Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CCIV : Lagi...lagi... dan lagi...


__ADS_3

Nina tampak gelisah di kamarnya. Kepergian Prima kembali ke Jakarta membuatnya khawatir. Untung saja Om Januar dan Istrinya sedang tidak ada dirumah saat Prima pergi sore tadi. Dan saat makan malam, ia mengatakan pada mereka kalau Prima sedang keluar untuk mencari sesuatu ke toko buku, ketika mereka menanyakannya. Tapi.. apa yang harus ia katakan bila besok mereka menanyakannya kembali?


Nina meraih ponselnya yang ada di atas meja nakas di samping tempat tidurnya. Dalam posisi rebahnya, ia memainkan ponselnya mencari sebuah nama di kontaknya. Sepertinya ia akan menghubungi ibunya Prima, karena tertera nama ibu Prima di layar ponselnya. Sejenak ia ragu.


Bagaimana ini? Batinnya resah. Apakah aku harus menghubungi ibu Prima? Apa yang akan terjadi bila ibunya tahu kalau Prima ada di Jakarta? Lalu... apa reaksi Prima padanya bila ia mengabari ibunya? Hhhh... Nina mendesah galau. Matanya terpejam sesaat. Sampai akhirnya terbuka kembali dan melakukan panggilan...


***


Ibu Prima yang sedang menemani suaminya di ruang kerja, tampak duduk dengan santai di sofa. Ia biasa menunggu suaminya bila ada pekerjaan yang harus di selesaikan di rumah hingga larut malam. Tangannya memilah-milah majalah yang ada dipangkuannya. Tiba-tiba ponsel yang tergeletak di sampingnya berdering. Dengan reflek di ambilnya ponselnya. Dan setelah melihat siapa yang menghubunginya, ia langsung menjawab dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Malam Nina," ibu Prima menjawab salam dari Nina.


"Ada apa kau telepon malam-malam begini?" tanyanya ramah setelah melihat jam yang ada di dinding ruangan itu. Waktu memang telah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.


Ayah Prima yang sedang duduk di balik meja kerjanya, langsung melihat ke arah istrinya. Kepalanya mengangguk seakan memberi isyarat, kalau ia bertanya siapa si penelepon itu. Istrinya yang mengerti maksud suaminya memberitahu dengan suara pelan kalau yang menelepon itu Nina. Dan tanpa bertanya lagi, ayah Prima melanjutkan pekerjaannya.


"Apa Prima ada disana, Tante?" tanya Nina.


Ibu Prima yang mendengar pertanyaan Nina tampak terperanjat. Tubuhnya langsung menegak dan matanya melihat ke arah suaminya yang sedang sibuk di meja kerjanya.


"Kenapa Prima ada disini?" tanyanya dengan suara yang agak tinggi, membuat suaminya mendongakkan kepalanya dan melihat ke arahnya.


"Bukankah kau bersamanya?"


Nina yang sebenarnya sudah menduga kalau Prima tidak mungkin pulang ke rumahnya, hanya mendesah pelan saat mendengar perkataan ibunya Prima.


"Prima tadi sore pulang ke Jakarta, Tante..." katanya hati-hati, "saya pikir.. ia kembali kerumah..."


Ibu Prima yang mendengar perkataan Nina langsung panik. Ia berdiri dan berjalan ke arah suaminya.


"Tidak!" serunya. "Ia tidak pulang kerumah..!"


"Ada apa?" sela ayah Prima memotong pembicaraan istrinya.


"Prima... katanya ia kembali ke Jakarta!" jawab ibu Prima tanpa menutup ponselnya.


"Lalu Prima kemana, Nina?" tanyanya kembali ke Nina.

__ADS_1


Nina tampak terdiam sejenak. Ia ragu apakah ia harus bilang kalau Prima pulang ke Jakarta karena Wida..


"Tadi kami berselisih paham Tante... kami berdebat mengenai Wida. Jadi.. sepertinya ia pulang karena itu.." kata Nina menjelaskan dengan nada hati-hati, karena takut salah bicara.


"Apa?!" suara ibu Prima terdengar sedikit keras. "Karena gadis itu lagi?!"


Nina tersenyum mendengarnya, entah mengapa ia merasa senang saat mendengar nada suara ibu Prima yang tampak begitu emosi saat mendengar kata 'Wida'.


"Iya, Tante.. Dan kemungkinan Prima pergi kerumahnya.." kata Nina sedikit mengompori.


"Ya sudah, Tante tutup, ya.."


Senyum di wajah Nina makin melebar saat ibu Prima memutuskan pembicaraan mereka. Hatinya menerka-nerka apa yang akan terjadi disana nanti. Yah, apa pun yang terjadi tidak masalah baginya... asalkan Prima akan kembali lagi padanya...


***


"Kau tidak akan menjawabnya?" tanya Wida pada Prima setelah ia bisa menguasai emosinya. Ia merasa heran karena Prima hanya memandangi ponselnya yg berdering.


Wajah Prima seketika berubah, wajah yang tadinya tenang kini tampak emosi. Nina pasti sudah melaporkannya ke mamih, duga hatinya. Cepat benar gadis itu bertindak. Ia benar-benar tidak mengenali Nina yang sekarang, karena sangat berlawanan dengan sifatnya yang dulu.


Akhirnya ponsel Prima pun berhenti berdering. Tapi kini berganti ponsel Wida yang berdering. Wida menatap Prima sesaat, lalu ia merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya.


"Ibumu!" serunya tertahan. Wajahnya pun berubah tegang. "Apa aku harus menjawabnya?"


Prima mengambil ponsel Wida dari tangannya, dan meletakkannya di meja, disamping ponselnya.


"Tidak usah!" katanya tegas. "Nanti ia akan berpikiran macam-macam! Ini pasti ulah Nina. Sepertinya ia telah memberitahu mamihku, kalau aku pulang."


"Kenapa Nina?" tanya Wida bingung.


"Asal kau tahu, foto-foto itu ulah Nina," kata Prima mulai menjelaskan. "Entah bagaimana, sepertinya Nina menyuruh temannya mengikuti kalian kemarin. Tapi ada bagusnya juga, jadi aku bisa tahu kemesraan kalian.."


Wida mendengar nada cemburu dari suara Prima.


"Kemesraan apa? Kami hanya jalan biasa saja, dari kampus lalu ke toko buku. Hanya itu..!" bantah Wida. "Masa kau tidak percaya padaku?"


Prima mendesah pelan, ditatapnya Wida dalam.

__ADS_1


"Aku sudah pernah mengatakan padamu, bukannya aku tidak percaya padamu, tapi Soni, aku tidak percaya padanya.."


Wida terdiam. Wajahnya menoleh ke arah lain, menghindari tatapan Prima.


"Tolonglah... hindari dia," kata Prima pelan sambil menyentuh tangan Wida. "Aku kan tidak disini untuk menjagamu. Tolaklah bila ia mengajakmu jalan. Masa kau tidak tahu, kalau ia selalu berusaha untuk mendekatimu?"


Wida tertunduk, matanya menatap jemari Prima yang sedang menggenggam tangannya. Ada perasaan bersalah di hatinya pada Prima. Andai ibunya tidak menyuruhnya jalan dengan Soni..


"Aku jalan dengannya karena ibu yang menyuruhku..." Wida membela diri.


"Lalu.. kau akan berpacaran dengannya kalau ibumu menyuruhnya?"


Mendengar perkataan Prima, Wida langsung menoleh dan menatapnya kesal.


"Ya tidaklah!" katanya sedikit lantang. "Masa kau bisa berpikiran seperti itu!"


Bibir Prima tersenyum, sepertinya ia senang mendengar sanggahan Wida.


"Kirain..." kata Prima dengan nada menggoda.


"Aku kemarin menuruti ibuku, karena alasan Soni mengajakku benar, yaitu ke kampus. Kalau ia mengajakku berkencan, aku pasti menolaknya.."


"Iya aku tahu... Maafkan aku ya, karena sudah meragukanmu.." kata Prima sambil meraih tangan Wida untuk di kecupnya.


Wajah Wida tampak merajuk saat melihat punggung tangannya di kecup Prima. Kecupan lembut yang membuat hatinya tersentuh dan menyadarkannya betapa Prima begitu menyayanginya. Perlahan bibirnya tersenyum, mencairkan sedikit ketegangan yang telah terjadi diantara mereka.


Tiba-tiba Eko datang menghampiri mereka. Dengan sedikit terkejut, mereka menoleh ke arah Eko yang tampak cemas. Dan tanpa basa-basi Eko langsung menyodorkan ponselnya pada Prima.


"Ibumu..." katanya setengah berbisik, "jawablah.."


Prima yang sepertinya sudah menduga kalau ibunya akan menghubungi Eko, terlihat tenang. Ia melepaskan tangan Wida, lalu meraih ponsel Eko yang sudah menjawab panggilan ibunya.


"Iya, Mih..." katanya pelan di ponsel Eko.


Dan hanya satu kata yang terdengar dari suara ibunya yang tampak marah...


"PULANG!!"

__ADS_1


__ADS_2