya atau tidak tentang keberadaan Wida. Sesekali ia melihat ke arah Eko yang duduk di depannya, yang sedang menunggunya untuk berbicara.


"Hei... ayolah.. katakan ada apa dengan Wida. Dia baik-baik saja, kan?" kata Eko akhirnya, setelah melihat kekasihnya yang hanya terdiam.


Asti menghela nafas. Ia mengangguk perlahan, "Ya.. Ia baik-baik saja.."


"Terus.. kenapa Prima tidak bisa menghubunginya?" desak Eko. "Apa ada yang kau tutupi dari aku?"


"Bukan begitu... hanya saja... Wida meminta aku untuk tidak mengatakannya padamu.. atau Prima," kata Asti dengan suara pelan. Sebenarnya ia tidak ingin berahasia-rahasiaan dengan pacarnya itu, namun apa daya, di satu sisi sahabatnya ingin ia merahasiakannya.


"Ya sudah, kau beritahu aku saja. Aku janji tidak akan memberitahu Prima, kecuali... bila itu merugikan Prima," ujar Eko sudah tidak sabar.


Asti sedikit terkejut mendengar perkataan Eko.


"Apa maksudmu 'merugikan Prima'?" tanyanya sambil memicingkan matanya.


Eko menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Ia merasa tak enak dengan perkataan yang telah keluar dari mulutnya tadi.


"Yah.. kali aja.. perasaan Wida terhadap Prima berubah..."


"Jangan sembarangan kalo bicara!" Asti tersulut emosi, "Wida tidak seperti itu! Masa kamu tidak tahu Wida? Dia mana mungkin seperti itu.."


"Yah.. kan aku bilang kali aja..." elak Eko. "Habis kamu pakai rahasia-rahasiaan segala sama aku.."


"Janji, ya.. tidak bilang sama Prima?" Asti melunak.


"Janji!" jawab Eko dengan mengacungkan dua jarinya meyakinkan Asti.


"Wida ke Jogja hari ini... sepertinya ia akan menyusul Prima untuk kuliah disana..."

__ADS_1


__ADS_2