Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CCXI : Akankah Ia Memberitahu?


__ADS_3

Selesai sarapan Wida dan Mas Danu telah bersiap-siap untuk ke kampus. Bude Lastri yang melihatnya tampak keheranan.


"Loh...? Kok pagi bener?" tanyanya sambil menghampiri Wida dan Mas Danu di ruang tamu. "Bukannya Wida baru mulai besok kuliahnya?"


"Iya, Bu, Wida cuma mau keliling kampus aja, lihat-lihat biar besok ga' keder," ujar Mas Danu. "Kebetulan hari ini aku hanya ada satu mata kuliah, jadi bisa menemani Wida, sekalian keliling Jogja."


Setelah pamit Wida dan Mas Danu pun berangkat dengan mengendarai sepeda motor. Walaupun mereka saudara sepupu, Wida sempat canggung saat duduk di belakang Mas Danu. Maklumlah mereka memang jarang bertemu, walau hanya setahun sekali saat lebaran. Dengan gerakan pelan ia menggeser duduknya, mencoba menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan Mas Danu.


Keadaan jalan raya pagi itu tidak terlalu ramai. Mas Danu mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Wida tampak menikmati angin yang menyentuh wajahnya. Entah mengapa ia tiba-tiba teringat saat berboncengan motor dengan Prima dulu. Saat ia mendekap erat tubuh Prima, bila Prima mempercepat laju motornya...


Akhirnya mereka pun sampai di kampus. Sesuai janjinya, Mas Danu mengajak Wida berkeliling kampus. Dari ruang kelas sampai kantin tempat para mahasiswa berkumpul untuk makan atau sekedar mengobrol. Saat berkeliling, mata Wida pun berkeliaran, mencari-cari sosok yang selama ini dia rindukan, Prima... Namun...jangankan sosoknya, bayangannya saja ia tidak melihatnya. Apakah ia tidak ada kuliah hari ini? Batinnya bertanya..


***


Rupanya sosok yang di cari Wida sedang di dalam kelas, menghadapi buku yang terbuka tanpa membacanya. Pikirannya yang galau, membuatnya mengabaikan sang dosen yang sedang menerangkan pelajaran di depan kelas. Janji Nina pun terlintas dipikirannya, yang akan mencari kabar tentang Wida untuknya. Walau ia meragukan ketulusan hati gadis itu.


Entahlah...sepertinya ia tidak bisa percaya begitu saja pada Nina. Karena ia tahu sifat sahabat kecilnya itu, yang akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Nina bukanlah orang yang mudah putus asa, yang gampang menyerah pada kekalahan. Namun selepas dari itu semua, ia juga mengharapkan bantuan yang Nina tawarkan. Ia benar-benar tidak bisa menolak bantuan Nina untuk mencari tahu keadaan Wida. Yah...kali ini ia akan mencoba untuk percaya.

__ADS_1


"Hhaah..." ******* pelan keluar dari mulutnya, mencoba melepaskan pikiran-pikiran yang mengganggu belajarnya. Dilayangkannya pandangannya ke arah jendela, untuk membuang bayangan Wida. Tapi entah mengapa... Ia malah merasa seperti melihat tubuh mungil kekasihnya itu, yang seakan sedang berjalan di koridor kampus. Merasa itu hanya ilusinya saja, Prima kembali memalingkan wajahnya ke depan kelas, mencoba untuk lebih fokus ke pelajarannya. Sebegitu besarkah kerinduannya pada Wida? Sehingga matanya pun dengan mudah mempermainkannya? Pikirnya resah..


***


Dengan perasaan enggan Nina menghubungi Sifa. Bukan enggan pada sahabatnya itu, melainkan pada tugas yang akan ia berikan padanya.


"Halo, besti... Tumben kau telepon.. Ada apa?" suara Sifa terdengar ceria saat menjawab panggilan Nina.


"Tidak ada apa-apa..." jawab Nina pelan, "sedikit kangen ajah."


"Hei... Aku hapal dirimu. Tidak mungkin tidak ada apa-apanya...kau kan biasanya hanya chat saja kalau siang hari. Malam kau baru telepon..." ujar Sifa yang sepertinya sudah hapal dengan sifat sahabatnya itu.


"Bantuan apa?"


"Kau bisa tolong aku untuk mencari kabar tentang Wida? Aku sudah terlanjur janji dengan Prima, untuk membantunya. Sepertinya mereka tidak berkomunikasi beberapa hari ini.."


"Gila kamu!" terdengar suara Sifa yang sepertinya terkejut mendengar penuturan Nina. "Kenapa sih kau harus ikut campur dengan urusan mereka? Jangan bodoh Nina! Apa untungnya kau melakukan itu? Hanya akan membuat sakit hatimu saja!"

__ADS_1


Nina terdiam sejenak. Memang benar perkataan sahabatnya itu, ia hanya membuang-buang energi dengan melakukan hal bodoh seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi? Hanya itu cara agar ia dapat mendekati Prima.


"Terserah kau mau bilang apa... Kau anggap aku bodoh juga tak apa. Tapi kau mau ya, tolong aku... Please..." Nina memohon.


***


Sifa memasukkan ponselnya kedalam tasnya, begitu obrolannya dengan Nina berakhir. Wajahnya terlihat kesal, karena ternyata sahabatnya itu masih saja berambisi pada Prima. Memangnya di Jogja tidak ada pria tampan, apa? Pikirnya. Sampai sebegitu ngototnya Nina pada Prima. Di sesalnya dirinya yang dulu mendukung Nina, saat sahabat baiknya itu mengejar Prima waktu di SMA. Andai ia tahu Nina masih terus terobsesi begini, ia pasti mencegahnya.


Dan kini sahabatnya itu meminta bantuannya. Bantuan yang bisa saja menyakiti hatinya, walau ia tidak tahu, apa maksud Nina dengan 'membantu' Prima. Walau hatinya kesal, tetap saja ia tidak bisa menolak permintaan Nina. Untung saja ia sedang tidak ada kuliah siang ini, jadi ia bisa melalukan apa yang di minta Nina.


Diambilnya kembali ponselnya dari dalam tasnya. Dilihat-lihatnya nama teman-teman alumni SMA-nya, yang sekiranya pernah berhubungan dengan Wida. Dan pilihannya jatuh pada Soni. Yah...ia tahu, Soni dulu juga naksir berat pada Wida. Ia juga pernah memergoki Soni dan Wida saat 'berkencan'. Dikirimnya pesan hijau pada Soni. Sedikit berbasa-basi, hingga ke pesan inti, yaitu meminta alamat rumah Wida, dengan alih-alih akan mengadakan reuni. Alamat pun di dapat...tanpa menunggu lama, Sifa melangkahkan kakinya untuk mencari rumah Wida...


***


Menjelang sore Nina sudah berada di kamarnya. Ia meninggalkan kampus tadi siang tanpa menunggu Prima. Berkali-kali ia menatap ponselnya, menunggu kabar dari Sifa, yang telah berjanji akan memberinya kabar sore ini. Direntangkannya kedua tangannya diatas tempat tidur. Posisinya yang terlentang, membuat ia menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya menerawang, apakah yang akan ia lakukan bila sudah mengetahui keadaan Wida? Apakah ia akan memberitahu Prima?


Tiba-tiba ponsel yang berada dalam genggaman tangannya bergetar. Saat dilihatnya nama Sifa tertera di layar, ia segera bangun dan duduk di atas tempat tidurnya. Tanpa menunggu lama, digesernya gambar hijau untuk menjawab panggilan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Halo..." katanya cepat.


"Nina... Kau pasti tak akan menyangka! Wida sedang ada di Jogja..!"


__ADS_2