
Keenan dengan acuh terus menuruni anak tangga tanpa henti dan tak menanggapi sama sekali ocehan Sam.
Dengan langkah cepat Keenan memasuki ruang kelasnya yang sudah ramai dengan murid-murid yang lain karena memang sebentar lagi bel tanda masuk sekolah akan berbunyi, Sam yang sedari tadi mengekorinya dari belakang cuma berdecak kesal karena celotehanya sedari tadi tidak di gubris oleh Keenan sama sekali.
Keenan pun duduk dengan malas di kursi bajarnya yang terletak di pojok sebelah kiri paling belakang dekat jendela. Kegiatan menatap kearah luar jendela adalah cara satu-satunya penghibur kebosanan selama jam pelajaran berlangsung.
Baginya kegiatan belajar di sekolah adalah sesuatu yang paling menyebalkan, menurutnya selain bermain basket dan mengendarai motor gedenya atau mengutak-ngatik onderdil untuk memodifikasi motornya selama berjam-jam di bengkel adalah kegiatan yang paling menyenangkan, dari pada harus berkutat dengan buku-buku pelajaranya. Karena tidak suka belajar, wajar jika nilai akademis Keenan tidak ada yang istimewa sama sekali, bahkan cenderung pas-pasan.
***
tak berapa lama Laura pun sudah memasuki area gedung sekolah, dia memutar tubuhnya dan mengedarkan pandanganya untuk mencari di mana lokasi ruang guru berada tapi tidak menemukanya.
Neneknya yang sudah mengatur semua kepindahanya ke sekolah ini kemarin, hari ini terpaksa tidak bisa menemani Laura kesekolah, karena ada urusan yang penting di perusahaan miliknya.
Semalam via telepon neneknya cuma berpesan agar Laura menemui Bu Nina yang juga menjabat sebagai wali kelasnya, saat kebingungan melanda pikiranya, ada seorang murid laki-laki yaang sedang lewat, tanpa berpikir panjang lagi diapun memberanikan diri untuk bertanya.
"Maaf Kak, saya mau tanya? klo ruang guru di sebelah mana ya?" Tanya nya dengan serius dan seramah mungkin di sertai senyuman manis dari bibirnya.
Murid laki-laki itu pun tertegun sejenak, seolah tersihir oleh senyuman manis yang dilayangkan oleh Laura.
"Gila, nih cewek manis banget senyumnya**..." Gumamnya dalam hati, sesaat kemudian dia pun tersadar.
"Ooh, lo pasti murid baru ya?" tebak murid laki-laki itu. Laura pun mengangguk.
"Ruang guru ada di lantai dua, ayo gw anter." Ucapnya lagi. Laura pun dengan senang hati mengikuti murid laki-laki itu.
"Ngomong-ngomong Siapa nama lo?" tanya murid laki-laki itu penasaran, sambil terus berjalan beriringan ke lantai 2.
"Laura..." jawabnya singkat.
"Cakep namanya, secakep orangnya." Goda sang murid laki-laki. Laura hanya tersenyum kecut dengan gombalan yang di dengarnya.
"Perkenalkan, nama gue Rino." Seraya mengulurkan tanganya, mencoba mengakrabkan diri. Dengan sungkan Laura pun terpaksa membalas jabatan tangan Rino karena merasa tidak enak sudah menolongnya mengantarkan ke ruang guru.
__ADS_1
"Nah, itu ruanganya." Tunjuk Rino ke arah ruangan yang ada persis di depan mereka berdua, laura pun mengikuti arah tangan Rino tertuju. Rino hanya mengantar sampai depan pintu lalu dia bergegas kembali untuk menuju ke ruang kelasnya.
"Terima kasih." ucap Laura singkat.
"Sama-sama." Sambil berlalu Rino pun melambaikan tanganya dan tersenyum semanis mungkin ke arah Laura berharap ia akan bertemu lagi nanti, Laura pun tersenyum balik dan membalas lambaian tangan itu.
Kemudian tanpa membuang waktu Laura mengetuk pintu dan mencari seorang guru yang benama Nina sesuai pesan sang Nenek. Tak berapa lama Laura mendapati Bu Nina yang memang sudah menunggunya sejak tadi, mereka pun berbincang sejenak tak lama setelah itu, Bu Nina mengajak Laura untuk menuju ke kelasnya.
Mereka berdua kemudian berjalan keluar ruangan dan menuruni beberapa anak tangga karena kelas 12 ada di bagian gedung paling bawah. Tak lama mereka pun sudah sampai di depan kelas yang dituju.
Murid-murid yang tengah asyik bersenda gurau melihat Bu Guru Nina yang hendak memasuki ruang kelas seketika bersiap dan duduk dengan rapi di bangku mereka masing-masing. Laura pun langsung mengekori Bu Nina dari belakang dan membuat keadaan kelas yang tadinya senyap kemudian sekilas terdengar mereka saling berbisik melontarkan pertanyaan satu sama lain.
"Eh, siapa tuh di belakang Bu Nina?"
"Mana?"
"Anak baru kayaknya..."
"Lumayan manis juga ya?"
"Iya, imut..."
Kira-kira seperti itulah bisikan-bisikan yang samar-samar terlontar dari mulut para murid di kelas itu, Laura yang terlihat kikuk karena semua pandangan murid yang ada di kelas itu tertuju ke arahnya dia mencoba melemparkan senyumnya seramah mungkin untuk mengurangi groginya.
Keenan yang sedang asyik menatap jendela tiba-tiba teralihkan dan sedikit mengangkat alisnya untuk sesaat tak bergeming memandang lekat Laura dari arah belakang, dia masih tidak percaya kalau sosok gadis yang ada di depan kelasnya sekarang adalah gadis yang telah menggetarkan hatinya pagi ini.
Tak terkecuali dengan Rino, senyumnya seakan cerah seketika melihat ternyata Laura yang baru di kenalnya beberapa saat lalu adalah anak baru di kelasnya.
"Selamat pagi anak-anak." Sapa Bu Nina mengawali pembicaran.
"Selamat pagi, Bu." Jawab semua murid dengan serempak.
Tanpa berbasa-basi Bu Nina pun langsung menjelaskan bahwa hari ini ada murid baru pindahan dari sekolah lain, lalu Bu Nina pun menyuruh Laura untuk memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Ayo Laura, perkenalkan dirimu ke teman-teman mu yang lain." Suruh Bu Nina dengan senyumnya seraya menunjuk semua murid yang ada di depanya.
"Baik Bu." Jawab Laura singkat.
Dengan menarik nafas pelan dia pun mulai memperkenalkan dirinya.
"Halo semua... perkenalkan, nama saya Laura Kinanti biasa di panggil Laura, saya pindahan dari SMA 6, senang bertemu dengan kalian, terima kasih." Jelas Laura kesemua murid-murid yang ada lalu beralih dan menoleh ke arah Bu Nina, memberitahu kalau perkenalanya sudah selesai.
"Baiklah, Bu Guru harap kalian bisa berteman dengan Laura dengan baik ya." Bu Nina pun menyuruh Laura duduk di sebelah Keenan, karena memang hanya tempat duduk itulah yg masih kosong sejak dulu, karena semua murid sudah tau anak dari ketua yayasan itu tidak suka bebagi tempat duduk dengan murid lain.
Tapi tidak untuk kali ini, Keenan merasakan hal aneh yang entahlah apa itu, dia hanya merasa dia sama sekali tidak keberatan kalau Keenan harus berbagi bangku dengan Laura.
Saat Laura hendak menghampiri tempat duduknya, perselisihan kecil di bangku belakang sedang terjadi.
"Sam, lo duduk sebelah Keenan, gih." Ucap Rino kepada Sam, karena tempat duduk Sam dan Rino tepat di depan tempat duduk Keenan, Rino yang sudah sangat paham dengan sifat Keenan mencoba mengambil inisiatif agar Keenan tidak risih karena harus berbagi bangku dengan murid lain apalagi perempuan.
Melihat situasi yang ada, Sam pun mengerti dan segera menyetujui dan bergegas akan pindah ke belakang agar Laura bisa duduk bersama Rino.
Sam yang baru akan menaruh bokongnya di tempat duduk yang dituju, seketika urung.
"Hei, mo ngapain lo, nyet? balik gak ke tempat duduk lo!" Perintah Keenan dengan tatapan sinisnya, satu kakinya sudah dia daratkan di atas bangku kosong di sebelahnya.
"Njirr... biasa ajah kali matanya, gw kan cuma..." Sam tidak melanjutkan kembali ucapanya karena melihat Laura sudah berada tepat di depanya menunggu agar ia bisa menempati tempat duduk yang sudah Bu Nina instruksikan.
Dengan nada cengengesan dan senyum jenaka Sam pun refleks menggeser kaki Keenan dengan kasar, hingga kaki kanannya yang sedang nangkring manis di atas tempat duduk itu seketika terjun kebawah, lalu seraya mengibas-ngibaskan telapak tanganya di atas bangku yang tidak kotor itu seolah-olah ada Debu di sana.
"Silahkan Laura, tempat duduk lo udah siap, hehehe..." Ucap Sam dengan terkekeh seraya menunjuk kedua tanganya ke arah bangku di sebelah Keenan dengan senyum mengembang seribu whatt nya.
Laura pun hanya tersenyum manis dengan tingkah kocak murid laki-laki yang ada di depanya itu, dan segera duduk di sana.
Keenan dan Rino pun cuma melongo melihat kelakuan absurd teman se geng nya itu.
bersambung
__ADS_1