
Wajah Prima terlihat berseri saat menatap langit-langit kamarnya. Ternyata hanya dengan sekali telepon saja, ayahnya telah menyelesaikan masalahnya yang beberapa hari ini hampir memecahkan kepalanya, dan mengacaukan hubungannya dengan Wida.
Ayahnya telah berhasil meyakinkan Pak Barja, bahwa anaknya dan Wida memang benar-benar hanya menumpang ke toilet di penginapan itu. Dan dengan sedikit ancaman akan menghentikan donaturnya, akhirnya ia berhasil menghapus hukuman Wida.
Prima menghela nafas lega, ia yakin, kekasihnya itu pasti akan senang sekali saat mengetauhi hukumannya untuk belajar dirumah sudah di cabut.
Prima baru mengetahui, bahwa ayahnya ternyata juga ada di penginapan itu untuk bertemu dengan relasinya yang sedang menginap disana. Dan ia melihat dirinya dan Wida saat mendatangi resepsionis untuk meminta ijin memakai toilet. Tapi karena dirinya jarang dirumah karena urusan bisnis, ia lupa memberitahu Prima bila ia telah melihatnya disana.
Prima yang sedang senang hatinya, mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Di hubunginya Wida dengan segera. Betapa terkejut dan senangnya ia ternyata ponsel Wida telah aktif!
Wida yang sudah merasa tenang karena ada harapan bahwa Ryan akan membantunya, nampak tersenyum saat Ryan mengantarnya pulang. Ia ingin segera sampai dirumah dan menghubungi Prima akan kabar baiknya ini.
Mobil Ryan pun berhenti di depan gang rumah Wida, karena memang mobil tidak bisa masuk ke gang yang hanya bisa di lalui motor itu.
"Aku turun disini saja," kata Wida sambil tersenyum.
Ryan mengangguk.
"Iya. Maaf aku tidak bisa mengantar Kak Wida sampai ke rumah, karena aku akan menemui Pak Barja untuk menyelesaikan masalah Kakak."
Senyum Wida semakin merekah saat mendengar perkataan Ryan.
"Iya... terima kasih, Ryan. Kau selalu membantuku saat aku kesulitan. Aku tidak tahu, bagaimana aku akan membalasmu."
Ryan ikut tersenyum dengan mata berbinar.
"Aku akan menagihnya nanti bila Kakak ingin membalasku, jika aku membutuhkannya.."
Wida langsung melangkah ke rumahnya begitu mobil Ryan berlalu pergi. Dengan wajah ceria ia membuka pintu pagar rumahnya. Halaman rumahnya yang penuh dengan bunga seakan menambah warna dalam hatinya.
Saat ia mengucapkan salam dan membuka pintu rumahnya, tampak ibunya yang datang menyongsong kehadirannya. Kepala ibunya terlihat celingukan ke arah jendela seakan mencari seseorang di balik jendela itu.
"Kau pulang dengan siapa?" tanya ibu pada Wida. "Apakah Prima mengantarmu?"
Wida mengerutkan alisnya, ia heran karena ibunya tiba-tiba menyebut nama Prima.
"Prima?" tanya Wida, "apa tadi dia kemari?"
__ADS_1
Ibu mendesah pelan, "Iya.. dia mencarimu tadi. Tapi setelah ibu bilang kau tidak dirumah, ia mengatakan kau mungkin kerumah Asti. Lalu ia berjanji akan menjemputmu dan membawamu pulang. Tapi.. ternyata kau pulang sendiri."
Wida terdiam sejenak.
"Mungkin kami selisih jalan. Tadi memang aku ke Asti, dan menyuruhnya pulang duluan. Tapi ternyata ia mencariku kemari," kata Wida berdusta, menutupi kejadian yang sebenarnya. "Aku akan ke kamar, Bu.. mau istirahat."
Ibu mengangguk dan membiarkan Wida pergi ke kamarnya.
"Kalau kau ingin makan, semuanya ada di meja makan. Ibu masak soto ayam hari ini..!" teriak ibunya sebelum Wida menghilang di balik pintu kamarnya.
Baru saja Wida duduk di pinggir tempat tidurnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Secepatnya ia merogoh tasnya mengambil ponselnya disana. Dan bibirnya langsung tersenyum saat membaca nama si penelpon. Prima! Batinnya senang. Dengan segera ia menjawab panggilan Prima.
"Iya, Prima ini aku.."
"Kau sudah pulang? Aku sangat mencemaskanmu, aku sampai mencarimu kerumahmu, tapi kau tidak ada. Kemana kau tadi?"
"Maaf.." jawab Wida merasa bersalah. "Aku sedang merasa kalut tadi. Entah mengapa aku ingin segera pergi dari sana."
"Iya.. lalu kau pergi kemana? Aku dan Asti berusaha menghubungimu, tapi ponselmu sepertinya tidak aktif."
"Aku.. aku sudah menemukan solusi untuk masalah kita. Seseorang akan membantu kita agar hukumanku dapat di hapus dan aku bisa belajar kembali disekolah.."
Prima yang sedang rebah langsung terduduk setelah mendengar perkataan Wida. Senyumnya yang tadi merekah langsung hilang seketika. Entah mengapa hatinya tiba-tiba merasa tidak enak mendengarnya. Seseorang? Siapa? Pikirnya.
"Apa maksudmu.. seseorang akan membantu kita? Siapa dia?"
Terdengar suara mendesah dari seberang sana. Sepertinya Wida sedang ragu.
"Tapi kau janji tidak akan marah bila aku mengatakannya, ya? Karena dia benar-benar akan membantu kita.."
"Katakan, siapa?" tanya Prima tanpa peduli kata janji yang di ucapkan Wida.
"Ryan.." jawab Wida hampir tak terdengar.
Rahang Prima langsung mengeras begitu mendengarnya, walau Wida mengatakannya dengan pelan. Lagi-lagi dia! Batinnya. Selalu dia! Mengapa dia selalu ada disaat Wida sedang rapuh? Bagai dejavu kejadian ini terulang lagi. Dulu pun begitu, Ryan lebih dahulu menemukan Wida saat Wida menghilang.
Lama Prima terdiam, sampai Wida harus memanggilnya.
__ADS_1
"Prima... apa kau masih disana?"
Prima yang mendengar Wida memanggil namanya langsung tersentak.
"Iya.. aku masih mendengarmu.." katanya pelan sambil berusaha menyembunyikan kekesalannya.
"Kau jangan marah. Aku bertemu dengannya tanpa sengaja... "
"Ia yang menemukanmu?" potong Prima seakan bisa menebak apa yang akan dikatakan Wida selanjutnya.
Wida yang merasa heran karena Prima menebak dengan tepat, mengerutkan alisnya.
"Iya... kau benar. Dia yang menemukanku saat aku ingin pulang," kata Wida membenarkan tebakkan Prima. Wida diam sejenak, ia ingin tahu apakah Prima akan mengatakan sesuatu. Tapi Prima tampaknya menunggu dirinya berbicara.
"Tadi Ryan mengatakan kalau ia akan membantu masalah kita," lanjut Wida karena Prima hanya diam saja. "Ternyata ayahnya adalah pemilik sekolah Jaya. Ia bilang ia akan bicara dengan Pak Barja, agar ia mencabut hukumanku.. setidaknya meringankan hukumanku hingga aku bisa belajar di sekolah seperti biasa."
Wida berhenti bicara, ia menunggu apakah Prima akan mengomentari perkataannya.
Sebenarnya Prima terdiam karena ia sedang bimbang, apakah ia akan mengatakan bahwa Pak Barja sebenarnya telah mencabut hukumannya dan hanya memberikan surat peringatan seperti yang ia terima pada Wida atau tidak. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa kesal dan menjadi ragu untuk mengatakannya.
Jujur saja, ia merasa, sepertinya Wida lebih yakin kalau Ryan bisa menyelesaikan masalah mereka hanya karena dia putra pemilik sekolah Jaya, daripada dirinya. Bukankah itu berarti Wida lebih percaya pada Ryan ketimbang dirinya?
"Apakah kau yakin, kalau Ryan bisa menyelesaikan masalah ini?" tanya Prima seakan sedang menguji siapa yang lebih di yakini Wida. "Kau tidak percaya padaku, kalau aku juga bisa menyelesaikan masalah kita?"
Deg! Jantung Wida seakan berhenti sejenak saat mendengar pertanyaan Prima. Apa ini? Apakah Prima marah padanya sehingga ia berkata seperti itu? Atau... ia sedang cemburu karena Ryan?
"Kenapa kau bicara seperti itu? Apa kau cemburu pada Ryan? Ini bukan masalah percaya atau tidak.. tapi saat ini sepertinya memang hanya Ryan yang bisa melakukannya.."
Prima terdengar mendesah.
"Tapi sepertinya kau lebih percaya pada Ryan daripada aku. Kau tahu kan, aku juga akan berusaha untuk menyelesaikan masalah kita, tanpa perlu Ryan ikut campur. Kau hanya harus bersabar sebentar saja..."
"Aku sudah bersabar Prima.." potong Wida, "dan aku tahu kalau kita sudah berusaha. Tapi sepertinya itu tidak cukup, karena kita tidak punya koneksi. Dan Ryan punya itu.." kata Wida yang memang sudah putus asa saat mendengar keputusan kepsek. Dan sekarang ada kesempatan untuk mengubah keputusan itu. Dan ia tidak mau melepas kesempatan itu. Apakah itu salah?
"Kau tahu bagaimana reaksi ibuku, jika ia tahu kalau aku di rumahkan? Aku tidak ingin melepas kesempatan ini Prima.."
Prima terdiam. Ia benar-benar kecewa pada keputusan Wida yang lebih percaya pada Ryan daripada dirinya. Dan dengan perasaan kecewa, ia pun akhirnya memutuskan untuk tidak memberitahu Wida kalau hukumannya telah di cabut...
__ADS_1