
Prima membuka pintu kamarnya dan membawa Wida masuk ke dalamnya. Setelah di dalam, ia sengaja tidak menutup pintunya agar Wida merasa nyaman. Dilepasnya tangan Wida begitu mereka ada di tengah kamar. Lalu di tinggalkannya Wida untuk menghampiri lemari pakaian dan mengganti pakaiannya.
Wida yang berdiri ditengah kamar hanya diam terpaku, merasa bingung harus berbuat apa. Diperhatikannya Prima yang berjalan ke arah lemari. Dan saat Prima akan membuka bajunya, ia segera mengalihkan pandangannya. Ia merasa jengah melihat Prima yang sedang berganti pakaian.
Prima menoleh ke arah Wida, dan saat melihat Wida sedang melihat ke tempat lain untuk mengalihkan pandangannya, ia hanya tersenyum.
"Duduklah," katanya menyuruh Wida, "jangan hanya berdiri di situ. Seperti yang lagi kena hukuman saja." Prima mencoba bercanda.
Mendengar Prima bicara Wida kembali menoleh ke arahnya. Tampak olehnya Prima yang sudah berganti pakaian dengan kaos oblongnya. Tiba-tiba ia teringat perkataan ayah Prima tentang Prima yang akan kuliah di Jogja.
"Kenapa kau tidak mengatakannya?" tanyanya dengan ekspresi datar.
Setelah merapikan kaosnya, Prima berjalan menghampiri Wida.
"Mengatakan apa?" katanya setelah berdiri di hadapan Wida.
Prima berdiri begitu dekat di depan Wida, dan karena tubuhnya yang tinggi membuat Wida harus mendongakkan wajahnya. Di tatapnya dalam mata Prima.
"Soal kau kuliah di Jogja.. Mengapa kau tidak cerita?"
Prima tersenyum mendengar pertanyaan Wida.
"Aku juga baru mengetahuinya. Kenapa? Kau tidak ingin aku kuliah di sana?"
Wida menghela nafas, ia kembali terdiam. Entah mengapa ia merasa kesal saat mendengar Prima yang akan kuliah di Jogja.
"Bagaimana mungkin kau baru tahu, kau tampak tenang saat ayahmu mengatakannya."
Prima mendekatkan wajahnya ke wajah Wida. Di pegangnya kedua bahu Wida, lalu ditatapnya lembut kekasihnya itu.
"Aku sungguh baru tahu, Papih baru mengatakannya kemarin."
Sejenak Wida membalas tatapan Prima. Namun tak lama kemudian, ia menepis tangan Prima dari ke dua bahunya dan melangkah kebelakang menjauhi Prima.
"Lalu kau menyetujuinya?" tanyanya dengan nada kesal.
Prima kembali mendekati Wida.
"Aku..." kata Prima yang kemudian terhenti karena ragu. Prima tampak terdiam. Apakah aku harus mengatakannya? Kini batinnya yang berbicara. Apakah aku harus bilang kalau ini adalah karena sebuah janji yang terlanjur iya ucapkan? Janji untuk kekasihnya yang ia cintai?
Ingatan Prima kembali pada saat ia meminta bantuan ayahnya. Saat itu, setelah ayahnya selesai berbicara dengan Pak Barja, ayahnya berbicara padanya.
__ADS_1
"Bantuan Papih ini tidak gratis ya, Prim," kata sang ayah sambil menatap anaknya.
"Maksud Papih?" tanya Prima tidak mengerti.
"Papih mau kau membayarnya dengan menuruti keinginan Papih."
"Keinginan apa?"
"Kau janji dulu kalau kau akan memenuhinya. Tapi kalau kau tidak mau, Papih bisa menelepon kembali Pak Barja agar hukumannya di berlakukan kembali," kata ayah Prima dengan sedikit mengancam.
"Kalau aku bisa memenuhinya, aku akan tepati. Asal Papih tidak menyuruh aku melakukan hal yang tidak aku suka," tawar Prima.
"Kau bisa melakukannya. Malah ini bagus untukmu. Untuk masa depanmu. Bagaimana... Kau akan memenuhinya?" tanya ayah Prima dengan mimik wajah yang serius.
Tanpa pikir panjang Prima menganggukkan kepalanya tanda menyetujui permintaan ayahnya.
"Kau harus kuliah di Jogja."
Bagai mendengar petir disiang hari, mata Prima langsung melebar.
"A... Apa? Kuliah di Jogja?" tanya Prima seakan takut telinganya salah dengar.
"Kenapa harus di Jogja? Aku... Aku bisa kuliah disini. Banyak kampus negri yang bagus disini. Kenapa juga harus ke Jogja?" kata Prima yang sepertinya keberatan dengan permintaan ayahnya.
"Terserah," ujar sang ayah sambil kembali kekursinya dan duduk di sana. "Itu syarat yang Papih ajukan. Kalau kau tidak mau... perjanjian kita batal."
Prima dilema. Dirinya bingung, karena diantara dua pilihan yang semuanya sangat berat baginya. Bila ia tidak menuruti permintaan ayahnya, maka Wida harus dikeluarkan dari sekolah. Tapi bila ia kuliah di Jogja... Itu sangat jelas.. Kalau ia akan meninggalkan Wida dan berpisah dengannya.
Dan inilah pilihannya. Pilihan yang ia pilih setelah dipikirkannya secara matang. Pilihan yang membuat Wida ada dirumahnya sekarang untuk mengucapkan terima kasih pada ayahnya.
"Prima.. " panggil Wida yang melihat Prima terdiam dihadapannya, "apa yang mau kau katakan?"
Prima terkesiap.
"Tidak... Tidak ada.." katanya sambil menggeleng, membuang ingatan tentang pembicaraannya dengan ayahnya.
Tiba-tiba mbok Uti datang dengan nampan terisi penuh makanan dan minuman di tangannya.
"Maaf Den, si Mbok mengganggu.." katanya sopan menunggu perintah Prima untuk masuk.
Prima dan Wida menoleh serempak ke arah pintu. Mereka terdiam sejenak, karena sedikit terkejut dengan ke datangan mbok Uti yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Masuklah, Mbok.." perintah Prima.
Wida yang melihat mbok Uti tampak kerepotan dengan bawaannya, segera menghampirinya dan membantunya.
"Sini Mbok, aku bantu," kata Wida mengambil alih nampan yang dibawa mbok Uti.
Mbok Uti yang merasa tidak enak dengan bantuan Wida, mengikuti gadis itu yang berjalan menuju meja yang ada disudut kamar.
"Biar, Non. Mbok saja.." katanya sambil ikut memegang nampan.
Ditatanya satu-satu minuman dan makanan diatas meja.
Prima yang melihatnya menghampiri mereka dan duduk disofa panjang yang ada dibalik meja itu. Diperhatikannya Wida yang sedang menata meja dengan serius.
"Si Mbok keluar dulu ya, Den," kata mbok Uti setelah semuanya selesai.
Prima mengangguk. Setelah pamit pada Wida, mbok Uti melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar.
"Tolong tutup pintunya ya, Mbok!" seru Prima setelah Mbok Uti di dekat pintu.
Pintu pun tertutup. Wida yang masih berdiri di dekat meja, langsung terlihat gugup saat pintu ditutup.
"Kenapa harus ditutup?" tanyanya pada Prima yang sedang meminum air putihnya.
"Duduklah," kata Prima setelah meletakkan gelasnya tanpa menghiraukan pertanyaan Wida.
Wida masih berdiri ditempatnya sambil menatap Prima. Sepertinya ia menunggu jawaban Prima. Prima yang menyadari sikap Wida, menatapnya.
"Kenapa? Apa kau tidak lapar?" katanya masih tak menghiraukan pertanyaan Wida.
"Aku lapar.. Duduklah," kata Prima lagi sambil menepuk-nepuk jok sofa yang ada disisi kirinya, mengharap Wida duduk disana.
Lama Wida tidak menanggapi permintaan Prima. Ada keraguan dan juga kesal dari tatapan matanya. Namun perutnya yang tidak bisa diajak kompromi mengalahkan semuanya, dan membuat ia menuruti keinginan Prima. Dengan sedikit keras dihempaskannya tubuhnya di sofa, yang memang untuk dua orang itu, sehingga membuat duduk Wida begitu dekat dengan Prima.
Prima tersenyum melihat Wida yang menuruti keinginannya. Diambilnya segelas air putih lalu disodorkannya ke Wida.
"Minumlah... Agar pikiranmu tenang," katanya pelan.
"Bagaimana aku bisa tenang.." kata Wida tanpa menatap Prima sambil menepis gelas yang disodorkannya. "Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau harus kuliah di Jogja..."
Prima meletakkan kembali gelas yang dipegangnya di meja. Alih-alih menjawab pertanyaan Wida, Prima malah meraih wajah Wida dengan kedua tangannya agar menghadap ke wajahnya. Ditatapnya mata Wida. Lalu.. Tanpa memberi kesempatan Wida untuk menghindar, Prima langsung mencium bibir kekasihnya itu...
__ADS_1