
Saat jam istirahat Wida merasa enggan untuk keluar. Ia lebih memilih menyelesaikan catatan yang tertinggal saat jam pelajaran tadi. Asti teman sebangkunya telah kabur untuk jajan. Hari ini Wida merasa semua berjalan lamban. Apa dia yang sedang kurang semangat.. Hhhh...desahnya.
"Hai!" terdengar suara dari arah jendela di sampingnya. Wida menoleh.. Dan terlihat wajah Ryan yang tersenyum manis disana.
"Sedang apa kak?"
Wida tersenyum.
"Sedang mencatat", jawabnya seraya mengangkat buku. "Ini.."
Ryan menyodorkan sesuatu dari jendela nako yang terbuka. Sebungkus roti dan teh kotak. Wida reflek mengambilnya. "Makasiih.." katanya sambil tersenyum.
"Lagi les komputer ya ?" tanyanya.
Ryan menggeleng. "Ada tugas kelompok," katanya.
"Kak.. aku pergi dulu ya.. nanti sepulang sekolah aku akan menemui kakak. Dimakan ya rotinya.." tanpa menunggu jawaban Wida, Ryan berlalu.
Dan Wida melahap rezeki yang baru diterimanya.
Tak berselang lama tampak Prima menghampirinya dan langsung duduk di bangku di hadapan Wida. Tangannya membawa batagor dan es teh. Wida yang sedang konsentrasi mencatat tidak menyadarinya, sampai Prima menyodorkan batagor ke wajahnya.
"Istirahat.. Makan dulu .." katanya.
Wida yang sedikit terkejut menatap Prima. Ia menunjuk bungkus kosong roti dan teh kotak yang ada disampingnya.
"Sudah," katanya, lalu melanjutkan catatannya.
__ADS_1
Prima melirik bungkus yang ditunjuk Wida.
"Itu baru sedikit," katanya, "tidak kenyang.."
Prima tetap menyodorkan batagor yang di bawanya. Wida yang merasa terganggu menghentikan catatannya. Di tatapnya Prima yang masih menyodorkan batagornya. Akhirnya Wida pun meraih batagor tersebut.
"Terima kasih," katanya dan meletakkan batagor disampingnya.
Prima yang melihatnya tak rela batagornya di abaikan. Diambilnya kembali batagor tersebut dan disodorkan kembali ke Wida.
"Makan," katanya memaksa dan hendak menyuapi Wida. Wida menatap Prima kesal.. Namun akhirnya mengambil lagi batagor tersebut dari tangan Prima.
"Aku bisa makan sendiri," katanya dan melahap batagor tersebut.
Prima hanya tersenyum melihatnya. Dan mengambil bungkus roti yang ada di samping Wida.
"Itu dari Ryan.." jawab Wida singkat dan langsung mengubah ekspresi wajah Prima.
"Ryan... si kelas satu?" tanyanya terdengar kesal. Wida mengangguk tanpa melihat wajah Prima yang kesal.
"Kenapa dia pakai kasih roti segala ke kamu?" rasa kesal Prima akhirnya keluar. Wida berhenti makan dan menatap Prima
"Kenapa tidak?" katanya, "ini saja kamu kasih aku batagor.."
Wida menunjuk batagor yang di pegangnya.
Prima menghela nafasnya.. dan sepertinya ia semakin kesal. "Laki-laki.. kalau kasih sesuatu ke perempuan, pasti ada maksudnya. Masa kamu tidak tahu itu.."
__ADS_1
Wida terdiam sesaat.
"Lalu.. kamu kasih aku batagor.. apa ada maksudnya?"
Prima mencubit gemas pipi Wida dan berkata, "Aku beda.. aku kan pacar kamu.."
Wida mengusap pipinya yang sebenarnya tak sakit.
"Siapa bilang aku pacar kamu.." kata Wida pelan. Prima yang mendengarnya medelik pura-pura marah.
"Apa kamu bilang?" katanya sambil melayangkan tangannya hendak mencubit pipi Wida lagi. Wida menepis tangan Prima dengan pelan.
Obrolan mereka terhenti karena Asti datang. "Hadeeeh.. Romendong dan Julintang gini hari pacaran.. Sudah mau bel tuh. Bubar sana!" usirnya dengan nada bercanda pada Prima.
Prima tersenyum, sedangkan Wida manyun.
"Okeh.. Aku kembali ke kelas ya," pamitnya pada Wida dan beranjak pergi. Namun belum jauh ia berbalik lagi.
"Ingat! Jangan terima apa-apa lagi dari Ryan!" pesannya dan kemudian pergi.
Asti yang tidak mengerti maksud Prima menanyakannya pada Wida.
"Tadi Ryan kasih aku ini.." kata Wida menerangkan sambil menunjuk bungkus roti dan teh kotak yang ada di meja.
"Tadi Ryan kemari?" tanya Asti seperti tak percaya. Wida mengangguk.
"Waaah.. seru nih! Prima punya saingan!" seru Asti sambil menjawil Wida yang geleng-geleng kepala karena ocehan temannya yang tidak jelas itu. Apanya yang seru..?Pikirnya..
__ADS_1