
Sifa yang masih tertidur di ranjangnya tiba-tiba terbangun, saat mendengar suara dering ponselnya yang begitu nyaring di sampingnya. Tanpa membuka matanya, tangannya meraba-raba mencari ponselnya. Setelah ditemukannya, dengan enggan ia menjawab panggilan ponselnya tanpa melihat siapa yang telah menghubunginya.
"Halo..." katanya pelan dengan nada kesal karena tidurnya yang terganggu.
Dan tak lama matanya pun terbuka lebar saat ia mendengar suara yang sangat di kenalnya melalui ponselnya. Yah, Nina tiba-tiba menghubunginya dan menanyakan apakah ia sibuk hari ini.
"Kenapa?" jawabnya antusias. "Apakah ada sesuatu yang terjadi?"
"Bisakah kau membantuku mengawasi Wida? Hari ini ia akan keluar bersama Soni," ujar Nina meminta bantuannya.
Sifa yang tadinya berbaring, langsung terbangun dan terduduk tegak di ranjangnya.
"Ada apa lagi? Bagaimana kau tahu, kalau Wida akan keluar bersama Soni hari ini?"
Dan disinilah ia sekarang, berdiri mengawasi Wida dan Soni di toko buku Astro, seperti perkiraan Nina. Toko buku ini adalah tempat yang selalu di kunjungi Wida, bila ia jalan keluar bersama teman-temannya.
"Kau pergilah siang ini ke toko buku Astro. Aku dengar, Wida dan Soni akan jalan keluar hari ini. Aku yakin ia pasti kesana." Begitu dugaan Nina yang diucapkannya saat di ponsel tadi.
Dan dugaannya pun tepat. Setelah hampir dua jam ia menunggu, kedua insan yang membuatnya terpaksa bangun pagi ini akhirnya datang. Mereka terlihat akrab satu sama lain, seperti sepasang remaja yang sedang pacaran. Berkali-kali ia mengambil gambar yang tampak terlihat mesra sesuai instruksi Nina melalui ponselnya. Ia tahu, sahabatnya itu pasti akan menggunakan gambar foto hasil jepretannya itu untuk menggoyahkan hati Prima. Dan ia sebagai sahabat dekatnya, akan siap membantu keinginannya itu.
Entah mengapa ia merasa kesal saat melihat keakraban antara Wida dan Soni. Bagaimana tidak? Menurutnya, baru sehari Prima meninggalkan Wida, kini ia tengah asik dengan lelaki lain, yang merupakan teman pacarnya. Cih! Sebuta itukah cinta Prima terhadap Wida, sehingga ia tidak bisa melihat sisi buruk pacarnya itu? Batinnya kesal. Jelas Nina lebih baik, bahkan dirinya juga. Tetapi mengapa ia memilih Wida? Cantik? Nina jauh lebih cantik... ia juga. Pintar? Kaya? Tidak juga... Benar-benar bukan gadis yang tepat buat Prima! Hhaah... desahnya. Semoga saja, gambar-gambar yang ia ambil bisa mengubah hati Prima...
***
__ADS_1
Wida yang tampak serius dengan buku yang di bacanya, tidak menyadari kalau Soni sedang memandangi wajahnya. Sampai saat poninya yang panjang jatuh menjuntai menutupi wajahnya dan di seka oleh telunjuk Soni. Wida tampak terkesiap karenanya. Perlahan ia mengangkat wajahnya dan merapikan poninya dengan gugup. Soni tersenyum melihatnya.
"Kau serius sekali membacanya, apakah itu buku kesukaanmu?" tanya Soni mencoba mencairkan kegugupan Wida. Dan Wida hanya mengangguk pelan, lalu kembali tertunduk melanjutkan bacaannya.
"Apa kau tidak lapar?" Soni kembali mengajak Wida bicara, "ini sudah jam makan siang. Bagaimana kalau kita makan dulu?"
Wida yang merasa sedikit terganggu, melirik arloji yang ada di tangan kirinya. Iya! Ternyata sudah mau jam dua, batinnya sedikit terkejut. Ini sih sudah lewat makan siang! Hhah.. desahnya pelan. Kenapa waktu secepat itu berlalu? Padahal ia masih betah di toko buku ini.
"Kapan-kapan kita kesini lagi," ujar Soni seakan bisa membaca hati Wida yang masih ingin berlama-lama di toko buku.
Wida mendesah lagi sambil menutup buku bacaannya. Saat ia akan meletakkan buku yang di bacanya kembali ke rak buku, Soni dengan cepat mengambil buku itu. Alis Wida berkerut karena sedikit heran dengan sikap Soni. Soni kembali tersenyum.
"Aku akan membelinya untukmu," katanya menjawab keheranan Wida.
"Jangan..! Tidak usah, buku itu mahal harganya," tolak Wida sambil berusaha meraih kembali buku itu.
Soni mengangkat tinggi-tinggi buku yang ada di tangannya agar Wida tidak bisa meraihnya.
"Tidak apa. Aku sedang ada uang lebih," katanya santai. Lalu ia berjalan meninggalkan Wida yang masih terpaku, menuju kasir.
"Aaah.." keluh Wida pelan, karena merasa tak enak jika Soni kembali mengeluarkan uang untuknya. Dan setengah berlari ia menyusul Soni yang masih berdiri di depan kasir.
Soni melihat ke arah Wida yang tengah menghampirinya dengan langkah kecilnya. Senyumnya kembali menghiasi wajahnya yang cukup tampan. Setelah transaksinya selesai, ia sengaja meninggalkan kasir tanpa menunggu Wida yang masih berlari kecil untuk menghampirinya. Entah mengapa ia merasa gemas untuk menggoda Wida. Rasanya senang sekali membiarkan Wida berlari mengejar di belakangnya.
__ADS_1
Wida terkejut saat melihat Soni meninggalkan dirinya. Ia mempercepat langkahnya agar bisa mengejar Soni.
"Hei..! Tunggu!" katanya sambil meraih punggung Soni. Dan Soni pun berhenti saat merasa Wida menarik kemejanya.
"Kenapa kau meninggalkanku?" tanya Wida tanpa menyembunyikan rasa kesalnya, saat Soni berbalik menghadapnya.
"Siapa yang meninggalkanmu?" kata Soni dengan senyum menggoda. "Langkahmu saja yang kecil, makanya kau tertinggal."
Wida yang sadar kalau Soni sedang menggodanya tampak merajuk. Di lewatinya Soni dengan wajah cemberut. Soni tertawa kecil melihatnya, dan segera mengejar Wida. Dengan reflek di raihnya tangan Wida. Wida yang tidak menyangka kalau Soni berani memegang tangannya, menghentikan langkahnya. Ia melihat ke arah tangan Soni yang sedang memegang tangannya.
Sadar kalau tindakkannya tidak di sukai Wida, Soni segera melepas tangan Wida.
"Maaf..." katanya merasa bersalah. "Aku hanya reflek . Aku tidak ingin kamu marah. Jadi aku hanya ingin menghentikanmu tadi, tidak lebih. Kau tidak marah, kan?"
Wida terdiam sejenak. Lalu menatap wajah Soni. Ada kesungguhan di wajah itu. Jadi benar... ia tidak sengaja, batinnya lega. Lalu ia menggeleng.
"Aku tidak marah," katanya dengan sedikit tersenyum. "Tapi kali ini biarkan aku yang mentraktir makan. Kau sudah dua kali mentraktirku tadi..."
"Hei... tidak bisa begitu," tolak Soni cepat. "Aku yang mengajakmu jalan, jadi aku yang akan mentraktirmu hari ini. Ayo!" Soni mengajak Wida keluar dari toko buku, dan mencari tempat untuk mereka makan siang.
Wida yang sudah tenang, mengikuti Soni tanpa bicara. Ia tampak tenggelam dalam pikirannya, saat mengingat tangan Soni yang tiba-tiba memegang tangannya. Walau Soni mengatakan bahwa ia tidak sengaja, namun tetap membuat resah hatinya. Bagaimana bila itu memang yang di inginkan oleh Soni? Sekilas Wida melirik ke arah Soni yang berjalan selangkah di depannya. Dan tanpa sadar ia memeluk tangannya, seakan takut Soni akan menangkapnya lagi...
Soni juga tampak terdiam. Dengan wajah yang terlihat muram, ia memandangi telapak tangannya yang tadi sempat meraih punggung tangan Wida. Batinnya menyesali sikapnya. Yah... ia sempat menggenggam tangan mungil itu dan rasanya hangat sekali. Andai saja ia bisa menggenggam tangan itu sedikit lebih lama... Tapi tangan hangat itu bukan miliknya. Ah.. andai saja... Dengan kesal Soni mengepalkan telapak tangannya yang sempat tak terkontrol tadi...
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, Sifa yang sedari tadi mengawasi mereka, juga ikut beranjak dan mengikuti dari belakang...