Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CCXIV : Apa Kau Tidak Mengenaliku?


__ADS_3

Dari kejauhan Prima melihat Nina berlari-lari kecil menghampirinya yang sedang duduk di sudut kantin. Gadis yang ia kenal lama sejak masih di Taman Kanak-kanak. Dan akhirnya mereka semakin dekat saat di SMP. Sampai akhirnya Nina menyatakan perasaannya saat di SMA. Tapi ia tidak bisa menerima cinta gadis itu, karena memang ia hanya menganggapnya sebagai teman. Apalagi setelah ia bertemu Wida. Baginya Widalah penghuni hatinya.


Namun sepertinya Nina tidak menyerah begitu saja. Ia menempel padanya dengan segala cara. Bahkan sampai ke Jogja pun ia masih mengejarnya. Hanya pada saat ia pindah kost saja Nina tidak mengikutinya. Sayangnya ia harus kembali lagi kerumah Omnya untuk beberapa hari ini, karena tempat kostnya sedang di renovasi.


"Maaf, ya aku telat..." kata Nina begitu ia sampai di hadapan Prima dengan nafas terengah karena berlari.Dan tanpa menunggu jawaban, ia langsung duduk di hadapan Prima.


Prima hanya tersenyum kecil. "Kau mau makan apa?" tanyanya tanpa peduli pada keterlambatan Nina.


"Bakso ajah..." jawab Nina dengan senyum manisnya. Kini nafasnya sudah mulai teratur.


Prima bangun dari duduknya dan berjalan ke penjual bakso. Dipesannya semangkok bakso dan segelas es teh manis untuk Nina. Setelah melakukan pembayaran ia lalu kembali ke tempat duduknya.


"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba mengajakku makan siang?" tanya Prima setelah duduk dihadapan Nina. "Apa ada yang ingin kau bicarakan denganku?"


Nina tampak terpaku sejenak. Sebenarnya ia bingung harus bicara apa dengan Prima. Entah bagaimana keakraban yang terjalin dari mereka kecil, bisa hilang begitu saja. Kini selalu ada rasa canggung di antara mereka berdua.


"Tidak ada apa-apa...." jawab Nina akhirnya, "Aku hanya ingin makan bareng sama kamu saja..."


"Oh..." terdengar nada kecewa dari suara Prima.


"Kenapa?" tanya Nina heran mendengar kata 'oh' terlontar dari mulut Prima.


"Yah... aku pikir ada kabar mengenai Wida..." kata Prima terus terang, tanpa memperhatikan ekspresi wajah Nina yang berubah.

__ADS_1


Nina menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan kekesalannya saat mendengar Prima menyebut nama Wida. Nina mendengus pelan, menahan kekesalannya. Andai saja lelaki yang ada di hadapannya tahu kalau saja ia habis bertemu dengan kekasihnya itu... batinnya.


Tidak berapa lama bakso pesanan Nina datang. Nina mengangkat wajahnya dan mulai mengaduk bakso yang kini sudah ada di hadapannya. Sekilas matanya melihat ke arah Prima. Orang yang dilihatnya tampak sibuk dengan ponselnya. Nina menghela nafas pelan, rasa kecewa kini mendera hatinya. Prima benar-benar sudah tidak mempedulikannya, walau kini ia ada di hadapannya. Dengan perasaan sedih di suapnya bakso ke dalam mulutnya..


Prima merasa waktu berjalan lambat. Dilihatnya Nina yang sepertinya sedang menikmati baksonya. Sebenarnya ia ingin beranjak dari sana. Namun hati kecilnya tidak tega untuk meninggalkan Nina makan sendirian di kantin yang agak lengang itu. Di ubahnya posisi duduknya dan kembali menatap layar ponselnya.


Nina menyadari kegelisahan Prima. Ia tahu kalau sebenarnya Prima sudah tidak tahan duduk berlama-lama dengannya. Namun entah mengapa ada rasa puas di hatinya melihat Prima yang gelisah seperti itu. Puas, karena selama ini hatinyalah yang selalu gelisah dan tersiksa. Apa salahnya untuk kali ini Prima juga merasakannya. Dengan senyum kecil Nina melanjutkan makannya..


***


Siang itu Wida menyantap makan siangnya tanpa selera. Ia lebih banyak mengaduk-aduk nasi gorengnya daripada menyuapnya. Sebentar-sebentar terdengar helaan nafas yang menandakan keresahan hatinya.


Danu yang melihatnya tampak heran dengan sikap Wida. Sejak ia bertemu dengan Nina, teman lamanya, Wida kelihatan lebih banyak diam. "Kenapa kamu, De'?" tanyanya pada Wida, "Apa kurang enak nasi gorengnya?"


Wida yang di tanya tampak terkejut. Seakan baru menyadari kalau ia sedang makan, segera ia menyuap nasi gorengnya sesendok penuh. "Tidak," jawabnya dengan mulut terisi, "Enak kok, nasi gorengnya."


"Eem.." Wida menjawab dengan gumaman. Wida kembali berusaha fokus pada makanannya, walau pikirannya tak lepas dari Prima. Bagaimana tidak, saat mendengar Prima kurang sehat dari Nina, hatinya langsung cemas. Ia merasa bersalah, mungkin saja Prima sakit karena dirinya.


Danu yang masih memperhatikan sikap Wida, tidak tahan untuk bertanya. "Ada apa, sih? Kok sejak kamu ketemu sama teman lamamu, kamu jadi murung gitu?" tanyanya. "Apa ia bukan teman baikmu?"


Wida menghentikan makannya. Ditatapnya Danu dengan intens. "Memangnya kelihatan, ya?" tanyanya polos, "Kelihatan kalau aku dan dia tidak dekat?"


Danu tertawa geli. Ia tidak menyangka kalau Wida menanggapi perkataannya dengan serius. "Oh... benar ya, kalau kalian tidak dekat?" katanya disela tawanya. "Padahal Mas cuma bercanda saja kok.."

__ADS_1


Wida yang benar-benar menganggap serius, melihat Danu dengan kesal. "Kok Mas gitu, sih.." katanya merajuk.


"Iya... iya... maaf.." kata Danu setelah menghentikan tawanya. "Tapi Mas benar, kan? Kalau kalian tidak dekat?"


Wida terdiam. Dialihkannya kembali perhatiannya ke nasi goreng yang ada di hadapannya.


"Kalau kalian dekat, pasti bukan begitu drama pertemuan kalian tadi. Pasti ada wajah ceria dan pelukan hangat. Kalau tadi.. lebih kelihatan orang yang sedang tertangkap basah.. Kelihatan dari wajah panik temanmu saat melihat dirimu."


Wida kembali terdiam. Pikirannya kembali teringat saat pertemuannya dengan Nina tadi. Yah, memang benar apa yang di katakan Mas Danu. Ia juga merasakan kepanikan wajah Nina saat melihat dirinya. Nina tampak terkejut. Padahal mereka telah saling melihat sebelumnya. Apakah ada sesuatu yang disembunyikannya? Prima.. ini pasti tentang Prima. Apakah ia sedang berbohong dengan mengatakan Prima kurang sehat?


Mendadak mata Wida membulat, seakan menyadari sesuatu. Yah, pasti ini tentang Prima! Batinnya. Ia tahu bagaimana sikap Nina padanya sejak dahulu. Nina yang tidak suka ia dekat dengan Prima. Dari sikapnya tadi, kelihatan jelas kalau ia sedang menutupi sesuatu. Apa ia sedang berusaha menghalanginya untuk bertemu dengan Prima? Kalau begitu... Prima pasti ada di kampus!


Dengan gerakan yang tiba-tiba Wida berdiri dari duduknya. Diraihnya dengan cepat tasnya yang tergeletak di atas meja. Danu yang melihatnya mengerutkan keningnya karena heran. "Ada apa De'?" tanyanya, "Kau mau kemana?"


Wida menatap Danu serius. "Maaf Mas, aku duluan... tiba-tiba aku ada urusan mendadak," katanya seraya berlalu meninggalkan Danu yang keheranan.


Danu menoleh ke nasi goreng yang tadi di makan Wida. Porsi nasi goreng itu belum ada setengahnya habis.Dengan cepat ia kembali melihat kearah Wida yang berjalan cepat meninggalkannya. "Hei!" teriaknya, "Makanmu belum habis!" Tapi teriakannya percuma, karena Wida sudah semakin menjauh...


***


Wida berjalan cepat di lorong kampus. Ia menyusuri jalan yang tadi di lalui Nina. Dirinya menerka-nerka kearah mana Nina pergi. Ini bukan ke arah ruang TU, pikirnya, tapi ke kantin! Apa ia ada janji ketemuan dengan Prima di kantin?


Setelah sampai di depan kantin, Wida menghentikan langkahnya. Matanya tampak berbinar begitu melihat ke arah pojok kantin. Tampak olehnya sosok yang selama ini ia rindukan. "Prima!" Tanpa sadar mulutnya menyebut nama kekasihnya itu dengan suara lirih. Seketika jantungnya berdegup cepat. Rasa senang dan takut menjadi satu. Senang karena akhirnya ia bisa berjumpa kembali, dan rasa takut jika Prima akan marah karena selama ini ia mengabaikannya.

__ADS_1


Tiba-tiba mata Prima tertuju kearahnya. Walau hanya sesaat, Wida yakin kalau Prima melihatnya. Namun pemuda itu tampak acuh. Ia terlihat menundukkan kepalanya kembali, menatap ke arah ponsel yang sedang dipegangnya. Melihat hal itu hati Wida mendadak cemas. Kenapa Prima mengabaikannya? Apakah ia tidak mengenalinya?


Wida melihat kearah orang yang duduk di hadapan Prima. Yah, itu Nina. Dugaannya ternyata benar, jelas sekali kalau Nina telah membohonginya. Nina benar-benar tidak ingin kalau dirinya bertemu dengan Prima. Wida mendengus kesal. Dimantapkannya hatinya bahwa ia harus bertemu Prima sekarang juga. Rencana memberi kejutan pada Prima saat mereka bertemu kandas sudah. Ia tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka. Perlahan Wida melangkahkan kakinya ke arah Prima...


__ADS_2