
Pak Anton menghela napas. Sepertinya ia tidak menyangka bahwa masalah yang terjadi di antara muridnya akan serumit ini. Sebenarnya bukan masalah besar. Hanya masalah cinta monyet yang berujung kecemburuan dan saling menjatuhkan.
"Bagaimana bu Shinta... apa kita panggil sekarang Anin dan Nina?" tanya pak Anton pada bu Shinta yang ada di sebelahnya.
"Terserah Bapak. Kalau mau masalah ini cepat selesai, ya harus di panggil sekarang," jawab bu Shinta. "Tapi kasihan Sofi... nanti dia ketinggalan pelajaran," katanya lagi sambil menatap Sofi yang tampak tertunduk.
"Ya sudah kalau begitu," pak Anton menanggapi perkataan bu Shinta.
"Kita lanjutkan besok saja. Kau kembali saja dulu ke kelas. Tapi bila besok kau Bapak panggil, harus datang ya," kata. pak Anton pada Sofi.
Wida berjalan cepat mendahului Prima saat mereka keluar dari ruang BK. Dadanya terasa sesak, membuat dirinya ingin segera pergi dari sekolahnya. Ia merasa matanya mulai terasa panas. Sepertinya air matanya akan tumpah. Ia pun akhirnya berlari, tanpa peduli pada Asti yang memanggilnya.
Prima yang melihatnya langsung mengejar Wida. Di tangkapnya tangan Wida setelah jarak mereka hanya selangkah.
"Kau mau kemana?" tanyanya bingung dengan sikap Wida saat berhasil membuat langkahnya terhenti.
"Pulang," kata Wida singkat tanpa melihat ke arah Prima. Ia tidak ingin Prima melihat matanya yang menangis.
"Aku antar," kata Prima sambil menarik tangan Wida agar mengikuti langkahnya.
Tapi Wida menyentak tangan Prima.
"Aku ingin pulang sendiri," katanya dengan suara terisak, karena tangisnya yang pecah.
Prima tampak terkejut saat melihat Wida menangis. Diraihnya tangan Wida kembali dan dipegangnya dengan erat.
"Kenapa? Bukankah masalahnya sudah selesai? Kan kita sudah menemukan pelakunya."
Wida menggeleng, lalu menyeka air matanya dengan tangannya yang bebas.
"Aku hanya capek.. dan aku ingin pulang..." Wida menatap Prima dengan tatapan memohon agar Prima melepaskannya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Asti begitu sudah berhasil menyusul Wida dan Prima bersama Eko.
"Tidak ada apa-apa," Prima menjawab karena Wida sepertinya sedang menahan tangisnya.
"Ko, kita kerumahmu. Aku tidak ingin Wida pulang dengan keadaan seperti ini," kata Prima pada Eko, yang langsung dijawab Eko dengan anggukan kepalanya.
Prima kembali menarik tangan Wida agar mengikuti langkahnya kembali. Dan kali ini Wida hanya menurut, karena ia merasa Prima ada benarnya juga. Ia tidak ingin ibunya melihat matanya yang sembab.
"Prima!"
Belum jauh mereka melangkah terdengar seseorang memanggil Prima. Keempatnya pun langsung menoleh serempak. Dan pandangan mereka tampak terkejut saat mengetahui kalau Nina yang memanggil Prima. Orang yang sedang mereka duga sebagai pelaku yang membuat Wida dalam masalah.
Sambil mendengus kesal Prima melepaskan tangan Wida dan menghampiri Nina.
"Aku perlu bicara!" katanya dengan pandangan marah. Lalu dengan kasar ditariknya tangan Nina menuju keluar gedung sekolah.
Nina tampak terkejut dengan sikap Prima yang tiba-tiba kasar, dan mau tak mau ia mengikuti langkah Prima yang cepat itu.
"Ada apa Prim..?" tanyanya bingung disela-sela langkahnya yang tergesa mengimbangi langkah Prima.
Wida menurunkan tangannya yang menggantung karena dilepas Prima. Dan saat melihat wajah Prima yang tampak marah sambil menarik tangan Nina ketika melewatinya, Wida pun langsung mengejar. Ia takut Prima akan melakukan sesuatu pada Nina karena marahnya.
Begitu pula dengan Eko, Asti dan Sifa. Mereka juga ikut berlari mengejar Prima dan Nina, yang berjalan keluar gedung sekolah...
Dengan langkah tergesa Anin keluar dari gedung sekolah. Wajahnya terlihat pucat dan cemas. Mengapa Sofi di panggil? Batinnya resah. Apa ia ketahuan? Bagaimana bisa? Padahal ia sudah menyuruhnya agar hati-hati dan jangan sampai ketahuan. Tapi... Hhhh... desahnya kesal.
Hatinya yang resah takut kalau Sofi akan mengadukannya. Dan kalau sudah begitu, Nina dan Sifa pasti terseret. Dan... Nina pasti akan marah padanya bila ia tahu kalau ia yg telah membuat kekacauan ini, walau niatnya untuk membantu dirinya. Anin menggeleng-geleng kesal.
"Kenapa bisa jadi kacau begini..." gumamnya pada dirinya sendiri.
Setelah agak jauh dari sekolah, Prima menghentikan langkahnya. Di hempaskannya tangan Nina dengan kesal. Nina yang sedikit terdorong karena hempasan Prima, mengusap-ngusap pergelangan tangannya yang terasa sakit, karena kuatnya pegangan Prima.
__ADS_1
"Kau...!" hardik Prima langsung pada Nina. "Kenapa kau berbohong?! Kau bilang bukan kau pelakunya... tapi ternyata temanmu yang ada di balik semua ini!" katanya dengan mata yang menatap tajam.
Nina yang tidak mengerti maksud perkataan Prima hanya mengerutkan alisnya dengan wajah yang bingung.
"Apa maksudmu?" tanyanya bingung.
"Memangnya apalagi? Foto itu! Kau dan temanmu yang melakukannya, kan?" tanya Prima dengan emosi.
"Aku...?" Nina semakin bingung.
Sifa yang semula hanya diam menyaksikan karena belum tahu permasalahannya, akhirnya maju saat mendengar Prima mengatakan tentang foto.
"Hei!" serunya. "Kenapa kau tuduh Nina? Memang bukan dia pelakunya! Jangan sembarang nuduh kalau tidak ada bukti!"
Prima melihat ke arah Sifa yang kini berdiri disamping Nina.
"Bukti? Kau mau bukti? Besok kau akan melihat buktinya. Tapi sekarang katakan, mengapa kalian melakukannya pada Wida. Memangnya Wida punya salah apa sama kalian, sehingga kalian tega melakukan itu pada Wida!"
Nina yang akhirnya mengerti mengapa Prima marah, maju memdekati Prima.
"Memang bukan aku pelakunya. Mengapa kau bisa berpikiran seperti itu? Kau sudah lama mengenalku, Prim, apa mungkin aku yang melakukannya?" Mata Nina mulai memerah. Belum pernah Prima semarah ini padanya.
Prima terdiam sesaat. Ada sedikit keraguan di matanya saat melihat mata Nina yang memerah.
Wida melangkah mendekati Prima. Disentuhnya lengan Prima pelan untuk menenangkannya.
"Sudahlah... kita tunggu saja besok," katanya membujuk Prima. "Semuanya akan jelas besok. Kau tidak boleh menuduh sembarangan."
"Iya, Prim, benar kata Wida," kata Eko yang ikut mendekati Prima dan menepuk bahu sobatnya. "Jangan sembarang menuduh. Toh belum jelas kebenarannya."
Prima tidak bergeming, matanya masih menatap tajam Nina. Dirasakannya tangan Wida yang hangat di lengannya. Dan itu membuatnya sedikit tenang.
__ADS_1
"Ayolah..." Wida masih membujuk. "Kau bilang kita akan ketempat Eko..."
Perlahan emosi Prima mencair. Ditatapnya Wida yang berdiri disampingnya. Ia merasa kasihan pada kekasihnya itu, yang selalu dapat masalah karena dirinya. Dan tanpa berpaling lagi ke arah Nina, ia pun segera berbalik badan meninggalkan Nina yang terpaku sambil menggenggam tangan Wida...