Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LXXX : Kau Boleh Merasa Diatas Angin...


__ADS_3

Prima diam terpaku melihat Wida yang berlari meninggalkannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Dilihatnya Soni dengan kesal. Agak menyesal juga ia bersikap lunak pada Soni, jika tahu akhirnya akan begini.


Soni yang di tatap Prima hanya cuek saja. Ia meraih tasnya yang ada dibangku.


"Ibu... saya mau pamit dulu," katanya pada ibu Wida. "Terima kasih atas makan siangnya."


Ibu Wida tersenyum pada Soni.


"Ya," jawab Ibu. "Ibu titip Wida kalau disekolah, ya. Kalau perlu Nak Soni antar jemput Wida. Tidak keberatan kan?"


Sepertinya ibu Wida sengaja mengatakannya didepan Prima, agar Prima menjauhi Wida.


Soni yang merasa mendapat angin dari ibu Wida, menggelengkan kepalanya.


"Tentu saja tidak, Bu. Dengan senang hati malah."


Prima menahan emosinya mendengar perkataan Soni yang jelas-jelas menikungnya. Bila tidak ada ibu Wida ia mungkin sudah melayangkan tinjunya kewajah Soni.

__ADS_1


"Saya juga permisi, Bu," katanya tanpa menunggu jawaban ibu Wida dan mendahului Soni keluar rumah.


Dengan hati yang sakit karena perlakuan ibu Wida yang jelas-jelas tidak mendukung hubungannya dengan anaknya, Prima melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Tujuannya hanya satu, rumah Eko. Sahabatnya yang selalu ada saat ia membutuhkannya bila sedang ada masalah.


Prima memasuki rumah Eko seperti rumahnya sendiri. Rumah yang tampak sepi karena orang tua Eko yang bekerja dan Eko sendiri pun adalah anak tunggal. Terdengar seperti ada orang yang sedang berbincang-bincang dihalaman belakang.


Dan saat ia memasuki halaman belakang, tampak Eko sedang berbincang dengan seorang anak perempuan. Dan mereka terlihat tampak akrab. Duduknya pun berdekatan. Bahkan tangan Eko berada di belakang anak perempuan itu, yang terkesan sedang bersandar di tangan Eko.


Prima mendekati mereka tanpa bersuara. Ia heran, sejak kapan Eko dekat dengan perempuan. Biasanya ia super cuek. Saat semakin dekat, Prima merasa kenal dengan sosok perempuan itu.


Asti dan Eko yang tak kalah terkejut menoleh berbarengan. Reflek Asti bangun, berdiri tegak dengan wajah memerah karena malu.


Sedangkan Eko hanya tersenyum kecut, menggaruk kepalanya yang tak gatal karena tertangkap basah.


"Sejak kapan kalian..." tanya Prima yang terputus karena pelototan mata Eko. "...jadian?" sambungnya mengacuhkan tatapan Eko. Prima menarik kursi yang ada di hadapan Eko dan Asti. Setelah duduk ditatapnya Asti dan Eko bergantian.


Eko yang mengacuhkan sikap Prima, menarik Asti agar duduk kembali. Asti pun terduduk, namun karena malu dilihat Prima ia menggeser duduknya agar tidak terlalu dekat dengan Eko. Namun Eko menahannya.

__ADS_1


"Jangan pedulikan Prima. Biarkan saja dia, memangnya dia doang yang bisa pacaran," katanya sambil memegang tangan Asti.


"Cihh," Prima meringis mendengar perkataan Eko yang terkesan meledeknya. Tiba-tiba Prima teringat dengan tujuannya datang ke rumah Eko. Wajahnya kembali serius.


"Ko... aku kemari mau minta pendapatmu," katanya sambil mencondongkan badannya. "Ini mengenai Wida dan Soni."


"Asti kemari juga mau bahas masalah Wida," kata Eko yang dibenarkan oleh anggukan Asti.


"Iya...," jawab Asti, memanfaatkan situasi untuk menghilangkan rasa malunya. "Tadi saat aku telpon, katanya Wida sedang bersamamu. Kenapa sekarang kau kesini tanpa Wida?"


"Aku telah mengantarnya pulang. Dan kau tahu... Soni ada di rumah Wida!"


"Untuk apa dia disana? Bukankah kau mengantarnya pulang ?" Asti merasa heran, karena setahu dia Prima yang mengantarnya pulang.


"Tidak mungkin kan kalau dia menunggu Wida pulang dirumahnya?"


"Sepertinya begitu," wajah Prima tampak kesal. "Aku tidak pernah menurunkan Wida di depan rumahnya. Karena kata Wida, ibunya masih marah padaku karena aku mengajaknya bolos waktu itu. Tapi entah mengapa, setelah aku mengantarnya pulang, aku merasa sangat ingin kerumahnya. Dan aku melihat motor Soni disana.."

__ADS_1


__ADS_2