
Wida yang merasa dirinya telah aman keluar dari sekolahnya tanpa di ikuti Prima berjalan dengan santainya. Tanpa tahu kalau Ryan ada dibelakangnya. Hingga akhirnya ia tersadar saat sebuah tangan meraihnya dan menariknya memaksa untuk masuk kedalam taksi. Wida yang sangat terkejut tidak dapat berbuat apa-apa karena tangan itu mendorongnya dengan kuat kedalam taksi.. ia pikir itu adalah tangan Prima.
Setelah didalam taksi betapa terkejutnya ia saat melihat siapa yang duduk disebelahnya. "Kamu?" katanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ryan tersenyum, "Hai kak.." katanya menatap Wida dengan lembut. "Apa yang kamu lakukan? Memangnya kamu tidak sekolah?" tanya Wida bingung. Ryan hanya tersenyum dan mengatakan tujuannya kepada sopir taksi "Grand Plaza pak.." katanya. Wida tercengang mendengarnya. "Mau apa kita kesana?" tanyanya. "Kencan.." jawab Ryan singkat.
Rupanya saat Ryan menarik Wida kedalam taksi ada yang melihatnya. Sofi, si anak kelas satu yang pernah menyatakan perasaannya pada Prima. Ia heran melihat Wida yang naik taksi dengan Ryan. Namun tak lama bibirnya tersenyum kecil.. sepertinya ada sesuatu yang ia rencanakan.
Sofi masuk ke gedung sekolah dengan langkah riang. Dilihatnya Prima yang berjalan di lorong sekolah. Didepan kelas Wida Prima berhenti. Ia melihat kedalam untuk mencari Wida. Karena yang di cari tidak ada ia pun masuk ke dalam kelas.. mungkin akan menanyakannya kepada Asti teman sebangku Wida.
__ADS_1
Sofi menunggu Prima di depan kelas Wida. Begitu Prima keluar dari kelas ia menyapanya. "Hai kak.." sapanya, "cari kak Wida ya?" Prima yang tadinya ingin mengacuhkannya mulai memperhatikan. Alisnya yang berkerut menandakan kalau ia heran bagaimana si cewek centil ini bisa tahu. Dengan senyum centilnya Sofi menggoda perasaan Prima yang terlihat resah.
"Aku tahu kok kemana kak Wida.. " pancingnya ingin melihat reaksi Prima. Dan Prima pun terpancing. "Dimana?" tanyanya sedikit emosi. "Tadi.. aku melihatnya naik taksi.." Sofi sengaja mengulur kata-katanya agar ia bisa berbincang lama dengan Prima. Prima diam tak percaya.. mana mungkin Wida naik taksi pikirnya. Prima sepertinya enggan meladeni Sofi.. ia pun melangkah hendak meninggalkan Sofi yang dipikirnya sedang membohonginya.
Namun langkahnya terhenti, saat Sofi berkata dengan suaranya yang nyaring, "Dengan Ryan!" Tidak perlu menunggu lama Prima langsung berbalik lagi ke arah Sofi.
"Benar kok.." jawab Sofi dengan gaya centilnya, "aku tidak sembarang bicara. Aku tadi lihat Ryan naik taksi dengan kak Wida di depan sekolah." Sofi menjelaskan tanpa menceritakan dengan detil apa yang sebenarnya ia lihat. Padahal ia melihat bahwa Ryan memaksa Wida untuk naik taksi bersamanya.
__ADS_1
Emosi Prima yang sudah tidak dapat dibendung lagi membuatnya langsung berlari keluar sekolah. Ia berharap masih bisa mengejar taksi yang di tumpangi Wida dan Ryan. Namun yang diharapkan ternyata kosong. Tidak ada taksi yang melintas disana. Dengan kesal diacaknya rambutnya dengan kedua tangannya.
Sofi yang melihat Prima tampak kesal dari kejauhan tersenyum puas. Ia berharap hubungan Prima dan Wida berakhir.. jadi ia punya kesempatan untuk mengejar Prima lagi. Saat ia akan berbalik untuk menuju kekelasnya, Eko menghadangnya. Eko yang tidak suka melihat gelagat Sofi langsung menanyakan apakah benar apa yang dikatakan Sofi pada Prima.
"Kamu jangan bikin berita bohong", katanya sambil menatap kesal pada Sofi, "kalau tidak terbukti, aku akan datang mencarimu!"
"Untuk apa aku berbohong kak.. aku benar melihatnya kok.." kata Sofi membenarkan perkataannya dengan rasa sedikit takut karena mata Eko yang melotot tajam. Eko yang masih ragu dengan perkataan Sofi pergi meninggalkan Sofi dan segera berlari menyusul Prima.
__ADS_1
Sesampainya di luar sekolah, dilihatnya Prima yang sedang kesal berdiri di pinggir jalan. Melihat kekiri dan kekanan seakan berharap bisa melihat Wida disana. Eko menghampirinya dan menyentuh pundak sahabatnya itu. Prima menoleh, dilihatnya sobatnya itu dengan pandangan tak bersemangat. Di biarkannya tangan Eko menggandeng pundaknya untuk mengajaknya pulang.