
Prima merapikan bukunya dengan cepat. Ia ingin segera ke kelas Wida. Eko yang sedang ada urusan dengan TU, sudah melesat meninggalkan kelas lebih dahulu.
Tiba-tiba seseorang duduk disebelahnya. Prima menoleh. Nina. Prima hanya menghela napas saat melihatnya dan melanjutkan merapikan bukunya.
"Prima... " panggil Nina pelan, "kau marah padaku? Maafkan aku. Aku memang salah telah melakukan itu semua. Aku juga pernah melakukan hal itu dulu waktu SMP, tapi kau tidak pernah seperti ini..."
Prima menghentikan kegiatannya dan bersandar kekursi, lalu menoleh ke arah Nina.
"Tapi kita bukan anak SMP lagi. Dan yang kau lakukan dulu dengan sekarang itu berbeda," katanya dengan hati-hati agar tak menyinggung perasaan Nina.
"Dulu kau melaporkan segala tindak tandukku pada ibuku, aku anggap wajar. Karena yang kau adukan hanya aku. Tapi sekarang... ada Wida didalam aduanmu. Dan kau tahu, aku menyayangi Wida. Aku tidak mau orang yang kusayang terluka."
Nina terdiam. Air matanya terlihat tergenang di bola matanya yang memerah.
"Bukankah kau juga menyayangiku? Apa kau pikir aku tidak terluka?"
Prima menghela napas. Kepalanya tertunduk dengan mata yang menatap laci dimana ada bungkusan plastik yang berisi roti dan teh, yang ia beli di kantin tadi.
"Aku sudah berulang kali mengatakan padamu.. aku sayang padamu, seperti aku menyayangi Dewi," kata Prima kembali menatap Nina. "Tidak dapat ku pungkiri, bahwa kau adalah bagian dalam hidupku. Tapi tolong... jalan lewati batasmu."
__ADS_1
Prima merogoh lacinya, diambilnya tas plastik hitam itu, lalu diserahkannya ke Nina.
"Aku khawatir tadi, saat kau tidak ke kantin. Jangan sampai kau telat makan."
Alis Nina berkerut saat menerimanya.
Tiba-tiba Prima berdiri.
"Maaf.. Wida sudah menungguku."
Nina mendongak menatap Prima. Sedikit miris ia mendengar perkataan Prima. Rupanya Wida memang sudah mengakar di hati Prima.
Ia lalu bangun dan memberi jalan pada Prima, yang langsung keluar kelas tanpa menoleh lagi padanya. Sambil mendesah di melihat isi dalam kantong plastik tersebut. Senyum kecil tersembul di bibirnya. Rupanya Prima masih mencemaskannya...
"Kenapa?" tanya Asti yang sudah berdiri disamping Wida. "Ayolah.. mungkin Prima sedang ada urusan."
Wida pun akhirnya bangun dan berjalan di samping Asti menuju keluar kelas.
"Apa kau mau ke kelas Prima?" tanya Asti saat melihat Wida yang selalu mellihat ke arah kelas Prima.
__ADS_1
Wida menggeleng.
"Tidak. Aku menunggu di parkiran saja."
Eko datang menghampiri Asti.
"Mana Prima?" tanya Asti mewakili Wida yang mungkin malu untuk bertanya pada Eko.
"Loh.. ia belum datang?" Eko balik bertanya.
"Tadi aku keluar duluan, ada sedikit urusan di TU. Mungkin ia masih di kelas."
Wida tersenyum.
"Ya sudah, tidak apa. Aku akan tunggu di parkiran."
Wida berjalan ke parkiran di temani Asti dan Eko. Rupanya Eko juga sudah mulai membawa motor seperti Prima. Mereka menunggu Prima ditempat duduk yang disediakan di parkiran. Sesekali mata Wida melihat ke arah gerbang sekolah, berharap Prima keluar dari sana...
Prima berlari menuju ke kelas Wida. Ia takut kalau Wida tidak menunggunya. Pikirannya masih berkutat pada Nina. Ia masih tidak habis pikir dengan sikap Nina padanya, yang sepertinya masih belum bisa melepasnya. Walau ia telah berusaha menjelaskannya bahkan sampai menjaga jarak, hal yang ia tidak pernah lakukan pada Nina.
__ADS_1
Bagaimana tidak, sejak mereka bersekolah di sekolah yang sama, SD, SMP dan kini di SMA, mereka selalu terlihat bersama bagai magnet. Di mana ada dia selalu ada Nina yang mendampinginya. Sampai akhirnya ia bertemu Wida.
Ya... kini ada Wida dalam hidupnya. Dimana ia ingin lebih dari sekedar berteman dengannya, yang bisa membuatnya lebih dari sekedar cemas bila ia tidak bertemu,dan bahkan membuat jantungnya berdetak kencang dengan hanya melihat senyum dibibirnya. DImana semua itu, tidak pernah ia rasakan saat bersama dengan Nina...