
Wida melihat Prima menghempaskan tubuhnya ke kursi begitu lepasnya. Bersandar lalu memejamkan matanya. Mungkin ia lelah, pikir Wida.
Wida pun ikut duduk disamping Prima, dan membiarkan Prima dengan sikapnya itu. Lampu pun padam, menandakan film akan segera di putar. Wida menoleh ke arah Prima. Rupanya Prima tidak menyadari, bahwa film telah di putar. Karena dilihatnya Prima masih memejamkan matanya.
Wida memandangi wajah kekasihnya itu. Tampak olehnya wajah Prima yang begitu menegang dengan alis yang saling bertautan, seakan ia sedang memikirkan sesuatu. Entah mengapa tiba-tiba hati Wida serasa sakit melihatnya. Ia merasa bahwa dirinyalah penyebab Prima seperti itu.
Telah banyak yang dialami Prima sejak ia berpacaran dengannya. Perkelahian-perkelahian kecil yang mungkin tidak pernah dilakukannya, di panggil guru, bahkan sampai orang tuanya yang kembali ke kota ini, hanya untuk mengawasinya.
Apakah pilihannya benar untuk berpacaran dengan Prima? Batinnya. Mengapa ia merasa bahwa Prima selalu saja menemui masalah setelah berpacaran dengannya? Tiba-tiba ia merasa panas di matanya. Tanpa ia sadari air matanya mulai menggenang. Ia sungguh merasa bersalah pada Prima.
Disentuhnya tangan Prima lembut. Ingin ia mengucapkan kata maaf, namun suaranya seperti hilang di telan rasa bersalahnya. Tiba-tiba Prima membuka matanya, menatapnya terkejut dengan wajah lesunya, yang membuat dirinya semakin tidak bisa menahan air matanya. Dan tanpa ia sadari dirinya telah berada dipelukkan Prima, yang membuat tangisnya pecah disana.
"Ada apa?" tanya Prima yang heran melihat Wida menangis dipelukkannya.
"Maafkan aku.. " kata Wida lirih disela tangisnya.
"Kenapa kau minta maaf... memangnya kau salah apa?" tanya Prima sambil mempererat pelukkannya.
__ADS_1
Saat dirasanya Wida tidak menangis lagi, Prima mendorong pelan tubuh Wida dari pelukkannya. Dengan kedua tangan yang memegang bahu Wida, ditatapnya mata Wida lembut.
"Ada apa?" Prima bertanya lagi. "Jangan menangis.. nanti dikiranya aku melakukan sesuatu yang tidak baik padamu..."
Wida terdiam. Walau tangisnya terhenti, air matanya masih menetes di pelipis matanya.
"Aku... sepertinya aku hanya menjadi beban bagimu," katanya pelan, "aku banyak mendatangkan masalah padamu. Kau.. apa kau menyesal menjadi pacarku?"
Prima tertawa pelan.
"Bohong!" kata Wida pelan. "Aku tahu kau banyak pikiran hari ini. Kau diam pasti karena aku. Sejak kita masuk ke gedung bioskop, kau hanya diam. Bahkan saat film sudah di putar pun kau tidak menyadarinya. Atau... kau juga lupa bahwa aku ada disampingmu?"
Prima menghela napas. Dilepasnya bahu Wida yang sedang di pegangnya, lalu ia kembali bersandar. Ia tidak menyangka bahwa Wida bisa dengan tepat mengetahui isi hatinya.
"Aku hanya lelah, itu saja." Prima tidak mengakuinya. Matanya memandang lurus ke depan seakan sedang memperhatikan film yang sedang di putar.
Wida yang sudah mulai tenang juga bersandar pada kursinya. Ditatanya hatinya dengan menahan emosinya agar tidak terbawa perasaan.
__ADS_1
"Kalau kau lelah... kau tidak harus selalu bertemu denganku," kata Wida setelah tenang. "Kita bisa saling telepon atau kirim pesan. Kau juga tidak usah antar jemput aku. Aku bisa kok pulang pergi sendiri..." saran Wida yang langsung membuat Prima kembali menoleh dan menatapnya tajam.
Wida yang ditatap seperti itu langsung menundukkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Prima ketus, "apa kau berencana menghindariku lagi?"
Wida terdiam sesaat.
"Bukan begitu..."
"Kita baru saja memulai kembali. Aku juga tidak ingin kejadian kemarin terulang hanya karena kau melihat aku seperti ini. Aku manusia, bukan robot. Masa aku tidak boleh merasa lelah?"
Wida kembali menoleh ke arah Prima.
"Aku hanya kasih saran. Kau jangan marah begitu..."
"Kalau saranmu seperti itu, lebih baik kau diam," kata Prima sedikit melunak. "Aku tidak main-main dengan hubungan kita. Seberat apapun bebanku, asal kau ada disisiku... itu bulan masalah bagiku..."
__ADS_1