
Prima melajukan motornya tanpa arah tujuan yang pasti. Dengan kecepatan penuh ia membelah malam yang masih ramai dengan hiruk pikuk kendaraan lainnya. Saat ia merasakan rangkulan Wida yang begitu erat, ia baru menyadari kalau ia membawa motornya terlalu cepat. Ia pun segera menurunkan kecepatannya agar Wida tidak cemas.
"Kita mau kemana?" tanya Wida sedikit teriak takut Prima tak mendengarnya. Akhirnya ia bertanya juga karena disadarinya Prima sepertinya tidak punya tujuan.
Namun Prima tidak menjawab pertanyaan Wida. Ia tetap fokus pada motornya. Cukup lama ia membawa Wida berputar-putar tanpa arah. Sampai akhirnya ia tiba di depan rumah Eko. Prima mematikan mesin motornya dan memasang standar motornya.
Wida yang menyadari kalau mereka ada di depan rumah Eko, mengerutkan alisnya.
"Mau apa kita kesini?" tanyanya bingung.
Prima melepas helmnya dan menggantungnya di spion motornya.
"Aku ingin tempat yang tenang.. dan disini adalah salah satu tempat yang tenang bagiku.." katanya sambil merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya. Lalu ia menghubungi seseorang, dan sepertinya Eko.
"Ko... aku ada di depan rumahmu," katanya santai setelah terhubung dengan Eko. Dan tanpa menunggu jawaban Eko ia langsung memutuskan panggilannya dan meletakkan kembali ponselnya kedalam sakunya.
Wida yang masih duduk di belakang Prima, ikut membuka helmnya.
"Iya.. tapi kenapa kita kesini?" katanya dengan nada tidak setuju.
"Kan tidak enak, malam-malam mengganggu."
"Tenang saja, orang tua Eko sedang di luar kota. Dia malah senang ada yang menemani.."
Tidak berapa lama pintu pagar besi rumah Eko terbuka. Ternyata Eko yang membukanya, dan tentu saja dengan wajah yang terlihat kesal. Sepertinya ia merasa terganggu.
"Malam-malam begini... memangnya tidak ada tempat lain untuk kalian datangi?! Mengganggu saja.. " gerutunya.
Namun sepertinya lain dimulut lain dihati. Karena walaupun mulutnya menggerutu, Eko tetap membuka pintu pagarnya lebar-lebar agar motor Prima bisa masuk.
Prima yang tahu watak sahabatnya itu, hanya tersenyum saja mendengar gerutuannya. Lain halnya dengan Wida, ia menganggap gerutuan Eko dengan serius. Ia merasa tidak enak dengan Eko, karena mereka telah mengganggu malamnya.
"Maaf..." katanya penuh perasaan sambil turun dari motor Prima.
Eko hanya mendesah pelan menanggapi permintaan maaf Wida. Lalu ia membiarkan Prima lewat di depannya untuk masuk kedalam, dengan di iringi Wida yang berjalan sambil tertunduk malu.
Keadaan rumah Eko tampak sepi, sepertinya benar kata Prima kalau orang tua Eko sedang keluar kota. Wida memandang berkeliling melihat kesekitar rumah Eko. Walau tidak sebesar rumah Prima, rumah Eko cukup besar juga baginya. Dengan dilengkapi perabotan rumah yang sederhana dan tertata rapi.
__ADS_1
"Terserah kalian mau duduk dimana," kata Eko setelah mereka tiba diruang tamu. "Asal jangan macam-macam."
Eko lalu meninggalkan Wida dan Prima menuju kamarnya. Sepertinya ia ingin melanjutkan permainan gamenya yang tertunda karena kedatangan mereka.
Wajah Wida sempat kembali memerah saat mendengar Eko mengatakan 'macam-macam'. Ia langsung menjaga jarak dari Prima. Prima yang melihatnya hanya tersenyum simpul. Di hampirinya Wida, lalu di raih tangan kekasihnya itu.
"Kau jangan pedulikan apa yang di ucapkan Eko. Ia tidak serius," katanya pelan. Kemudian ia membawa Wida keruang tengah, tempat dimana keluarga Eko biasa menonton televisi.
"Duduklah.. aku akan mengambil minum."
Wida masih berdiri terpaku dengan mata menatap kearah Prima yang sedang berjalan kedapur rumah Eko. Ia mendesah pelan.
Gila..! batinnya. Beraninya ia melam-malam meninggalkan rumah, tanpa sepengetahuan ibunya. Bagaimana kalau tiba-tiba ibunya mengecek kamarnya dan mendapati ia tidak ada disana? Wida memejamkan matanya seakan menyesali perbuatannya. Aah... mau bagaimana lagi.. nasi sudah menjadi bubur..
Wida mendekati sofa panjang dan duduk disana. Tangannya meraih remot yang ada di meja nakas di samping sofa. Tidak berapa lama Prima datang dengan membawa nampan di tangannya, berisi dua gelas teh manis hangat.
"Maaf.. lama ya?" katanya sambil tersenyum hangat. Diletakkannya nampan itu di atas meja nakas, kemudian ia duduk disamping Wida, yang membuat Wida reflek menggeser duduknya.
Keduanya terdiam sejenak, merasa canggung satu sama lain.
Wida yang mendengarnya hanya terdiam. Jemarinya memainkan remot tivi yang ada ditangannya, menutupi rasa gugupnya. Bagaimana tidak.. ia hanya ada berdua saja di ruangan itu, duduk bersebelahan di sofa yang empuk. Dan ia juga tahu... bagaimana sikap Prima bila ia lengah...
"Kenapa kau diam saja?" tanya Prima tiba-tiba mengejutkan Wida.
Wida tergagap.
"Ti.. tidak. A.. aku tidak apa-apa.." jawab Wida terbata.
Aduh.. batinnya. Kenapa ia harus gugup begini?
Prima menyandarkan tubuhnya kesandaran sofa. Terdengar helaan nafas yang berat dari mulutnya.
"Seminggu lagi aku akan berangkat ke Jogja.." katanya pelan. "Aku akan meninggalkanmu di sini. Tapi kau tahu aku tidak ingin berpisah denganmu.. Kenapa kau tidak ikut saja kuliah disana? Aku akan bantu kalau soal biaya.."
Wida tertunduk.
"Bukan aku tak mau kuliah disana.. aku juga tidak ingin berpisah denganmu.." jawab Wida membuat Prima menegakkan kembali tubuhnya dan mendekat ke arah Wida.
__ADS_1
"Kalau begitu ikut aku!" serunya bersemangat. "Aku akan urus semuanya.."
Wida menoleh kearah Prima. Ia sedikit terkesiap karena dekatnya wajah Prima dengan wajahnya. Wida menarik wajahnya sedikit kebelakang.
"Tapi aku juga tidak ingin meninggalkan ibuku sendiri disini.. hanya aku yang dia punya."
Prima kembali mendesah. Wajahnya tertunduk lesu. Kalau masalah yang satu itu, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tahu Wida sangat sayang dan di manja oleh ibunya. Bagaimana bisa ia jauh dari ibunya?
"Berarti kau membiarkan aku sendiri disana.." katanya merajuk.
Wida yang masih menatap Prima tampak tersenyum kaku.
"Bukankah ada Nina yang akan menemanimu?" katanya pelan. "Kau akan baik-baik saja disana.."
Prima langsung mengangkat wajahnya. Ditatapnya wajah Wida yang terlihat dengan senyum kakunya itu.
"Bagaimana aku baik-baik saja? Memangnya Nina yang jadi pacarku?"
"Setidaknya kau ada yang menemani.."
Tatapan Prima terlihat kesal. Ia seakan tidak percaya Wida akan berkata seperti itu. Apa ini? batinnya. Apakah Wida cemburu mengetahui ia akan kuliah bersama Nina?
"Sepertinya kau tidak suka aku kuliah bersama Nina.."
Wida terperanjat.
"Bu... bukan seperti itu," jawabnya gelagapan. "Aku tidak masalah kau kuliah dengannya disana.."
"Kalau kau keberatan.. larang aku untuk berangkat. Maka aku tidak akan pergi. Aku akan kuliah disini bersamamu. Tidak peduli bila papihku akan marah padaku.." kata Prima terdengar serius.
Wida terdiam. Sebenarnya ia senang bila Prima tidak jadi berangkat ke Jogja. Itu artinya ia bisa terus bersama Prima. Tapi ia juga tidak mau bila Prima bertentangan dengan orang tuanya hanya karena dia.
"Tidak.. aku tidak akan melarangmu. Aku tidak ingin kau terkena masalah dengan orang tuamu karena aku. Pergilah.. aku tidak apa-apa.." katanya lirih.
Tapi sepertinya Wida tidak bisa menutupi perasaannya kalau sepertinya ia tidak ingin berpisah dengan Prima. Karena tanpa disadarinya air matanya telah menggenang di pelupuk matanya, dan mengalir di pipinya.
Prima yang melihatnya terenyuh. Dengan sekali gerakan di raihnya tubuh kekasihnya itu kedalam pelukkannya. Membelai lembut punggung Wida, untuk menenangkan kekasihnya itu yang mulai terisak..
__ADS_1