Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CXCVI : Sebuah Rencana...


__ADS_3

Seharian Wida tampak uring-uringan. Walau ia telah berbicara dengan Prima di ponsel pagi tadi, entah mengapa hatinya masih merasa resah. Bagaimana tidak, Prima sedang menuju Jogja bersama Nina! Rivalnya.. yang jelas-jelas menyukai kekasihnya itu. Hhh... bukannya ia tidak yakin akan cinta Prima, tapi ia tahu, kalau Nina tak akan melepas Prima begitu saja. Walau sahabatnya, Asti, juga telah menyarankan agar ia percaya pada Prima, tetap saja ia merasa cemas.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan kepala ibunya muncul dari sana.


"Ada Soni mencarimu, keluarlah," kata ibunya begitu saja tanpa peduli pada wajah putrinya yang tampak terkejut karena kemunculannya yang tiba-tiba.


"Ibu!" pekiknya. "Apa ibu tidak bisa mengetuk pintu dulu baru membukanya?" katanya sedikit kesal karena terkejut. Namun sepertinya ibunya tidak peduli dengan kekesalannya, karena ia langsung menghilang lagi dari balik pintu.


"Cepatlah!" Dan hanya suaranya saja yang masih terdengar menjauh dari kamar.


Kening Wida tampak berkerut. Soni? Batinnya. Mau apa dia datang kerumahnya? Apa dia datang karena ia tahu kalau Prima sudah berangkat ke Jogja? Wida menghela nafas pelan. Dengan rasa enggan, ia akhirnya keluar dari kamarnya untuk menemui Soni.


Soni yang tengah duduk di ruang tamu, terlihat gelisah. Walau ibunya Wida telah menyambutnya dengan ramah, ia tetap resah karena tidak tahu apakah Wida akan suka dengan kedatangannya. Cukup lama juga ia tidak bertemu dengan gadis yang ia sukai ini setelah kelulusan mereka.


Dan kedatangannya hari ini bukan karena tak di sengaja. Ia tahu kalau Prima sudah berangkat ke Jogja pagi ini, dan karena itulah ia datang kerumah Wida. Ia tidak ingin melepas sedikit pun kesempatan untuk mendekati Wida.


Tidak berapa lama Wida pun datang. Walau terlihat di paksakan, tampak sebuah senyuman tersungging di bibirnya.


"Hai.." sapanya sopan sambil duduk di hadapan Soni. "Ada apa kau kemari?" tanyanya langsung.


Soni tersenyum. Hatinya merasa sedikit lega, karena Wida sepertinya menerima kedatangannya.


"Tidak ada apa-apa," jawabnya santai. "Hanya ingin melihat keadaanmu saja. Sudah lama kita tidak bertemu."


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.." kata Wida berusaha bersikap wajar.


"Aku dengar Prima sudah berangkat ke Jogja tadi pagi.." kata Soni menyinggung kepergian Prima. Matanya yang tak lepas dari Wida memperhatikan ekspresi perubahan wajah gadis itu.


Wida tampak diam sejenak. Matanya yang bulat menatap balik tatapan Soni.


"Secepat itu beritanya tersebar.." katanya sedikit sinis.


Tatapan mata Soni melembut, lalu disandarkannya tubuhnya ke sandaran sofa. Sepertinya ia berusaha untuk terlihat santai.


"Bagaimana tidak tersebar. Nina menulis kepergiannya dengan Prima di semua akun medsosnya. Sepertinya ia senang sekali bisa pergi ke Jogja bersama Prima," kata Soni yang sengaja memancing emosi Wida.

__ADS_1


Dan benar saja, Wida tampak terpancing emosinya. Bibirnya mengatup rapat, wajahnya yang tadi terlihat wajar, kini mulai tampak resah. Yah, ia juga melihat status akunnya Nina. Betapa Nina begitu memerkan kepergiannya dengan kata-kata lebaynya. Padahal dia tahu kalau Prima tidak seantusias dirinya. Itulah mengapa dirinya uring-uringan seharian ini.


Soni yang melihat Wida terdiam, tampak tersenyum kecil. Ia merasa senang karena pancingannya berhasil.


"Kau... apakah kau tidak apa-apa kalau Nina ke Jogja bersama Prima?" tanya Soni karena dilihatnya ekspresi murung mulai terlihat di wajah Wida.


"Memangnya aku kenapa?" Wida menjawab dengan nada kesal. "Aku tidak apa-apa. Bukankah mereka ke Jogja untuk kuliah? Lagi pula aku percaya pada Prima."


"Oh.. syukurlah kalau begitu. Aku tidak perlu mencemaskan dirimu.."


"Kenapa kau harus cemas?" potong Wida sambil menatap curiga pada Soni. "Kau tidak perlu mencemaskan aku, hubungan aku dengan Prima baik-baik saja. Walau Nina ada di dekatnya, aku yakin Prima bisa menjaga sikapnya."


Wajah Soni berubah serius. Sikap duduknya pun kembali tegak.


"Aku cemas, karena tidak ingin kau tersakiti. Aku tidak ingin kau terluka.. atau sedih. Walau kau berusaha bersikap wajar, aku tahu... jauh di lubuk hatimu kau merasa resah. Resah apakah mereka disana benar-benar bisa dipercaya.."


Wajah Wida kini benar-benar terlihat kesal. Karena ia merasa Soni sedang mempengaruhinya.


"Itu urusanku!" suara Wida terdengar emosi. "Kau tidak perlu mengurusinya. Mau resah atau tidak, itu hatiku. Kalau kau datang kesini hanya untuk memperkeruh suasana hatiku, lebih baik kau pulang saja!"


Tiba-tiba ibu Wida masuk ke ruang tamu. Tangannya membawa nampan yang berisi dua gelas teh dan sepiring kue.


Sambil meletakkan nampan yang dibawanya ke meja, mata ibu Wida menatap tajam putrinya.


"Ibu tidak mengajarimu berbuat seperti itu."


Soni yang sedikit terkejut dengan kedatangan ibu Wida yang tiba-tiba, langsung memasang senyum di wajahnya. Dengan sigap di bantunya ibu Wida menata gelas dan piring di meja.


"Tidak ada apa-apa, Bu," katanya seramah mungkin. "Kami hanya membahas tempat kuliah yang akan kami kunjungi."


Mendengar perkataan Soni, ibu Wida langsung menatap putrinya.


"Benarkah?" tanyanya pada Wida. "Apa kau sudah memutuskan untuk kuliah?" Nada suara ibu Wida terdengar senang.


Reflek Wida melihat ke arah Soni. Soni yang membalas tatapan Wida memasang senyum, agar Wida menyetujui perkataannya. Dan mau tidak mau Wida mengikuti drama Soni.

__ADS_1


"Iya... aku baru akan membahasnya dengan Soni.." ujar Wida datar.


"Baguslah.." kata ibunya dengan senyum yang semakin melebar. "Kalian bicarakan dengan baik mau kuliah dimana, jangan kelamaan liburnya.."


"Boleh kan Bu, saya dan Wida besok pergi untuk mengunjungi beberapa kampus negri sebagai pertimbangan?" tanya Soni yang tiba-tiba meminta ijin untuk keluar besok bersama Wida. Dan Wida tampak terkejut mendengarnya.


"Boleh saja.." jawab ibu menyetujui. Dan akhirnya ibu pun kembali masuk ke dalam rumah, meninggalkan Wida yang mendelik tajam ke arah Soni.


"Kenapa kau tiba-tiba minta ijin ibuku untuk pergi besok?" tanya Wida dengan nada kesal. "Kau belum membicarakannya padaku!"


Soni hanya tersenyum menanggapi kekesalan Wida.


"Kalau tidak begitu.. mana aku bisa mengajakmu jalan?"


Wida menanggapi perkataan Soni dengan wajah masam. Tanpa ia ketahui, bahwa Prima berkali-kali memanggilnya melalui ponselnya yang tergeletak di kamarnya...


***


Dengan malas tangan Wida meraih ponselnya. Sepertinya ia tertidur begitu saja, setelah curhat panjangnya dengan Asti, selepas kepulangan Soni. Rasanya ia enggan sekali untuk bangun pagi itu, bila di ingatnya kalau hari ini ia akan jalan dengan Soni.


Dilihatnya riwayat panggilan ponselnya. Dan betapa terkejutnya ia saat dilihatnya ada panggilan dari Prima semalam. Bukan sekali.. bahkan beberapa kali! Reflek Wida pun melakukan panggilan ke Prima.


Prima yang sedang menghadapi sarapan paginya dengan keluarga Omnya serta Nina, berkali-kali melirik ke arah ponselnya yang ia letakkan di samping piringnya. Siapa pun yang melihatnya pasti bisa menduga, bahwa ia sedang menunggu panggilan dari seseorang. Dan saat ponselnya berdering, tangannya dengan cepat meraih ponselnya. Bibirnya pun langsung menyeringai saat tahu kalau Wida yang meneleponnya.


"Halo Wida," katanya sambil berdiri dan kemudian berjalan meninggalkan meja makan. Meninggalkan tiga pasang mata yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda.


"Maaf, aku tak menjawab panggilanmu semalam, aku tertidur.." kata Wida di ponsel.


"Tidak apa-apa. Aku telepon semalam, hanya ingin mengabarkan kalau aku sudah sampai di Jogja. Kau baik-baik saja tanpa aku disana, kan?"


Wida yang menelepon sambil rebahan di atas tempat tidurnya, tersenyum senang mendengar Prima yang begitu perhatian padanya.


"Iya, aku baik-baik saja.. kan masih ada Asti dan yang lainnya yang menemaniku.."


"Syukurlah.. kalau kau baik-baik saja. Akan aku usahakan pulang bila ada waktu.."

__ADS_1


Sedang asik-asiknya Wida mengobrol dengan Prima di ponsel, tiba-tiba ibu Wida masuk ke dalam kamar begitu saja. Dan tanpa mempedulikan Wida yang sedang bertelepon ia pun berkata," Bangun! Hari sudah siang! Bukankah kau akan pergi dengan Soni?"


Dan Wida yang terkejut hanya terperangah, tanpa sempat menutup ponselnya agar Prima tak mendengar perkataan ibunya...


__ADS_2