Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CCVII : Ada Apa Dengan Wida...?


__ADS_3

Dua hari belakangan ini rumah Wida terlihat ramai, karena Mas Danu sepupu Wida menginap di sana. Ibu yang memang senang mengobrol, tak henti-hentinya mengajak Mas Danu bicara bila ada kesempatan. Tak jarang Wida menemani mereka mengobrol, walau Ibu Wida yang selalu dominan dalam obrolan mereka.


"Besok kita berangkatnya ya, Dek," kata Mas Danu disela obrolan saat mereka sedang berbincang-bincang di ruang tamu. "Kau sudah mempersiapkan apa saja yang mau dibawa, kan?"


Ibu yang mendengar pertanyaan Mas Danu, menoleh ke arah putrinya yang duduk di hadapannya.


Wida tersenyum sambil mengangguk dengan antusias. "Iya Mas, sudah," jawabnya singkat.


"Baguslah. Nanti kalau ada yang kurang, kita bisa beli disana. Untuk tempat tinggal, Ibu menyuruh agar Dek Wida tinggal di rumah kami. Jadi tidak perlu ngekost," tutur Mas Danu panjang lebar.


"Iya, tidak perlu kost. Bude-mu pasti senang kalo kamu tinggal disana. Kan Bude-mu tidak punya anak perempuan," kata Ibu Wida menimpali perkataan Mas Danu.


Wida yang mendengarnya hanya mengangguk saja. Apapun perkataan Ibu dan Masnya itu, akan ia turuti. Karena yang terpenting baginya ia bisa kuliah di tempat di mana Prima berada.


Pagi pun tiba. Mobil travel yang akan membawa mereka ke Jogja telah datang. Mas Danu tampak sibuk memasukan barang-barang yang akan mereka bawa kedalam mobil.


Ibu Wida yang sedikit keberatan dengan keberangkatan putri semata wayangnya, berulang kali menyeka air matanya yang menetes ke pipinya.


"Sudahlah, Bu," kata Wida sambil memeluk ibunya, "aku kan mau pergi belajar, nanti kalau ada kesempatan libur, aku pasti pulang. Jangan kaya sinetron, deh, pakai nangis segala. Padahal ibu senang, kan? Karena tidak harus cerewetin aku lagi?" Wida menggoda ibunya sambil melepas pelukannya.


Sang ibu pun hanya tersenyum miris menanggapi perkataan putrinya itu.


"Kamu ini... masa Ibu tidak boleh melo drama sedikit.. Kan biar kaya di sinetron gitu.." katanya menutupi malunya yang terlihat cengeng di mata anaknya.


"Sudah sana, naik ke mobil. Mas Danu sudah memanggil mu."


Wida menoleh ke arah Mas Danu yang memberi isyarat agar ia segera naik ke mobil. Wida pun menghampirinya setelah mengecup pipi ibunya.


"Naiklah, Mas mau pamit dulu sama Ibumu," kata Mas Danu begitu Wida datang. Kemudian Mas Danu pun terlihat berpamitan kepada Ibu Wida. Setelah berbasa-basi, Mas Danu pun menyusul Wida masuk kedalam mobil. Dan mereka pun berangkat...


***


Pagi itu Prima mengawali harinya dengan sarapan bubur yang biasa mangkal di dekat tempat tinggalnya. Tempat kostnya yang merupakan satu rumah dengan beberapa kamar, ruang tamu, ruang makan dan 2 kamar mandi, tampak terlihat lengang. Mungkin karena penghuni kost yang merupakan para mahasiswa itu, masih pada tertidur.


Sambil menikmati buburnya, tangan kiri Prima sibuk memainkan ponselnya. Membuka aplikasi hijaunya, untuk melihat-lihat pesan yang masuk. Beberapa hari ini Prima tampak bingung dengan sikap Wida yang mulai jarang mengirim pesan padanya. Walau hanya sekedar sapaan atau salam, saat pagi atau malam hari. Selalu saja harus ia yang memulai, dan Wida pasti menjawabnya dengan singkat. Apalagi jika di telepon, Wida pasti tidak langsung menjawabnya. Ia harus beberapa kali melakukan panggilan, baru Wida menjawabnya.


Seperti pagi ini, Wida bahkan tidak membaca pesannya, yang ia kirim semalam. Dengan sedikit ragu, Prima mencoba menghubungi Wida. Dan seperti yang ia duga, Wida tidak menjawabnya. Dengan kesal Prima kembali meletakan ponselnya kemeja, dan melanjutkan sarapannya.

__ADS_1


Tatapan mata Prima menembus jendela rumah yang mengarah ke halaman. Namun apa yang dilihatnya tidak sinkron dengan apa yang ada dipikirannya. Batinnya yang sedang berkecamuk, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan kekasihnya itu.


'Apa Wida sudah mulai kuliah?' 'Apa Wida terlalu sibuk sehingga tidak sempat membalas pesannya?' 'Apa Wida sudah jenuh dengan pacaran jarak jauhnya ini?'


Aaaah.. Prima mendesah kesal, membuang pikirannya yang terakhir. Tidak mungkin Wida jenuh, batinnya. Belum sebulan mereka LDR-an, dan terakhir mereka chattingan pun tidak ada masalah apa-apa. Apa ia harus bertanya pada dua sahabatnya, Eko dan Asti? Bibir Prima mengerucut sambil mengangguk kecil seakan mengiyakan pikirannya yang terakhir. Yah... sepertinya ia harus menanyakannya kepada kedua sahabatnya itu... putusnya.


***


Wida merasakan ponsel ditangannya bergetar, sekali lihat saja ia tahu, bahwa Prima yang menelponnya. Namun ia sengaja mengabaikannya. Dengan senyum di bibirnya, ia melihat keluar jendela mobil yang membawanya ke Jogja. Yah.. sejak ia berencana akan kuliah di Jogja, ia sengaja mengabaikan Prima. Baik pesan atau telepon pun ia jawab sekedarnya saja. Seperti hari ini, beberapa pesan Prima tidak ia buka. Ia berencana akan membuat Prima terkejut, dengan kehadirannya yang tiba-tiba di kampusnya nanti.


"Kenapa kau senyum-senyum sendiri, Wida?" tiba-tiba Mas Danu bertanya dan membuyarkan lamunannya. "Apa ada yang membuatmu senang?"


Dengan wajah tersipu Wida menoleh ke arah Mas Danu. Ia hampir lupa kalau Mas Danu duduk disebelahnya, yang pasti melihat kelakuannya.


"Tidak ada apa-apa, Mas..." jawab Wida sedikit gugup.


"Sepertinya kau senang bisa kuliah di Jogja, ya?" tanya Mas Danu lagi.


Wida mengangguk cepat.


"Ya pasti lah, Mas, siapa yang tidak senang. Soalnya aku sendiri juga tidak kepikiran kalau akan kuliah di sana."


Wida tersenyum menanggapi perkataan Mas Danu. Bude Laras memang selalu peduli pada Wida dan Ibunya, sejak kepergian ayahnya. Tidak jarang ia mengirimi uang ke ibunya dengan alasan untuk biaya sekolahnya.


Wida kembali menatap keluar jendela, menikmati setiap pemandangan yang ada dalam perjalanannya ke Jogja. Yah.. semoga saja kehidupannya di Jogja bisa sebaik harapannya..


***


Prima keluar dari kelasnya dengan wajah lega. Sudah dua mata kuliah di ikutinya, dan kini saatnya ia istirahat. Dengan langkah cepat ia menuju kantin yang berada di belakang gedung kampus. Di hempaskannya tubuhnya di kursi begitu ia sampai di kantin. Lalu dengan cekatan ia meraih ponselnya dari ranselnya. Dengan aplikasi hijaunya ia menghubungi Eko.


Cukup lama juga ia menunggu jawaban dari Eko.


"Halo.." akhirnya Eko menjawab. "Ada apa Prim?"


"Kau ada dimana?" Prima balik bertanya.


"Aku ada dirumah.. kenapa?"

__ADS_1


"Oh.. syukurlah. Kalau begitu aku tidak menggangu, kan?"


"Siapa bilang.." gerutu Eko.


"Aku cuma mau tanya kabar Wida. Apakah dia baik-baik saja? Soalnya sudah beberapa hari ini ia agak susah aku hubungi. Kali aja ada berita yang aku tidak tahu.." papar Prima panjang lebar.


Eko yang saat itu sedang asik di hadapan komputernya, terpaku sejenak. Keningnya berkerut begitu mendengar curhatan sahabatnya itu.


"Sepertinya tidak ada apa-apa. Kalau pun ada,


Asti pasti sudah bilang padaku."


"Oh.. begitu ya..." terdengar nada kecewa dari suara Prima.


"Kenapa? Apa kau mulai curiga lagi pada Wida?"


"Bukan begitu.. hanya saja.."


"Sudahlah.." sela Eko. "Kau jangan berpikiran macam-macam. Kalau kau mencemaskannya, aku akan menyuruh Asti untuk cari tahu."


Bibir Prima tersenyum lebar. Sahabatnya itu memang selalu bisa diandalkan.


"Oke.. terima kasih, Ko," kata Prima puas sambil mematikan ponselnya. Yah... semoga Asti bisa mencari tahu, mengapa Wida mengabaikannya belakangan ini, batin Prima lega.


***


Tidak terasa perjalanan Wida dan Mas Danu menuju Jogja sudah setengah perjalanan. Wida melihat ke jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Wida tersenyum, tidak lama lagi ia akan menginjakkan kakinya di tempat Prima berada.


Tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Ia menduga kalau Prima yang menelponnya. Namun seketika keningnya berkerut, saat nama Asti yang terpampang di layar ponselnya. Ia memang sengaja tidak memberitahu Asti, kalau ia akan kuliah di tempat Prima. Karena ia tahu, kalau sahabatnya itu sedikit bocor, dan pasti akan sampai ke Eko.. lalu pasti ke Prima.


Dengan sigap jarinya menggeser gambar hijau ke atas.


"Halo As.. ada apa?" tanyanya begitu ia terhubung.


"Kau ada dimana?" suara Asti terdengar kesal.


"Aku.. aku ada dirumah.." jawab Wida berbohong.

__ADS_1


"Bohong!" sanggah Asti yang berhasil membuat Wida terkejut. "Aku ada di rumahmu!"


__ADS_2