Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CXIII : Sekali Lagi Kau...


__ADS_3

Wida merasa dirinya seperti terpidana saat ini, yang menyaksikan para hakim, jaksa dan penuntut sedang berdebat dalam suatu persidangan. Ia benar-benar hanya bisa terdiam menyaksikan semuanya. Seperti Dewi yang juga terdiam, menyaksikan semuanya di samping ibunya. Bedanya, Dewi di sini hanyalah sebagai penonton jalannya sidang.


Saat ibunya Prima menanyakan 'bagaimana dengan Nina', hatinya benar-benar seperti tertusuk sesuatu. Terasa nyeri namun tidak tahu dimana tepatnya. Dan ia hanya bisa menggigit bibirnya.


Karena hanya dengan berkata seperti itu, Wida bisa tahu, bahwa ibu Prima lebih memilih Nina jadi pacar anaknya, ketimbanga dirinya. Walau pada akhirnya Prima lebih memilih dirinya.


Sebelum Prima menarik tangannya ia sempat menatap mata Nina. Terlihat kesedihan sekaligus kemarahan terpancar disana. Dan itu membuat Wida merasa kasihan dan juga bergidik melihatnya...


Prima benar-benar akan membawa Wida ke kamarnya. Dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di kepalanya. Marah, kesal dan kasihan, semua berputar menjadi satu di pikirannya.


Ia membawa Wida pergi dari sana bukan hanya untuk mencegah agar Wida tidak melihat Nina menangis. Melainkan juga untuk mencegah agar Wida tidak berubah pikiran. Ia takut jika Wida melihat Nina yang menangis, Wida akan menghindarinya lagi karena rasa ibanya pada Nina.


Saat hampir tiba di depan pintu kamar, Wida tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menarik tangannya hingga terlepas dari pegangan Prima. Prima yang merasa tangan Wida terlepas dari pegangannya, ikut berhenti dan menoleh ke arah Wida.


"Kenapa?" tanyanya yang bingung dengan sikap Wida yang tiba-tiba itu.


"Kau mau apa?" Wida balik bertanya dengan suara tertahan, karena takut akan terdengar sampai keruang tamu.


"Kita akan ke kamarku," jawab Prima lugas.


"Iya... aku tahu, tapi kenapa ke kamar?"


Prima menghela napas dan berbalik menghadap Wida.

__ADS_1


"Kenapa? Memangnya kau mau kita kembali kesana?" kata Prima sambil memegang bahu Wida dengan kedua tangannya.


Wida menggeleng.


"Tidak... tapi..."


"Ya sudah kalau begitu," kata Prima sambil melepaskan tangannya dari bahu Wida, "kau menurut saja, dan tidak usah pakai tapi."


Dan Prima pun kembali menarik tangan Wida untuk menuju ke kamarnya.


Setelah masuk dan menutup pintu kamar, Prima hanya berdiri terpaku di dekat pintu. Napasnya yang memburu terdengar tak beraturan, karena emosi yang ditahannya.


Wida yang berdiri disampingnya tampak bingung dan sedikit khawatir melihatnya. Tangannya yang dipegang Prima, di gerakkannya untuk menyadarkan Prima kalau ia ada di sampingnya.


Dan Prima pun tersadar. Di pandangnya Wida dengan pandangan sendu, seakan merasa bersalah karena telah membawa Wida masuk kedalam masalah yang tak pernah ia duga.


Wida yang di peluk dengan tiba-tiba merasa terkejut. Tangannya menjuntai karena merasa canggung untuk membalas pelukkan Prima.


"Maafkan aku," bisik Prima lirih. "Dan maafkan mamihku, bila perkataanya menyakiti hatimu."


Wida ingin menjawab perkataan Prima, dengan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Namun eratnya dekapan Prima membuat dirinya tidak bisa bergerak. Dan akhirnya Wida hanya diam membiarkan Prima memeluk sesukanya.


Tak lama kemudian akhirnya Prima melepaskan pelukkannya. Ditatapnya Wida.

__ADS_1


"Kau... tidak marah, kan?"


Wida menggeleng.


"Aku hanya merasa ibumu lebih menyukai Nina jadi pacarmu, ketimbang aku..."


Prima menghela napas. Ditariknya Wida dan berjalan kearah tempat tidur. Ia lalu duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Duduklah," katanya, karena dilihatnya Wida masih berdiri.


Wida merasa canggung. Masa di tempat tidur, sih? Pikirnya. Ia melihat kearah sofa yang ada disudut kamar. Ia teringat, itu adalah tempat dimana Prima pernah menciumnya beberapa waktu yang lalu. Bulu kuduknya pun meremang saat mengingat kejadian itu, seakan baru saja terjadi.


"Kenapa? Kau takut aku melakukan sesuatu?" goda Prima yang sepertinya tahu apa yang ada dipikiran Wida.


Dek! Jantung Wida seakan berhenti berdetak mendengar godaan Prima. Ia merasa seperti 'dejavu', karena Prima juga mengatakan hal yang sama seperti itu, saat sebelum menciumnya.


Prima tertawa melihat ekspresi Wida. Dilepasnya tangan Wida yang sedang di genggamnya.


"Kau ini... jangan berpikiran macam-macam. Ada mamihku di rumah, mana bisa aku macam-macam padamu."


Wajah Wida memerah. Ah... mesumnya pikiranku... batinnya. Iya benar... ada ibunya Prima di rumah, mana mungkin Prima punya niat macam-macam padanya.


Akhirnya Wida menuruti ke inginan Prima dengan duduk disamping Prima, dengan debaran jantung yang entah mengapa tiba-tiba berubah menjadi cepat.

__ADS_1


Prima tersenyum dengan keluguan Wida. Betapa mudahnya Wida masuk perangkapnya. Masa iya, dirinya melepaskan kesempatan yang jarang terjadi ini?


Prima tiba-tiba merangkul bahu Wida. Dan dengan cepat meraih wajah Wida untuk didekatkan pada wajahnya. Dan dengan sekali gerakan, bibirnya menemukan bibir Wida...


__ADS_2