
Wida yang mendapat kecupan yang tiba-tiba itu terkejut. Ia menatap Prima tanpa kedip. Jantungnya berdetak hebat. Entah mengapa ia merasa tubuhnya tak dapat bergerak. Bibirnya pun terasa berat, seakan bibir Prima tertinggal disana.
Prima juga merasakan sesuatu dalam dirinya. Detak jantungnya juga berdetak cepat. Tapi berbeda dengan Wida. Matanya menatap lembut dan penuh hasrat. Tubuhnya bisa bergerak bebas, bahkan malah mendekati Wida lagi. Bibirnya pun seakan ingin merasakan lagi kehangatan bibir Wida yang tadi sekilas dirasakanya.
Sekali lagi Prima mencoba mengecup bibir Wida yang masih terdiam, kali ini agak lama. Dan Wida masih belum merespon, karena masih terkejut atas apa yang di lakukan Prima padanya.
Prima menarik wajahnya, ditatapnya Wida yang masih diam tak bergerak. Entah mengapa ia merasa ingin lagi mengecup bibir Wida. Saat ia ingin melakukan kecupan ketiga, Wida baru tersadar. Ia memalingkan wajahnya untuk menghindari wajah Prima yang ingin mendekatinya.
Namun rupanya bibir Prima sudah mendapatkan candunya. Ia tidak ingin melepaskan bibir itu. Bibir yang dirasanya amat manis walau baru sedikit dirasakannya, membuatnya ingin mencoba lagi.
__ADS_1
Diraihnya wajah Wida dengan tangan kirinya. Dipaksanya wajah itu untuk menoleh padanya. Dan saat wajah Wida sudah menghadap padanya, tanpa menahan diri lagi di pagutnya bibir Wida. Kali ini bukan kecupan, melainkan ciuman... ciuman yang penuh gairah dan membuat Wida semakin terkejut.
Wida yang kini tersadar merasakan bibir Prima yang makin mengganas. Ia ingin menolaknya. Didorongnya dada Prima untuk menjauh darinya. Tapi dorongannya terasa lemah. Otak dan tubuhnya mulai tak sinkron lagi. Sebagian dirinya ingin menolak dan sebagian lagi ingin mencoba mengikuti gairah Prima.
Prima yang merasakan dorongan tangan Wida didadanya, malah merasa tertantang. Tangan Wida terasa seperti belaian lembut didadanya. Gila! Batinnya. Apa ini... mengapa bibir ini terasa nikmat! Belum pernah ia merasakan hal seperti ini! Karena memang ini adalah yang pertama baginya.
Wida benar-benar tidak bisa berkutik. Dorongan tangannya berubah menjadi kepalan. Memukul pelan beberapa kali, dan akhirnya malah menjadi sentuhan lembut yang meraba-raba dada Prima yang bidang. Matanya pun mulai terpejam, terbuai oleh permainan bibir Prima.
Entah mengapa ciuman ganas itu terasa menggairahkan. Ingin lepas... tapi tak mau melepas. Terasa buas tapi tidak menyakitkan. Perlahan bibir Wida yang terkatup mulai membuka. Dan ternyata itu suatu kesalahan! Prima malah semakin memburu! Atas dan bawah, dilumatnya habis bibir Wida. Sesekali digigitnya bibir lembut itu membuat Wida mendesah pelan.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar dering suara ponsel. Suara ponsel Wida. Wida yang terkejut membuka matanya yang terpejam. Terlihat Prima yang sedang menciumi bibirnya. Kali ini kesadaran Wida mulai penuh. Ia mendorong tubuh Prima. Prima tak bergeming. Dan sekali lagi Wida mendorong, dan kali ini lebih kuat.
Prima terdorong. Ia yang masih kurang puas merasa terganggu. Ditatapnya Wida dengan bingung.
"Ada apa?" tanyanya disela napasnya yang masih memburu.
"Ponselku berdering... " jawab Wida disela napasnya yang juga tidak beraturan.
Prima tersadar, ada suara dering ponsel terdengar. Dilepasnya tubuh wida dari rangkulannya. Di biarkannya Wida mengambil ponselnya dari saku roknya. Matanya terbelalak saat dilihatnya siapa yang telah menelponnya...
__ADS_1