Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CXVII : Apa Keburukkanku...


__ADS_3

Nina ternyata masih menunggu Prima pulang. Di lihatnya arlojinya untuk kesekian kalinya. Dua jam lebih sudah waktu berlalu. Hhh.. ia mendesah, membuat Dewi yang sedang menemaninya menoleh ke arahnya.


"Kenapa, kak?" tanya Dewi, "Kakak lelah, ya? Mau tiduran di kamarku?"


Nina tersenyum.


"Tidak.." katanya sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Kemana sih, Prima ini? Pikirnya. Rumah Wida kan tidak terlalu jauh bila ditempuh dengan sepeda motor, masa iya belum sampai?


Dewi yang seakan tahu apa yang di pikirkan Nina menyeletuk, "Mungkin kak Prima jalan-jalan dulu dengan kak Wida."


Nina yang mendengar perkataan Dewi, makin menerawang. Pikirannya menduga-duga apa yang Prima dan Wida lakukan. Bagaimana ini... apakah ia bisa membuat Prima pisah dengan Wida? Sepertinya mereka makin dekat saja belakangan ini. Ibu Prima pun sepertinya tak banyak membantunya.


"Tante mana?" tanya Nina pada Dewi yang sedang membaca majalah disampingnya.


"Tidur siang," jawab Dewi singkat.


Nina mendesah pelan.


"Kalau begitu, kakak pulang saja. Dewi juga mau tidur siang, kan?" katanya sambil beranjak bangun dari duduknya. Dan tanpa menunggu jawaban dari Dewi ia pun melangkah keluar dari rumah.


Dewi yang melihatnya hanya menangkat bahu. Lalu dengan langkah gontai ia menuju ke kamarnya.


Prima dengan setia menunggu Wida di depan meja resepsionis hotel. Untung saja pegawai resepsionis itu memperbolehkan Wida menggunakan toilet, walaupun hanya toilet karyawan.


Tak lama Wida pun datang.


"Bagaimana?" tanya Prima begitu Wida mendekat, "sudah baikkan?"

__ADS_1


Wida mengangguk malu. Haduh... memang perutnya tidak bisa di ajak kompromi, bila di kasih makan pedas. Pasti deh, langsung mules! Memalukan sekali! Untung saja Prima tidak banyak tanya.


Setelah mengucapkan terima kasih pada resepsionis, Prima segera mengajak Wida untuk segera keluar dari hotel dan mengantarnya pulang.


Saat Prima dan Wida melangkah keluar dari hotel, tampak seorang pria paruh baya menghampiri meja resepsionis. Ia seperti bertanya sesuatu pada resepsionis itu. Setelah mendapat jawaban dari resepsionis, pria itu memandangi Prima dan Wida yang berjalan semakin menjauh.


Akhirnya mereka sampai juga di depan rumah Wida. Wida turun dari motor, melepas helmnya dan menyerahkannya pada Prima.


"Kau tidak mengajakku masuk?" tanya Prima, walau pun ia akan tahu jawaban apa yang akan diberika Wida.


Wida terdiam. Ekspresi mukanya berubah galau. Ia ingin menolak, tapi tidak enak dengan Prima.


Prima tertawa melihat perubahan ekspresi wajah Wida.


"Aku hanya bercanda," katanya, "sudah masuk sana. Istirahat. Nanti aku akan telepon jika sudah sampai rumah."


Wida tersenyum. Ah.. syukurlah Prima mengerti, batinnya. Wida pun melangkah masuk kehalaman rumahnya di iringi tatapan Prima.


"Ada apa, Mih?" tanyanya setelah berada di ruang tengah, dimana ibunya duduk menunggunya.


"Duduklah," perintah ibunya.


Prima duduk dengan santai di samping ibunya. Diselonjorkannya kakinya yang dirasanya sangat lelah.


"Kau ini... " ibu memulai percakapan, "apa kau tak tahu berapa lama Nina menunggumu?"


Prima tidak menjawab. Ia hanya mendesah pelan karena sepertinya ia tak ingin membahas masalah Nina.


"Kau sengaja, kan, pulang telat? Kau ini benar-benar tidak bisa menjaga perasaan Nina," kata ibu dengan nada kesal.

__ADS_1


"Ia kesini bukan hanya untuk menyambut kedatangan mamih, tapi juga untuk bertemu denganmu."


"Aku tidak menyuruhnya untuk menungguku," jawab Prima. "Lagian ia kemari dengan kemauannya sendiri," kata Prima sambil mengubah posisi duduknya.


"Dan lagi... bagaimana ia bisa tahu kalau mamih akan datang hari ini? Aku saja tidak tahu kalau mamih akan pulang."


"Kami memang selalu berhubungan. Jadi wajar saja bila Nina tahu kalau mamih akan pulang," kata ibu jujur mengenai hubungannya denga Nina.


Prima menoleh ke arah ibunya.


"Berhubungan?" tanyanya tak percaya. "Aku saja yang anak mamih jarang menghubungi mamih. Bagaimana ia bisa sedekat itu dengan mamih?"


"Yah... awalnya Nina hanya menanyakan kabar Dewi. Lalu sekalian deh, mamih menanyakan keadaanmu bila disekolah," jawab ibu hati-hati takut Prima salah paham.


Prima mendesah dengan kesal kali ini.


"Itu namanya memata-matai aku!" kata Prima kesal.


"Kenapa tidak mamih tanya saja pada Eko? Ia lebih tahu keadaanku daripada Nina."


"Eko akan menutupi keburukkanmu jika kamu melakukan kesalahan," dalih ibu. "Sedangkan Nina.. ia akan menceritakan semuanya."


"Memangnya keburukkan apa yang aku lakukan?" tanya Prima, dengan suara yang terdengar marah.


"Apa yang di laporkan Nina pada mamih?"


Ibu Prima melipat bibirnya. Ah... kenapa ia keceplosan mengatakan kalau Nina mengatakan semuanya? Batin ibu Prima. Bisa-bisa nanti Prima marah pada Nina.


"Tidak.. tidak ada yang di laporkan Nina pada mamih," kata mamih dengan suara yang terdengar menutupi sesuatu.

__ADS_1


"Jangan bohong, Mih," paksa Prima, "katakan saja... aku tidak akan marah..."


__ADS_2