Romansa SMA

Romansa SMA
BAB XII : Dia Hanya Temanku..


__ADS_3

Prima yang sedang kesal berjalan cepat sambil menarik tangan Wida. Dan Wida yang tahu akan kekesalannya itu hanya diam saja mengikuti langkah Prima. Ia takut Prima akan semakin marah bila ia tidak menurutinya.


Setelah agak jauh dari gedung sekolah langkah Prima pun terhenti.. membuat Wida juga ikut berhenti. Prima menghempaskan tangan Wida dengan kesal.. lalu berbalik menghadap Wida yang berdiri di belakangnya. Pandangan matanya masih terlihat marah. Ditatapnya Wida dengan tajam.. dan Wida hanya menundukkan kepalanya tanpa berani membalas tatapan Prima.


Mulut Prima terbuka seakan hendak mengatakan sesuatu. Namun karena emosi yang masih bergejolak membuatnya bingung harus memulai dari mana. Akhirnya ia hanya menghembuskan napas untuk meredakan emosinya. Setelah diam sesaat Prima pun tampak mulai tenang.


"Bukankah aku sudah bilang untuk menjauhi dia?" katanya setelah berhasil menemukan kalimat apa yang ingin dia katakan. "Kenapa masih saja menemuinya! Kalau kamu ingin coklat.. bilang padaku! Mau berapa pun aku belikan! Tidak usah minta sama dia!"


Wida mendongak. Ditatapnya Prima dengan tatapan tidak terima jika ia dikatakan seperti itu.


"Aku tidak memintanya!" ucap Wida kesal. "Dan aku juga tidak memintanya datang untuk menemuiku! Ia yang datang sendiri!"

__ADS_1


"Tapi kan kamu bisa menghindarinya!" Prima kembali emosi.


"Kenapa aku harus menghindarinya?" Wida jadi terbawa emosi. "Ia baik. Dan ternyata aku juga sudah lama mengenalnya.. hanya aku saja yang lupa. Jadi mengapa aku harus mengabaikannya? Aku..." kata-kata Wida terhenti, ia terkejut begitu dilihatnya pipi kiri Prima yang lebam akibat pukulan Ryan.


"I..itu.." katanya sambil menyentuh pipi Prima. Prima meringis. "Sakit ya?" Wida yang tadi sudah emosi malah berbalik menjadi prihatin setelah melihat lebam di pipi Prima.


"Kenapa? Senang melihat keadaanku seperti ini?" Prima yang tahu rasa prihatin Wida sepertinya memanfaatkannya agar Wida merasa bersalah. Dan dugaannya sepertinya benar. Wida menggeleng dengan peerasaan bersalah. "Maaf.. " katanya pelan.


"Kalau begitu kamu janji ya.. " katanya semakin mengendalikan suasana hati Wida. "Kamu tidak akan menemuinya lagi." Wida diam. "Janji gaak?" Prima memaksa.


Wida hanya menunduk. "Tapi ia kan hanya teman.." katanya pelan. "Hehhh.." Prima mendesah.. sepertinya ia tidak bisa memaksa Wida.

__ADS_1


"Okeh!" akhirnya ia pun mengalah. " Kalau begitu kamu tanggung jawab saja.." katanya dan berhasil membuat Wida kembali menatapnya.


"Apa.. tanggung jawab apa?" Wida tidak mengerti maksud Prima. Prima tersenyum sambil menunjuk pipinya, "Ini.." katanya. "Kamu harus mengobatinya. Kan teman kamu yang buat aku jadi begini."


Tanpa menunggu jawaban Wida, Prima kembali menarik tangan Wida agar ia mengikutinya. Wida dengan perasaan bingung dan masih tidak mengerti apa mau Prima kembali mengikuti langkah Prima.


Setelah agak lama terdiam akhirnya ia bertanya, "Kita mau kemana?" Prima hanya tersenyum. "Ikut saja.." katanya.


Wida makin penasaran.. "Kemana?" ia pun menghentikan langkahnya. Prima ikut berhenti. Ditatapnya Wida yang penasaran. "Kerumahku", jawabnya. "Untuk mengobati pipiku. Kalau kerumahmu terlalu jauh.. pipiku akan semakin sakit nantinya jika tidak cepat di obati." Prima menjelaskan membuat Wida terperangah.


"Kerumahmu..? Kenapa harus kerumah mu?" tanya Wida yang sepertinya menolak kemauan Prima. Prima yang mengabaikan pertanyaan Wida kembali menarik tangan Wida untuk melanjutkan perjalanan mereka. Saat angkot yang ke arah tujuan rumah Prima melintas, ia pun menghentikannya. Lalu mendorong Wida untuk masuk kedalamnya.

__ADS_1


__ADS_2