Romansa SMA

Romansa SMA
BAB : CXLV : Akhirnya...


__ADS_3

Prima menepati janjinya. Pagi-pagi sekali ia sudah sampai di depan rumah Wida. Diambilnya ponselnya, lalu di hubunginya Wida.


"Aku sudah ada di depan rumahmu, apa aku harus masuk... menyapa ibumu?" goda Prima karena ia sudah tahu apa jawaban Wida.


"Jangan! Aku akan segera keluar!"


Suara Wida terdengar panik, membuat Prima tersenyum karena berhasil menggodanya.


Wida yang benar-benar takut kalau Prima akan nekat masuk ke rumahnya, segera keluar dari kamar. Ia langsung meminum susunya, dan menyambar roti yang sudah tersedia di meja makan. Lalu menadahkan tangannya di depan ibunya yang sedang berdiri menata sarapan, untuk minta uang jajan.


Ibu mengerutkan alisnya sambil mengeluarkan uang dari dompetnya dan menyerahkannya ke tangan Wida.


"Sarapan dulu yang benar, jangan..." perkataan ibunya terputus karena Wida yang langsung kabur keluar rumah setelah mencium tangan ibunya. Alhasil, ibu hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela napas saja setelah mengatup mulutnya.


"Pagi..." sapa Prima tersenyum manis sambil memberikan helm ke Wida.


"Pagi..." balas Wida yang juga sambil tersenyum. Dalam hatinya ia bersyukur, sepertinya Prima sudah tidak marah lagi dan mengungkit masalah Ryan.


Prima membawa motornya dengan kecepatan sedang menuju ke sekolah. Ia ingin menikmati hari ini dengan santai, walau ia tahu mungkin saja nanti akan ada akibat dari kejadian kemarin.


Dari rumah ia sudah bertekad akan menjalankan hari ini dengan normal. Walau ia tidak bisa melupakan masalah yang terjadi kemarin, terutama masalah dengan Ryan. Ia memang tidak bisa menganggap bahwa hatinya baik-baik saja karenanya. Kalau ia mau jujur, ingin sekali ia menghajar anak itu, yang selalu saja mengambil kesempatan bila Wida jauh darinya.


Sekolah masih tampak lengang, hanya baru segelintir siswa yang terlihat lalu lalang di lorong sekolah. Prima yang berjalan di samping Wida, tidak langsung pergi ke kelasnya, melainkan ikut masuk ke dalam kelas Wida.

__ADS_1


Wida meletakkan tasnya di laci, lalu duduk dengan mata yang melihat kesekitar kelas. Beberapa orang temannya sudah hadir. Dengan rasa ingin tahu ia melihat ke arah teman-temannya itu. Ia hanya ingin tahu, apakah teman-temannya masih membicarakan dirinya atau tidak.


Prima yang memperhatikan sikap Wida, tersenyum kecil.


"Tenang saja... mereka akan capek dan berhenti sendiri, lagian kau kan bukan artis atau selebritis," kata Prima seakan tahu apa yang ada di pikiran Wida, dengan nada meledek menggoda agar Wida tidak terlalu tegang.


Dan ledekan Prima pun mengena, Wida langsung menoleh ke arahnya dengan mata melotot. Prima pun langsung tertawa di buatnya.


"Bagaimana? Apa kita ke kantin saja? Masih pagi, lagi pula kau hanya makan roti saja tadi," ajak Prima mengalihkan perhatian Wida.


Wida yang masih manyun tidak menjawab ajakan Prima, namun ia langsung berdiri melewati Prima yang duduk di meja menuju ke luar kelas. Prima yang masih mengulum senyum, mengejar Wida. Lalu dirangkulnya gadisnya itu dan berjalan beriringan menuju kantin.


Asti yang baru datang dan melihat tas Wida ada di laci meja, merasa lega. Karena ia pikir, Wida tidak akan masuk hari ini karena masalah kemarin. Ia langsung menebak kalau Wida pasti ke kantin. Dan setelah meletakkan tasnya, ia pun segera melesat ke kantin menyusul Wida.


"Hai!" sapanya sambil duduk di samping Wida.


Wida yang sedang melamun agak terkejut dengan kedatangan Asti.


"Kemana kau kemarin?" tanya Asti langsung tanpa basa-basi menanyakan perihal kemarin. "Kau tahu, Prima khawatir sekali sampai-sampai ia ke rumahmu."


"Aku..." Wida menoleh ke arah Prima yang masih memesan makanan, lalu menoleh kembali ke Asti, "aku ke rumah Ryan."


"Apa?" pekik Asti tertahan dengan mata membelalak. "Kau sudah gila, ya? Kok bisa?"

__ADS_1


"Saat aku pulang kemarin, aku bertemu dengannya. Ia membawaku kerumahnya," kata Wida setengah berbisik.


"Kok kamu mau, sih?" kata Asti yang tidak setuju dengan sikap Wida.


"Entahlah... aku sedang galau kemarin. Aku tidak bisa apa-apa saat Ryan mendorongku masuk ke dalam taxi."


Asti tiba-tiba terdiam dan duduk bersandar . Ternyata Prima datang mendekat ke arah mereka dengan nampan di tangannya.


Wida langsung menoleh, sedikit canggung ia tersenyum pada Prima.


Prima memilih duduk di hadapan Wida, lalu menata makanan yang dibawanya di meja.


"Maaf As... aku cuma pesen dua, aku tidak tahu kamu datang," kata Prima sambil tersenyum pada Asti.


"Tidak apa.." jawab Asti datar. "Okelah... aku kembali ke kelas dulu, yah.. nanti sarapan kalian terganggu karena aku, lagi.." katanya menggoda Wida. Kemudian ia pun bangun dan berlalu meninggalkan Prima dan Wida.


"Ada apa?" tanya Prima setelah Asti menjauh.


"Hanya menyapa saja," jawab Wida sambil lalu. "Aku makan, ya," katanya lalu menyuap mie yang ada di hadapannya.


Jam pelajaran pertama telah di mulai. Bu Shinta tampak sedang mengajar di kelas Prima. Selang tidak berapa lama kemudian, tiba-tiba pak Anton, wali kelas Wida, datang dan masuk ke dalam kelas. Ia menghampiri bu Shinta yang tengah duduk di depan kelas, dan keduanya langsung berbicara dengan serius.


Prima yang curiga dengan kedatangan pak Anton, memperhatikan keduanya dengan alis berkerut. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang, saat ia melihat pak Anton mengeluarkan selembar kertas dari kantong celananya. Apa itu kertas foto? Batinnya. Matanya mengejap-ngejap karena tegang. Dan jawabannya langsung terjawab, saat mata bu Shinta tiba-tiba melihat ke arahnya...

__ADS_1


__ADS_2