
"Aku serius Kak.. untuk saat ini aku akan berlaku seperti adik," Ryan maju selangkah menghampiri Wida.
"Ayo, masuklah ke dalam.. Kakak butuh istirahat."
Ada keraguan di mata Wida. Di tatapnya lekat-lekat mata Ryan. Wida melihat ada ketulusan di mata itu. Dan akhirnya ia pun mengalah, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Rumah Ryan yang bernuansa putih sungguh memukau Wida karena besarnya. Istana, mungkin itu kata yang tepat untuk rumah semewah ini, pikir Wida. Dengan langkah pelan Wida menuju ke ruang tamu. Andai saja ia sedang memakai gaun, ia pasti seperti seorang putri yang sedang berjalan di dalam istana.
"Duduklah.." kata Ryan begitu mereka berada di ruang tamu, membuyarkan hayalan Wida.
Wida mengangguk, lalu duduk dengan kikuk karena Ryan sedang memperhatikannya. Ia takut kalau Ryan tahu apa yang sedang di pikirkannya. Huft..
Ryan meninggalkan Wida sendirian diruang tamu. Sepertinya ia pergi untuk mengambil minuman, karena tak lama ia keluar dengan seorang wanita paruh baya yang membawa baki berisi minuman.
"Silahkan.." kata wanita itu pada Wida sambil meletakkan minumnya di atas meja.
"Terima kasih," jawab Wida, sebelum wanita paruh baya itu meninggalkan Wida dan Ryan.
Ryan menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di depan Wida. Di tatapnya Wida yang terlihat gelisah. Biarlah.. batinnya, biarlah untuk saat ini aku menjadi adik baginya, asal ia merasa nyaman denganku, dan aku bisa selalu di dekatnya. Biarlah seperti ini dulu..
Tiba-tiba terdengar suara ponsel berbunyi. Ponsel Wida. Wida segera mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Saat dilihatnya ponselnya, tertera nama Prima di layar ponsel. Wida tertegun.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Ryan dengan alis berkerut.
Wida tidak menjawab pertanyaan Ryan, namun matanya menatap Ryan dengan tegang. Lalu ia kembali menatap ponselnya dengan perasaan bimbang, apakah akan menjawab panggilan Prima itu.
Lama ponsel Wida berdering... dan akhirnya berhenti. Entah kenapa Wida menarik napas lega saat dering ponselnya tidak berbunyi lagi.
Ryan memperhatikan raut wajah Wida yang terlihat tegang, dan lega kembali ketika ponselnya tak berbunyi lagi. Ia tahu itu pasti dari Prima.
"Kenapa tidak dijawab?" tanyanya datar. "Apa takut Kak Prima akan salah paham?"
"Aku hanya sedang tidak ingin berbicara dengannya..." jawab Wida sambil menatap ponselnya dengan galau. Wida mendesah, ia merasa bersalah mengabaikan panggilan Prima. Tapi saat ini, ia benar-benar tidak ingin berbicara dengan Prima.
Prima melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Ia ingin segera memastikan bahwa Wida sudah pulang ke rumah atau belum.
Teringat olehnya saat istirahat tadi, ketika Wida ingin pergi meninggalkan sekolah. Ia pikir Wida tidak akan melakukannya karena ia telah melarangnya. Tapi ia ternyata tertipu... Wida tetap melakukannya. Kenapa? Apa Wida tidak percaya padanya kalau ia bisa melindunginya? Apa Wida meragukannya? Begitu banyak pertanyaan dalam hatinya..
Asti dan Eko berada di parkiran motor. Tadinya mereka berniat mengikuti Prima pergi kerumah Wida. Namun Asti menyarankan agar mereka menelpon ibunya Wida lebih dulu.
"Kenapa kau tadi tidak mengatakan pada Prima, kalau kau punya nomor ibunya?" kata Eko menegur Asti.
"Aku lupa. Aku terlalu panik tadi..." kata Asti sambil mencari nomor ibu Asti di ponselnya. Lalu menghubunginya. Tak perlu menunggu lama, panggilannya terjawab.
__ADS_1
"Ia, Asti... ada apa?" tanya ibu Wida saat menjawab teleponnya.
"Ibu... apa Wida sudah sampai di rumah? Tadi ia pulang dengan tergesa dan meninggalkan bukunya," Asti beralasan agar ibu Wida tidak curiga.
"Belum... ia belum sampai, mungkin masih di jalan."
Mata Asti melebar karena terkejut mendengar kalau Wida tidak ada dirumahnya. Eko yang melihat ekspresi muka Asti yang menegang, ikut cemas. Ia menduga kalau Wida pasti belum pulang.
"Baiklah Bu, buku Wida akan aku antarkan saja nanti. Terima kasih, Bu," Asti memutuskan panggilannya.
"Bagaimana ini? Wida belum pulang... kemana dia?" Asti menatap Eko penuh khawatir pada Wida.
Eko terdiam sesaat, memikirkan cara agar dapat menemukan Wida.
"Coba kau hubungi Wida. Mungkin saja ia mau menjawab teleponnya bila itu dari kamu," saran Eko.
Wajah Asti berubah cerah seketika mendengar saran Eko. Tanpa menunggu lama ia langsung menghubungi Wida. Dan benar saja, Wida langsung menjawabnya...
Bu Rum salah seorang guru yang bertugas piket mengawasi siswa hari itu, sedang duduk di bangku pengawas sambil membolak-balik buku piketnya. Dan saat ia mengangkat buku piketnya untuk di bawanya ke kantor, ia melihat selembar kertas putih di bawah buku itu.
Diambilnya kertas itu yang sepertinya sebuah kertas foto. Dan saat di baliknya, matanya membelalak terkejut melihat gambar yang ada di foto itu. Segera ia berlari ke dalam kantor dengan membawa foto ditangannya...
__ADS_1