
Prima menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup kembali, setelah Nina keluar. Ia memikirkan pertanyaan Nina yang menurutnya sedikit janggal. 'Apakah menurutmu, Wida akan datang ke Jogja untuk menyusulmu?' Dan ia hanya menjawab, 'Entahlah...'
Yah... Jawabannya tidak salah. Ia tidak tahu apakah Wida akan datang kesini atau tidak. Lagi pula untuk apa Wida menyusulnya? Ia bisa datang kapan pun, bila Wida memintanya. Tapi...kenapa Nina bertanya seperti itu? Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan darinya...
***
Pagi pun datang. Nina kembali melewatkan sarapan paginya. Kali ini ia tidak menunggu Prima untuk berangkat ke kampus, karena ia ingin lebih dulu sampai ke kampus dari pada Prima. Ada yang ingin ia pastikan disana, tentang apa yang di katakan Sifa kemarin.
Turun dari taksi, ia menunggu di gerbang kampus. Ia mengambil tempat yang cukup tersembunyi, agar tidak terlihat orang yang sedang di tunggunya. Wida.. Ia ingin memastikan, apakah benar apa yang dikatakan Sifa, bahwa Wida kini kuliah di kampus yang sama dengan dirinya dan Prima.
Cukup lama juga ia menunggu, sampai akhirnya matanya terbelalak, saat ia melihat sosok Wida yang tengah berboncengan dengan seorang pemuda.
"Haaah..." desahnya tak percaya. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Sifa! Batinnya. Ternyata mereka ada di kampus yang sama!
Belum hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba ia melihat Prima yang akan memasuki gerbang kampus. Rasa panik kini melanda dirinya. Otaknya segera berpikir cepat, mencari cara agar Prima tidak sampai ke area parkir dan bertemu Wida disana.
"Prima!" teriaknya spontan memanggil Prima. Yah...saat ini hanya itu yang dapat ia lakukan untuk menghentikan Prima. "Tunggu!" Dan untungnya Prima berhenti.
Prima yang mendengar namanya di panggil oleh suara yang ia kenal, reflek menghentikan motornya. Kepalanya menoleh ke arah dimana suara itu berasal. Ia melihat Nina berlari menghampirinya.
"Ada apa?" tanyanya begitu Nina sudah berada didekatnya.
"Ah.. Anu..." Nina tergagap. Ia terdiam sejenak. Aduh...aku harus bilang apa? Pikirnya. "Apakah kau membawa pulpen lebih?" ujar Nina cepat. Hanya itu alasan yang terlintas di kepalanya."Tempat pensil aku tertinggal."
Prima mengerutkan keningnya. Ia agak aneh dengan tingkah Nina hari ini, karena tidak biasanya Nina lupa akan sesuatu. Namun karena tidak ingin berlama-lama, diambilnya pulpen dari dalam tasnya.
"Ini.." katanya sambil memberikan pulpennya pada Nina.
"Terima kasih," kata Nina sambil menerima pulpen dari Prima.
Saat Prima akan melajukan motornya, kembali Nina menghalanginya dengan memegang lengan Prima.
"Tunggu sebentar..." ujarnya cepat sambil mencari-cari alasan apalagi yang akan ia katakan pada Prima. "Maukah kau makan siang bersamaku hari ini?"
__ADS_1
Prima semakin merasa aneh dengan sikap Nina.
"Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Prima dengan nada khawatir.
Nina menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak... Aku tidak apa-apa," jawabnya pelan sambil berusaha tersenyum. "Kau mau, kan?" tanyanya lagi.
Prima mengangguk.
"Iya... Aku akan menghubungimu nanti," Prima menerima ajakan Nina.
Nina tersenyum.
"Baiklah..." katanya sambil melapaskan pegangannya pada lengan Prima. Dan ia pun membiarkan Prima berlalu meninggalkan dirinya.
"Huuuf..." Nina mendesah lega. Tubuhnya terasa lemas, karena ia merasa tegang saat berhadapan dengan Prima tadi.
***
Tapi apa? Pikirnya. Apakah ada yang ia sembunyikan mengenai Wida? Apakah ada sesuatu yang tidak ia sampaikan tentang kekasihnya itu? Yah...ia yakin, sikap aneh Nina pasti berkaitan dengan Wida. Akan kutanyakan nanti saat makan siang...batinnya.
***
Tak lama setelah Prima berlalu, Nina segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kampus. Matanya berkeliaran mencari sosok Wida dan pemuda yang bersamanya tadi. Dan akhirnya ia menemukan mereka yang sedang berjalan di koridor kampus.
Nina mengenali pemuda yang berjalan disisi Wida. Itu Kak Danu! Serunya dalam hati. Seniornya sekaligus Asisten Dosen, yang sering mengajar dikelasnya menggantikan Pak Anwar, dosennya.
Hebat! Batinnya. Bagaimana bisa Wida mengenal Kak Danu, senior yang cukup disegani dan di gandrungi para wanita di kampusnya itu. Yah...hampir semua wanita yang ada di kampusnya mengenalinya. Baik yang baru atau pun yang telah lama jadi penghuni kampus ini. Tampan, pintar, serta ramah, semua ada di diri Kak Danu.
Apakah karena ini, hingga Wida berhenti menghubungi Prima? Membuat kekasihnya cemas, karena ada sosok yang baru? Nina bertanya-tanya di dalam hatinya. Dan tanpa sengaja, mata mereka bertemu...
***
__ADS_1
Wida akan memulai kuliahnya hari ini. Bersama Mas Danu, ia berangkat ke kampusnya. Ternyata Mas Danu cukup terkenal dan berpengaruh di kampus. Hampir semua orang menyapa dan disapanya, saat mereka berjalan di koridor kampus. Ia pun memperkenalkan Wida pada teman-temannya, dan dalam sekejap banyak senior-seniornya yang menawarinya untuk ikut dalam kegiatan kampus. Wida hanya tersenyum menanggapinya.
Wida melirik ke jam tangannya, sepertinya ia sudah harus masuk kelas.
"Mas Danu," bisik Wida pelan, "Aku mau ke kelas, sebentar lagi pelajaranku di mulai."
Danu yang sedang asik berbincang, menghentikan percakapannya. Ia menoleh ke arah Wida.
"Ya, sudah," katanya sambil tersenyum ramah, "apa perlu Mas antar?"
Wida menggeleng.
"Tidak usah," jawabnya, "Aku bisa sendiri."
Wida pun meninggalkan Mas Danu dan teman-temanya. Dengan langkah cepat ia menuju ke kelasnya.
Danu memandangi punggung Wida yang menjauh, sampai salah seorang temannya menyentuh pundaknya.
"Hei... Adikmu, apakah ia sudah punya pacar?" tanyanya yang membuat Danu menoleh cepat. Tanpa menjawab, Danu hanya mengepalkan tangannya ke arah temannya itu, membuat sang teman terbahak.
***
Wida yang sedang berjalan menuju kelasnya, melayangkan pandangannya ke halaman kampus. Dan tanpa sengaja, matanya menangkap sosok wanita yang sepertinya ia kenal.
Nina! Teriaknya dalam hati. Dan langkahnya pun terhenti. Dengan bibir tersenyum, Wida melambaikan tangannya pada Nina yang sepertinya sedang menatap ke arahnya. Namun sepertinya Nina mengacuhkannya. Tanpa membalas lambaian Wida, ia berlalu seolah tidak mengenalinya.
Wida tertegun sejenak. Tangannya yang tadi melambai, perlahan turun. Ah, betapa bodohnya ia...sesal Wida. Mana mungkin Nina akan membalas lambaiannya? Mereka kan tidak seakrab itu...
Wida kembali berjalan. Namun pikirannya masih memikirkan sikap Nina yang terlihat acuh padanya. Ia tidak menyangka, kalau Nina masih membencinya.
Tiba-tiba Wida kembali menghentikan langkahnya. Ia tertegun sejenak. Ada Nina...berarti ada Prima! Serunya dalam hati. Kembali Wida melihat ke halaman kampus, mencoba mencari sosok Prima disana. Namun sejauh matanya memandang, ia tidak mendapati sosok kekasihnya itu.
"Ah..." Wida mendesah pelan. Lalu dengan rasa kecewa ia kembali melangkahkan kakinya...
__ADS_1