
Mata Soni menyipit saat melihat Prima yang menyapa Wida. Bukankah mereka putus? Batinnya, tapi mengapa mereka terlihat akrab kembali? Apa ada sesuatu yang ia tidak tahu?
Tiba-tiba Nina mendekati Soni.
"Kau jangan heran," kata Nina pelan, "mereka tidak benar-benar putus... hanya sandiwara. Untuk mengelabui kita, sepertinya."
Soni diam tidak menanggapi omongan Nina. Sebenarnya ia sudah bisa melepas Wida, sejak Wida menghindarinya bila ia datang menjemput. Namun entah mengapa ia tak rela kalau Wida bersama Prima, rivalnya dalam segala hal. Soni menghela napas, melepaskan sesak yang tiba-tiba saja datang menghimpit dadanya.
Prima berjalan disamping Wida. Saat tangannya bersentuhan dengan tangan Wida, ingin rasanya ia menggenggam tangan itu. Sesekali di sengajanya tangannya menyentuh tangan Wida. Wida yang asik berbicara dengan Asti yang ada disebelahnya tidak menyadarinya.
Saat akan menyeberang jalan, Prima langsung menggenggam tangan Wida dan menariknya untuk menyeberang. Wida yang terkejut, hanya mengikuti langkah Prima.
Beberapa mata yang ada di belakang mereka, ada yang melihatnya dengan senang dan ada pula yang melihatnya dengan penuh kecemburuan.
Namun Prima yang hatinya sedang senang karena hubungannya kembali membaik dengan Wida, tidak peduli dengan pandangan teman-temannya. Bahkan ia semakin erat menggenggam tangan Wida walau sudah ada di seberang.
Wida yang merasa risih berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Prima. Prima menoleh dan menatap tajam Wida, yang membuat Wida akhirnya mengalah dan membiarkan Prima menggenggamnya.
Rombongan Prima telah sampai di SMA Harapan. Prima menyuruh Wida dan yang lainnya menunggu di tempat penonton yang sudah disiapkan oleh anak-anak SMA Harapan. Para pemain pun langsung berkumpul dan mengganti seragam sekolah dengan kaos yang memang sudah mereka bawa.
__ADS_1
Wida, Asti dan Uli segera duduk di tempat penonton tidak jauh dari tempat Nina berada.
"Untung kau ikut Ul, coba kalau tidak..." kata Asti sambil menunjuk dengan kepalanya kearah Nina cs, "bisa kalah sorak kita."
Wida ikut menoleh kearah yang ditunjuk Asti tepat saat Nina sedang melihat kearahnya dengan pandangan sinis. Beberapa detik mereka saling tatap, sampai Asti menegur Wida.
"Sudah... ngapain dilihatin," kata Asti pelan. Dan Wida pun menurut, lalu mengalihkan pandangannya ketengah lapangan.
Eko tampak berlari mendekati mereka.
"Titip tas ya," katanya pada Asti sambil menyerahkan tasnya dan tas Prima. Lalu berlari lagi ketengah lapangan.
Dan dugaan Wida benar. Nina masih melihat kearah Wida dengan pandangan kesalnya. Bagaimana tidak, dulu dirinyalah yang selalu memegang tas Prima bila Prima sedang bertanding. Tapi kini gara-gara seorang Wida, apa yang pernah ia lakukan untuk Prima, tidak pernah lagi ia lakukan.
Di mata dan pikiran Prima sudah tidak ada lagi dirinya. Semua benar-benar sudah terganti oleh Wida. Sia-sia sudah usahanya yang selama ini ia lakukan untuk Prima. Nina menghela napasnya kesal. Apakah benar cinta bisa mengubah segalanya?
Di lapangan pertandingan sudah di mulai. Dan semua mata penonton tertuju kelapangan. Prima dan Soni berusaha keras untuk jadi yang terbaik. Tapi lama-lama terlihat sepertinya mereka bersaing satu sama lainnya. Soni beberapa kali terlihat merebut bola yang seharusnya di terima Prima. Terkadang sengaja menyenggol Prima saat merebut dan mendrible bola. Dan semua itu tak luput dari penglihatan Eko.
Eko yang tahu watak Prima yang emosian, berusaha menenangkan dengan menepuk bahu Prima. Dan Prima berusaha meredam emosinya.
__ADS_1
Soni memang sedang berusaha menjadi bintang lapangan bagi timnya. Ia ingin menunjukkan pada Wida, bahwa ia lebih baik di banding Prima. Hampir semua operan bola di ambilnya, tanpa memberikan kesempatan pada yang lainnya. Prima yang sebagai kapten di timnya, beberapa kali menegur lewat isyarat, namun selalu di abaikan oleh Soni dengan pura-pura tak melihat isyarat yang diberikan Prima.
Istirahat babak pertama tiba. Para pemain berkumpul di pinggir lapangan tempat para pendukungnya berkumpul. Prima menghampiri Wida, meminta botol minumnya yang ada di tas. Wida dengan grogi mengambilnya.
"Terima kasih," katanya sambil tersenyum. Wida menanggapinya dengan anggukkan kecil.
Prima kembali ke timnya, dan memberi arahan.
"Tolonglah... ini permainan tim, bukan perorangan. Jangan menguasai sendiri. Terutama kau, Son. Kau bisa mencelakai tim bila bermain sendiri. Bola di oper pada pemain yang bebas. Kau jangan main serobot saja," kata Prima memberi saran.
Soni tersenyum sinis.
"Tapi aku bisa mencetak angka, kan? Kenapa di permasalahkan?" jawab Soni ketus.
"Ia... tapi ini kan permainan tim. Tidak semua bola kau yang ambil," Prima mulai emosi.
"Sudahlah... " Eko menengahi. "Aku rasa nanti tim lawan pasti akan menaruh tiga orang untuk mengahadang Soni. Siapa yang berkesempatan mengoper bola, oper pada pemain yang bebas."
Peluit berbunyi, menandakan babak ke dua di mulai...
__ADS_1