Romansa SMA

Romansa SMA
CCII : Aku... Kembali...


__ADS_3

Prima yang sedang galau di kamarnya merasa waktu berjalan sangat lambat. Saat melihat ponselnya, hatinya semakin resah karena Wida tidak juga menghubunginya. Terbayang di benaknya berbagai adegan kemesraan antara Wida dan Soni yang menurutnya kini sedang bersama. Walau hanya pikirannya saja, entah kenapa semua itu tampak nyata terbayang di matanya.


Prima menutup kedua matanya dengan telapak tangannya. Sepertinya ia benar-benar ingin menghapus bayang-bayang yang ia buat sendiri tentang Wida dan Soni.


"Aaargh!" serunya setengah memekik, sambil bangun dari posisi tidurnya. "Aku bisa gila kalau begini!"


Lalu ia pun beranjak dari tempat tidurnya. Tangannya meraih ransel yang ada di meja belajarnya, lalu dengan cekatan ia memasukkan dompet dan ponselnya ke ransel itu. Dan setelah menyambar jaket yang tergantung di dinding, dengan langkah cepat ia bergegas keluar dari kamarnya.


Saat menuruni anak tangga, Prima berpapasan dengan Nina yang sepertinya habis dari ruang makan, karena ada sepotong roti ditangannya.


"Kau mau kemana?" tanya Nina yang melihat Prima tampak terburu-buru mengenakan jaketnya. Prima tidak menjawab pertanyaan Nina, ia hanya berlalu begitu saja melewati Nina yang mengerutkan alisnya karena bingung.


"Prima!" teriak Nina kesal karena di acuhkan.


Nina terdiam sejenak, ia tampak heran dengan sikap Prima yang tampak tergesa-gesa. Mau kemana dia? Batinnya. Apa dia...? Mata Nina terbelalak, sepertinya ia tahu apa yang akan di lakukan Prima. Dengan cepat ia kembali menuruni tangga dan mengejar Prima yang sudah keluar dari rumah.


Dan Nina berhasil mengejar Prima. Ia menghentikan langkah pemuda yang dikasihinya itu, dengan menarik ransel yang ada di bahunya. Langkah Prima pun terhenti. Dengan wajah kesal ia menoleh kearah Nina.


"Kau mau kemana?" tanya Nina tanpa mempedulikan wajah Prima yang tampak kesal. "Jangan kau bilang kau akan kembali ke Jakarta untuk menemui Wida!"


"Bukan urusanmu!" jawab Prima ketus sambil menarik ranselnya yang di pegang Nina dengan kasar, dan kembali melanjutkan langkahnya.


Nina yang tidak peduli dengan sikap kasar Prima, kembali menghentikan langkahnya dengan menghadang di depannya.


"Kau serius akan balik ke Jakarta?"


"Kenapa?" tanya Prima sambil menatap Nina tajam. "Bukankah ini yang kau inginkan?"


"Apa maksudmu?" tanya Nina bingung.

__ADS_1


"Bukankah kau mengirim foto-foto itu agar aku tahu, apa yang di lakukan Wida di belakangku? Nah, sekarang aku akan pulang ke Jakarta, untuk memastikan apakah benar ia melakukan itu, atau hanya terkaanmu saja," ujar Prima penuh emosi.


Nina terdiam sejenak. Prima benar-benar berubah, batinnya. Dulu ia selalu saja menurutinya dan percaya pada apa yang ia katakan. Namun sekarang ia meragukan dirinya, walau telah ada bukti foto yang ia berikan.


"Kau.. kau lebih percaya dia ketimbang aku?" tanyanya kesal.


"Justru karena aku percaya padamu, aku melakukan ini! Sudahlah,aku harus berangkat sekarang! Jangan halangi aku!" Prima mendorong tubuh Nina agar menyingkir dari hadapannya. Dan tanpa menoleh lagi, ia meninggalkan Nina yang masih menatapnya tak percaya akan sikapnya itu.


Prima sepertinya tidak main-main dengan peekataannya. Sepertinya ia benar-benar akan pulang ke Jakarta. Dengan cekatan ia menyetop taksi yang sedang melintas di jalan. Tanpa peduli apakah Nina akan melaporkannya pada orang tuanya nanti, ia dengan segera masuk kedalam taksi, dan meminta sang supir untuk membawanya ke bandara.


Di dalam taksi tangannya sibuk mencari-cari penerbangan sore dari Jogja ke jakarta, melalui ponselnya. Setelah mendapatkannya ia bernafas lega, dengan segera ia melakukan pembelian tiket secara online. Walaupun ia harus kecewa karena jadwal yang didapat terlalu sore, dan diperkirakan akan sampai pada malam hari.


***


Wida yang sedang rebahan di kamarnya, dikejutkan oleh kedatangan Asti yang tiba-tiba saja menyeruak masuk. Asti dengan wajah tersenyum menghampiri Wida yang langsung bangun dan duduk di atas tempat tidurnya.


"Ada apa kau kemari?" tanya Wida begitu Asti duduk disampingnya. "Tumben kau tidak meneleponku terlebih dahulu."


"Aku mau mengajakmu menginap di rumahku. Aku tadi sudah bilang pada ibumu, katanya boleh," kata Asti langsung tanpa basa-basi.


Wida mengerutkan alisnya.


"Mengapa tiba-tiba?" tanya Wida sedikit curiga. Aneh, tidak biasanya sahabatnya ini mendadak mengajaknya menginap, batinnya. Biasanya cukup telepon saja, dan ia akan langsung datang kerumahnya, tanpa di jemput seperti ini.


"Sudahlah, jangan banyak tanya, nanti keburu malam," kata Asti yang langsung menarik tangan sahabatnya itu.


Setelah berpamitan dengan ibu Wida, mereka langsung berangkat. Ternyata Asti menjemput Wida dengan motor maticnya. Dan dengan lincah Asti mengendarai motornya, melewati jalan raya yang masih ramai karena hari belum terlalu malam.


"Apa orang tuamu sedang keluar kota?" tanya Wida setengah teriak agar Asti dapat mendengarnya.

__ADS_1


Asti hanya menggeleng menjawab pertanyaan Wida. Sepertinya ia sedang fokus dengan motornya. Dan Wida hanya menghela nafas melihatnya. Akhirnya ia terdiam, tidak ingin mengganggu Asti yang sedang mengendarai motornya.


Wida yang menikmati perjalanannya, memperhatikan pemandangan di kiri kanan jalan. Dan setelah cukup lama, tiba-tiba ia merasa ada yang aneh.


"Hei!" pekiknya. "Ini bukan jalan ke arah rumahmu!"


Asti yang mendengarnya hanya tersenyum simpul. Ya, malam ini ia menculik Wida karena ada suatu misi yang disuruh oleh pacarnya, Eko. Tadi saat ia sedang menonton televisi, tiba-tiba saja Eko meneleponnya.


"Kau sedang apa?" tanya Eko langsung, ketika ia menjawab teleponnya.


"Aku?" jawabnya, "Tidak ada, hanya sedang menonton televisi saja.."


"Bisakah kau kerumahku sekarang, dengan Wida?"


Asti mengerutkan alisnya, ia merasa bingung dengan permintaan pacarnya itu.


"Ada Prima disini.." lanjut Eko, seakan bisa menebak apa yang akan ditanyakan Asti.


Walau ia merasa heran, mengapa Prima tiba-tiba ada di rumah Eko, ia tetap menuruti permintaan pacarnya itu, untuk membawa Wida kesana.


Tak lama mereka pun sampai di rumah Eko. Eko yang memang sudah menunggunya, segera membukakan pintu pagar rumahnya agar mereka bisa masuk.


Wida yang masih bingung, mengapa ia di bawa kerumah Eko, menatap kedua temannya itu bergantian.


"Kenapa kau bawa aku kesini?" tanyanya bingung pada Asti. "Kau bilang kita akan kerumahmu?"


Asti tampak tersenyum. Tangannya langsung menarik tangan Wida, untuk mengikuti langkah Eko yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.


"Sudah... jangan banyak tanya.." katanya pelan sambil menyeret Wida masuk ke dalam rumah Eko.

__ADS_1


Wida yang masih bingung bertanya-tanya dalam hati, apa maksud Asti membawanya malam-malam ke rumah pacarnya. Apa mereka akan menginap disana? Batinnya. Belum juga ia mendapat jawaban dari pertanyaannya, ia mendadak berhenti melangkah saat tiba di ruang tamu rumah Eko. Sejenak ia tertegun. Matanya yang bulat tampak melebar karena terkejut, saat melihat sosok seseorang, yang sedari tadi menjadi pikirannya...


"Prima..." desisnya pelan..


__ADS_2