
Prima menunggu Wida di depan kelasnya. Sepertinya kelas Wida sedang ulangan, jadi agak lama keluarnya. Eko yang juga menunggu Asti tampak jongkok disampingnya.
"Kau bawa motor, ya?" tanya Eko sambil mendongak ke arah Prima.
"Iya..." jawab Prima singkat.
"Kau serius ingin mengajak Wida kerumahmu?" tanya Eko yang sudah diberitahu Prima saat di kelas tadi.
Peima mengangguk.
"Memangnya apa yang mau kau tunjukkan pada Wida?"
Prima melirik ke arah Eko sambil mengulum senyum di bibirnya, dan kembali menatap ke halaman sekolah tanpa menjawab pertanyaan Eko.
"Alaaah... paling akal-akalanmu saja ya, agar Wida bisa kau bawa kerumahmu," tebak Eko.
Prima menendang kaki Eko, karena sepertinya jawaban Eko memang benar adanya.
Yah... memang benar kata Eko, itu hanya akal-akalannya saja agar Wida mau kerumahnya. Ia hanya ingin menghabiskan waktu berduaan saja dengan Wida, tanpa ada gangguan dari siapa pun, setelah vakumnya hubungan mereka beberapa hari ini.
Tak lama kemudian pak Bram, guru yang mengajar di kelas Wida keluar, yang menandakan bahwa kelas telah selesai. Dan dalam hitungan detik, para siswa pun ikut berhamburan keluar kelas. Iwan yang ada diantara mereka menyapa Prima dan Eko.
"Wuidiih... yang punya pacar... getol yah nunggunya," canda Iwan yang disambut salam tos khas mereka oleh Prima dan Eko.
__ADS_1
"Makanya buruan punya pacar... biar kita bisa tripel date," canda balik Eko.
Iwan hanya tertawa mendengar candaan Eko.
"Aku duluan, ya," katanya sambil berlalu meninggalkan duo arjuna yang akhirnya masuk kedalam kelas untuk menghampiri para dewinya.
"Lama amat sih," kata Eko begitu sampai ditempat duduk Wida dan Asti.
"Sudah selesai, kok, kalian saja yang tidak sabaran," jawab Asti sambil berdiri dan keluar dari bangkunya.
Wida hanya tersenyum kecil saat melihat Prima, yang juga membalas senyumnya.
"Sepertinya aku akan lama pulangnya," kata Wida setelah mereka ada di luar kelas. "Aku disuruh bu Rum untuk membantunya memasukkan nilai ulangan kemarin di kantor."
"Kalau begitu kita duluan, ya," kata Asti sambil menarik tangan Eko dan melambai pada Wida.
Cukup lama juga Wida mengerjakan tugas yang di berikan bu Rum, walau Prima sudah membantunya. Para guru yang ada di kantor terkadang nyeletuk saat melihat kedekatan dua sejoli itu.
"Jaga jarak... jaga jarak.." goda pak Bram sambil tersenyum simpul.
Wida yang tampak malu karena godaan pak Bram, menunduk menyembunyikan wajahnya. Berbeda dengan Prima yang tampak cuek sambil mengerjakan tugasnya.
Sejam berlalu, dan akhirnya tugas bu Rum pun selesai. Setelah berpamitan pada para guru yang ada, mereka pun berjalan ke tempat parkiran untuk mengambil motor Prima.
__ADS_1
"Kita tetap ke rumahku, ya?" pinta Prima.
Wida mengangguk. "Tapi jangan terlalu lama, ya."
"Iya," jawab Prima sambil menyerahkan helm pada Wida.
Prima yang memang sudah tidak sabar untuk cepat sampai kerumahnya membawa motornya dengan kecepatan penuh, membuat Wida mempererat pegangannya. Dan tidak sampai sejam mereka pun akhirnya sampai di depan rumah Prima.
Prima membunyikan klakson memanggil Pak Jafar untuk membukakan pintu pagar. Dan tak lama pintu pagar pun terbuka. Pak Jafar berdiri disamping pagar memberi jalan pada Prima. Wida melihat je arah pak Jafar, dan menyapanya dengan senyumnya yang ramah.
Saat mereka tiba di beranda rumah dan akan masuk kedalam, seorang gadis cantik keluar dari dalam rumah sambil berlari dan langsung menghambur kepelukan Prima!
Wida yang melihatnya tampak terkejut. Gadis itu memeluk erat Prima sambil bergelayut manja dengan tangan merangkul leher Prima. Dan Prima pun tampaknya tidak menolak pelukan tersebut. Ia malah memeluknya dengan erat juga.
"Kak Prima! Aku kangen..!" kata gadis itu dengan suara manja.
Wida yang masih terkejut, melihatnya dengan pandangan risih.
Prima melepas pelukannya, menatap sayang gadis itu, dan menjitak keningnya dengan pelan.
"Anak nakal," kata Prima lembut, "makin besar saja kamu, ya"
Gadis itu melepaskan tangannya dari leher Prima. Lalu meringis manja sambil mengusap keningnya yang tadi di jitak Prima. Saat melihat Wida matanya melebar indah.
__ADS_1
"Siapa dia, kak?"