Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CVII : Suatu Rencana....


__ADS_3

Wida yang duduk disamping Prima merasa tidak enak dengan yang lainnya. Apalagi hanya mereka yang duduk berpasangan. Prima menatap Wida dalam.


"Tadi... kalian bicara apa?" tanyanya antusias.


Wida melihat kearah Soni sekilas. Soni pun ternyata sedang memperhatikannya. Wida semakin merasa tak enak. Ditambah lagi Prima menanyakan pembicaraannya dengan Soni tadi.


"Hei... ayolah... katakan padaku, jangan buat aku berprasangka yang tidak-tidak," kata Prima memaksa.


"Kami tidak bicara apa-apa," jawab Wida pelan, mungkin takut terdengar Soni.


"Benar?" tanya Prima yang ragu dengan jawaban Wida.


Wida mengangguk. "Kami hanya meluruskan salah paham di antara kami saja"


Prima manggut-manggut. "Lalu... tadi... ada apa kau dengan Nina?"


"Aku tidak ada apa-apa dengan Nina. Hanya Asti dan Sifa , mereka hanya selisih paham saja."


Percakapan mereka terhenti, karena pesanan es kelapa sudah datang. Anak tim basket yang kehausan menyambutnya dengan suara yang ramai.


Nina yang merasa di acuhkan oleh Prima mengajak Sifa dan Uli untuk pulang duluan setelah es mereka habis.

__ADS_1


"Cepatlah minumnya. Aku merasa tidak nyaman. Kita pulang duluan," katanya.


"Kenapa harus pulang?" Sifa tidak setuju. "Aku tidak mau dianggap kalah oleh Asti, apalagi Wida. Nanti sajalah."


Tapi Nina yang cemburu karena melihat Prima duduk berdua dengan Wida, langsung beranjak bangun. Sifa yang tampak kesal mau tidak mau ikut bangun di ikuti oleh Anin.


Nina menghampiri Prima.


"Aku pulang duluan, Prima," pamit Nina.


Prima menoleh.


"Kenapa buru-buru? Minuman baru datang," kata Prima sambil berdiri.


"Aku bungkus saja," jawab Nina sambil tersenyum kecil.


"Ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan, ya."


Nina mengangguk. Diiringi Sifa dan Anin, Nina keluar dari warung setelah pamit dengan yang lainnya.


Sifa yang kesal karena masih ingin belum pulang, mengomel.

__ADS_1


"Bagaimana sih! Memangnya kau sudah mau melepas Prima, ya?"


Nina yang diam tidak menjawab pertanyaan Sifa. Bibirnya yang mungil tampak tersenyum tipis. Bukannya ia mau melepaskan Prima begitu saja, hanya saja ia telah punya rencana, yang mungkin Prima pun tidak akan bisa menghindarinya. Rencana yang juga mungkin bisa membuat Prima putus dengan Wida...


Sifa merasa heran dengan dirinya sendiri. Mengapa ia begitu peduli dengan hubungan Prima dan Wida? Padahal Nina saja tampak acuh tak acuh dengan hubungan mereka.


Apakah ia cemburu? Memang ia akui kalau ia juga menaruh hati dengan Prima. Namun setelah tahu sahabatnya juga suka dengan Prima, ia pun rela untuk mundur. Apalagi ia tahu bahwa Nina sudah dekat dengan Prima dari mereka masih kecil. Dan sudah pasti Prima tidak akan menoleh padanya.


Tapi kenyataannya berbeda dari yang ia bayangkan. Ternyata yang jadi pacar Prima adalah Wida, bukan Nina. Bagaimana ia bisa rela kalau begitu? Makanya, setiap ia melihat Wida dan Prima bersama, rasanya emosinya selalu naik. Rasa cemburu yang bukan haknya selalu datang. Ingin rasanya ia menarik tangan Wida untuk menjauhi Prima. Hhaah... desahnya kesal. Diliriknya Nina yang berjalan disebelahnya. Tenang Nin, akan kutemukan cara agar Prima kembali padamu... batinnya.


Panas matahari tak dirasakan oleh Prima. Hatinya yang sedang kasmaran membuat langkah kakinya begitu ringan saat mengantar Wida pulang kerumahnya.


"Tidak usah sampai ke rumah," kata Wida. "Sampai sini saja."


Prima menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Lalu, kapan aku boleh kerumahmu, seperti Soni?" tanya Prima sedikit menyindir.


Wida yang tahu Prima menyindirnya, melotot kesal.


"Tidak usah bawa-bawa Soni. Nanti kalau ibu sudah tidak marah kau bisa main kerumahku."

__ADS_1


"Tapi aku bolehkan menjemputmu, besok?"


__ADS_2