Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CCVI : Jogja... Aku Datang...


__ADS_3

Nina tampak gelisah di atas tempat tidurnya. Ia benar-benar tidak bisa memejamkan matanya barang sedikit pun. Pikirannya terpusat pada Prima, yang menurutnya mungkin saat ini sedang berhadapan dengan orang tuanya. Hhhh.... desahnya pelan. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa menyesal telah melakukan hal yang telah membuat Prima pergi ke Jakarta. Apakah perbuatanku salah? Batinnya. Padahal ia hanya ingin membuka mata hati Prima agar ia bisa melihat bahwa ia lebih baik ketimbang pacarnya itu, yang terlihat gampangan. Ya...ia ingin Prima kembali seperti dahulu, hanya melihat padanya. Tapi ia tidak menyangka akan seperti ini jadinya.


Waktu semakin malam, ia berharap mendapat kabar tentang Prima. Dan ternyata harapannya terkabul! Ibu Prima meneleponnya! Dengan cepat diraihnya ponselnya.


"Iya Tante..." Nina menjawab panggilannya.


"Kau ini bagaimana Nina?" suara Ibu Prima terdengar kesal. "Kenapa kau membuat Prima marah? Kenapa kau melakukan hal-hal yang tak penting begitu? Harusnya kau tidak usah mengusik gadis itu. Lihat hasilnya, bukannya membenci ia malah semakin memperhatikan gadis itu. Tante sudah berusaha mendekatkan kalian. Tapi sekarang, malah kau yang menjauhkannya."


Nina terdiam mendengarkan omelan Ibu Prima yang tiba-tiba itu. Ia menyadari memang itu adalah kesalahannya.


"Sekarang Prima mau keluar dari rumah Om Januar. Ia ingin nge-kos!" kata Ibu Prima membuat Nina tersentak. Apa? Nge-kos? Batinnya sedih.


"Kau tidak usah melakukan hal-hal yang tidak perlu lagi. Biarkan saja apa maunya Prima. Kami hanya ingin ia lulus dengan prestasi yang baik. Kalian berteman saja seperti biasa, siapa tahu hati Prima bisa berubah, jika sikapmu berubah..."


"Iya Tante..." jawab Nina singkat, Ia tidak tahu harus berkata apa. Dan percakapan pun berakhir.


Mata Nina tampak mulai mengkristal, dan tak lama kristal itu pun mencair. Nina menangis. Ia menyembunyikan kepalanya di balik bantal. Tubuhnya bergetar karena tangisnya. Ia kini semakin menyesali perbuatannya, yang membuat Prima semakin jauh darinya...


***


Wida, Eko dan Asti mengantar Prima ke bandara. Ia lebih memilih naik pesawat, karena banyak yang akan di urus di kampusnya hari ini.


"Terima kasih ya, karena kalian selalu ada disisi Wida saat aku tak ada..." katanya pada Eko dan Asti.


"Kami kan juga sahabatnya, kenapa harus berterima kasih?" ujar Asti sambil merangkul Wida. "Dah...kuliah yang benar. Jangan melakukan hal yang aneh-aneh yang dapat merusak hubungan kalian. Kami akan menjaga Wida."


"Kenapa kalian harus menjagaku?" sungut Wida pura-pura kesal pada Asti. "Memangnya aku anak kecil."


Prima tersenyum mendengar gerutuan kekasihnya. Tiba-tiba tanpa malu, ia meraih tubuh Wida untuk dipeluknya. Wida yang tampak terkejut hanya membelalakkan matanya. Namun ia tak menolak, dan membiarkan Prima melakukannya.

__ADS_1


"Aku pergi, ya..." bisik Prima pelan di telinga Wida.


"Hmmm.." jawab Wida sambil mengangguk kecil.


Cukup lama Prima memeluk Wida, sehingga membuat Eko dan Asti risih melihatnya.


"Sudah...pergi sana!" usir Eko, mengusik kemesraan mereka, "jangan kelamaan peluknya. Apa jangan-jangan kau sengaja biar ketinggalan pesawat, dan menginap lagi di rumahku?"


Wida, yang kini merona wajahnya karena malu, mendorong tubuh Prima pelan.


"Pergilah... Aku akan baik-baik saja..."


Dan mereka pun berpisah...


***


Dua minggu telah berlalu. Prima yang telah bertekad ingin pindah dari rumah Om-nya, telah tinggal di tempat kos-kosan bareng dengan beberapa orang temannya. Nina yang telah berjanji pada orang tua Prima, untuk tidak mencampuri kehidupan Prima, hanya terdiam saat melihat Prima pindah dari sana.


Sedangkan Prima, yang terpisah jauh dari Wida, tampak sangat menikmati cinta LDR-nya. Di sela-sela kuliahnya, ia selalu menyempatkan waktu untuk menyapa kekasihnya itu melalui ponselnya. Walau banyak teman wanita di kampusnya yang berusaha untuk mendekatinya, ia tetap tak tergoyahkan.


***


Di suatu pagi, rumah Wida sedang kedatangan tamu. Mas Danu, keponakan Ibu Wida yang tinggal di Jogja datang berkunjung. Setelah menyambut dan menyalami tamunya, Wida masuk kembali ke kamarnya, meninggalkan Ibu dan Mas Danu di ruang tamu untuk mengobrol.


"Wida sudah daftar kuliah, Bulik?" tanyanya pada Ibu Wida.


"Belum, padahal temannya sudah pada kuliah, tapi ia masih saja belum daftar. Tidak tahu mau kuliah dimana," jawab Ibu Wida sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.


Wida yang mendengarkan pembicaraan Ibu dan Mas Danu di kamar, tampak acuh. Sejak kepergian Prima ke Jogja, ia malas untuk keluar rumah. Kampus yang ia kunjungi bersama Soni pun ia batalkan. Ia tidak mau ada masalah lagi, jika ia satu kampus dengan Soni nantinya. Asti yang mengajaknya untuk kuliah bersamanya juga ia tolak, karena memang tempat Asti kuliah merupakan kampus swasta yang tidak terjangkau biayanya untuk dirinya.

__ADS_1


"Wida!" terdengar suara Ibu memanggilnya. "Sini keluar, Nak!"


Wida yang sedang rebahan di atas tempat tidurnya, mendesah pelan. Sebenarnya ia sedang malas untuk bertemu dengan orang lain, apa lagi mengobrol. Dengan rasa enggan akhirnya ia bangun dan keluar lagi dari kamarnya.


Mas Danu yang merupakan anak dari kakak ibunya, tampak tersenyum ramah padanya. Wida membalas senyumnya sambil menganggukkan kepalanya. Jujur saja ia tidak terlalu dekat dengan sepupunya itu. Bertemu pun baru beberapa kali saat ayahnya masih ada, itu pun kalau lebaran. Maklum, berat di ongkos mungkin.


"Duduk sini, Mas-mu bawa kabar baik untukmu." Wajah Ibu Wida tampak berseri-seri, sepertinya memang ada kabar yang menyenangkan hatinya.


"Dek..." panggilan Mas Danu pada Wida, "kau mau tidak, kuliah di Jogja?"


Wida yang telah duduk, menoleh ke Ibunya dengan tatapan bingung, lalu beralih lagi ke Mas Danu.


"Kalau kau mau, Mas bisa bantu, agar kau bisa masuk di kampus tempat Mas kuliah," lanjut Mas Danu. "Kau tahu kan, Universitas 'A'? Kebetulan ada mahasiswa yang sudah keterima, tapi ia mengundurkan diri. Jadi, kalau kau mau...kau bisa mengisi bangku kosong itu. Untuk lain-lainnya akan Mas urus, nanti kau tinggal masuk saja."


Universitas 'A'? Batin Wida. Bukankah itu tempat Prima kuliah? Bibir Wida tampak tersenyum.


"Memangnya bisa?" tanyanya meragu.


"Mudah-mudahan bisa. Kebetulan juga Mas Asdos disana, jadi mas bisa minta bantuan Dosen Mas untuk membantu agar kau bisa masuk."


"Bagaimana Wida? Kau mau kan?" tanya Ibu Wida penuh harap.


Kenapa tidak? Batin Wida senang. Kalau ia kuliah disana, bukankah itu berarti ia akan bertemu dengan Prima?


"Mau, Bu!" jawab Wida antusias. "Tapi... Bagaimana dengan Ibu? Nanti Ibu akan sendirian disini..." Wida bimbang sesaat.


"Kau jangan pikirkan Ibu, kan ada Mba Yayuk. Nanti Ibu akan minta agar Mba Yayuk tinggal disini."


Mba Yayuk adalah orang yang membantu di usaha katering Ibu Wida.

__ADS_1


Dan akhirnya Wida pun mengangguk mantap.


"Baiklah kalau begitu. Aku Mau!"


__ADS_2