Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CXVIII : Ancaman Ibu...


__ADS_3

Prima menunggu jawaban ibunya dengan wajah merah karena menahan emosi. Ia mungkin tidak akan sekesal ini, bila Nina hanya melaporkan dirinya. Tapi dari penilaiannya, tidak mungkin Nina hanya mengadukannya. Pasti ada Wida dalam setiap kalimat laporannya.


Ditatapnya ibunya yang gelisah. Mungkin ia takut kalau dirinya akan marah bila mendengar apa yang akan di katakannya. Prima menghela napas. Ditahannya emosinya sebisa mungkin agar ia bisa bersikap tenang.


"Aku tidak akan marah, Mih," kata Prima dengan suara yang mulai melunak.


"Pada Mamih atau pun Nina. Aku hanya ingin tahu, apa saja yang Nina katakan pada mamih. Agar tidak ada kesalah pahaman."


Ibu Prima menghela napas.


"Kata Nina... kau pernah membolos," akhirnya ibu pun buka suara. "Dan itu karena pengaruh Wida."


Prima hanya tersenyum miris sambil menggeleng-gelengkan kepalanya begitu mendengar perkataan ibunya. Karena ia sudah menduga, pasti masalah bolosnya merupakan salah satu laporan Nina pada ibunya.


"Apakah itu benar?" tanya ibu yang heran dengan ekspresi Prima.


Prima mengangguk.

__ADS_1


"Iya... benar," jawabnya pelan.


"Tapi asal mamih tahu, bukan Wida yang mengajak bolos aku, melainkan aku yang mengajaknya bolos," kata Prima sambil menekankan kata 'aku' saat mengatakannya.


Ibu Prima mengerutkan alisnya seakan tak percaya. Prima, seorang anak yang penurut, yang tidak pernah melanggar aturan, membolos? Ibu menggelengkan kepalanya, meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu tidak benar.


"Kau bohong, kan? Kau hanya melindungi Wida agar mamih tidak marah padanya?"


"Tidak ada sejarahnya aku berbohong, Mih. Apalagi untuk menutupi kesalahan seseorang, yang jelas-jelas bukan ia yang salah," Prima mulai emosi, napasnya naik turun saat mengatakannya.


"Wida bukan orang yang seperti itu. Aku bisa menilai wanita seperti apa, yang aku suka."


"Karena aku gagal mengajaknya kencan," jawab Prima jujur dengan suara pelan.


"Apa? Hanya karena itu kau membolos?" tanya ibu sambil tersenyum simpul saat mendengar jawaban Prima yang polos.


Prima mengangguk. Mukanya berubah merah karena malu.

__ADS_1


"Waktu aku kerumahnya untuk mengajaknya kencan, ternyata ia telah pergi dengan yang lain," kata Prima menjelaskan kencannya yang gagal. "Jadi aku mengajaknya kencan di hari berikutnya."


Ibu Prima tersenyum geli mendengar penjelasan Prima. Ia bingung mau mengomentari apa. Memang apa yang di jelaskan Prima berbeda dengan cerita Nina padanya. Namun setelah melihat kepolosan Prima saat mengatakan alasannya membolos, sepertinya ia bisa mempercayai Prima.


"Lalu... masalah kau berkelahi disekolah... apa itu karena Wida di ganggu laki-laki lain?" tebak ibu dengan nada bercanda.


Dan Prima sekali lagi mengangguk, membuat ibunya tak bisa menahan tawanya karena tidak menyangka bahwa tebakkannya ternyata benar.


"Haduh... kamu ini... ," kata ibu disela tawanya. "Ternyata kau ini sudah dewasa ya. Mamih sungguh tidak menyadarinya."


"Mamih tidak marah?" kata Prima yang melihat ibunya masih tertawa.


Ibu menggeleng.


"Asal kau juga tidak marah pada Nina, karena telah mengadukanmu pada mamih," jawab mamihnya meminta janji Prima. "Karena Nina sepertinya hanya cemburu dengan hubungan kalian."


"Mamih juga, jangan telan bulat-bulat apa yang di katakan orang tentang aku dan Wida," kata Prima mengkritik ibunya.

__ADS_1


"Aku bisa jaga diri, Mih. Aku tidak akan melakukan hal yang bodoh, yang bisa merugikan diriku sendiri atau Wida," janji Prima.


"Tapi ingat, bila kalian melakukan hal yang memalukan bagi keluarga, ibu tidak akan mentolerir..."


__ADS_2