Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CXXXV : Menunggu Apa Yang Akan Terjadi...


__ADS_3

Nina yang baru masuk ke kelasnya, langsung di sambut oleh Sifa dengan wajah ceria. Nina yang melihatnya heran, karena Sifa senyam-senyum tak jelas.


"Kenapa kau?" tanyanya sambil meletakkan tasnya di atas meja dan duduk disamping Sifa.


"Kau sih... datang siang. Jadi tidak melihat pertunjukkan bagus tadi pagi," kata Sifa dengan antusias.


"Memangnya ada apa?"


"Tadi pagi, ada gambar heboh di mading. Foto Wida yang sedang memasuki hotel... atau penginapan.. aku tidak tahu namanya, dengan seorang laki-laki," adu Sifa dengan semangat.


Nina nampak terkejut.


"Apa?!" serunya hampir berteriak, dan langsung menutup mulutnya karena kaget mendengar suaranya sendiri yang lumayan keras.


"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanyanya dengan volume suaranya yang dipelankan. "Siapa laki-laki yang ada di foto itu? Apakah... apakah Prima?" Nina tampak ragu untuk menyebut nama Prima. Masa Prima... seperti itu? Batinnya.


Sifa menggeleng.


"Entahlah... wajah laki-laki itu di buramkan. Tapi... bila di perhatikan postur tubuhnya... sepertinya.. itu memang Prima."


Nina menyandarkan tubuhnya lemas mendengar penuturan Sifa. Wajah Wida langsung terbayang di pikirannya. Matanya menyipit. Rasa kesalnya dengan Wida sepertinya semakin bertambah. Wida... kenapa dia lagi yang mengacaukan hidup Prima. Terlalu!


Tiba-tiba Nina berdiri.


"Ayo!" ajaknya pada Sifa.


"Kemana?" tanya Sifa heran.


"Aku mau lihat gambar itu!" katanya sedikit emosi. "Aku penasaran... apakah itu Prima... atau bukan."

__ADS_1


"Telat!" kata Sifa sambil menarik tangan Nina untuk kembali duduk.


Nina menatap Sifa dan mengerutkan alisnya, ia bingung dengan perkataan Sifa.


"Maksudmu?"


"Fotonya sudah dilepas Eko tadi," kata Sifa menjawab kebingungan Nina. "Tapi... anak-anak disekolah kita, sudah terlanjur tahu."


Nina menghela napas, melepas kesalnya.


"Bagaimana dengan para guru?" tanya Nina yang tiba-tiba merasa cemas, dan tentu saja yang dicemaskannya itu Prima. Ia tahu, kalau sampai para guru tahu berita itu, pasti akan ada konsekuensinya.


Sifa menggeleng.


"Aku kurang tahu kalau itu..."


"Lalu... apa kau tahu siapa yang melakukan itu? Yang menempel foto itu di mading?" tanya Nina setengah berbisik.


"Aku juga tidak tahu..."


Di kelas Wida, Wida nampak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Prima.


"Apa maksudmu 'ia' telah melakukan sesuatu?" tanyanya bingung.


Prima mengeluarkan foto yang tadi di berikan Eko padanya, dan menyerahkannya pada Wida. Wida meraihnya. Matanya melebar seketika saat melihat dirinya ada di foto itu, dan...Prima, yang wajahnya tampak di buramkan.


"Ini.. ini kita kan? Beberapa hari yang lalu, saat aku dari rumahmu?" Wida bertanya-tanya dengan wajah kebingungan.


"Ini aku... dan ini kamu," tangannya menunjuk fotonya dan foto Prima.

__ADS_1


"Tapi... kenapa wajahmu di buramkan? Dan siapa yang mengambil gambar ini?" Wida bertanya-tanya penuh keheranan. "Dan.. kau dapat dari mana?"


Prima terdiam. Ia bingung mau menjawab apa. Ia sangat merasa bersalah pada Wida. Andai saja ia langsung mengantar Wida pulang waktu itu, mungkin kejadian ini tak akan terjadi...


Asti melihat Prima yang terdiam. Ia tahu apa yang di pikirkan oleh Prima, karena terlihat jelas ada sedikit penyesalan di wajah itu.


Ia lalu meraih tangan Wida dan menggenggamnya dengan erat, berusaha menenangkan Wida yang tampak panik.


"Kami mengambilnya dari mading sekolah. Sepertinya, ada yang sengaja menempelkannya di sana," kata Asti menerangkan.


Mata Wida mengerjap-ngerjap, dihembusnya napasnya berkali-kali untuk menenangkan dirinya. Pikirannya teringat kembali akan ancaman yang ia terima belakangan ini. Ia tidak menyangka, rupanya ini bentuk ancaman yang selama ini menerornya.


Wida menatap Prima yang juga sedang menatapnya. Bagaimana ini? Batinnya. Sekali lagi ia membuat Prima dalam masalah. Dan kali ini, sepertinya bukan masalah biasa...


"Tapi... aku penasaran," kata Asti tiba-tiba, "untuk apa kalian kesana? Kepenginapan itu?"


Wida menoleh ke arah Asti. Mulutnya membuka ingin menjawab pertanyaan Asti. Namun tidak ada suara yang keluar dari sana, karena ia bingung bagaimana harus menceritakannya.


Prima menghela napas. Sepertinya ia yang harus memberitahu, apa yang sebenarnya terjadi.


"Kami hanya numpang ke toilet," katanya menjawab pertanyaan Asti. "Waktu itu Wida sakit perut, dan kami tidak menemukan toilet umum. Kebetulan penginapan itu tidak jauh dari tempat kami berada, dan resepsionisnya mengijinkan. Tapi aku tidak menyangka, kalau ada orang yang memanfaatkan kejadian itu, dan mengambil gambar kami. Dan mengeditnya seperti itu..."


Asti hanya manggut-manggut mendengar penuturan Prima.


"Kalau kejadianya seperti itu, kalian tidak usah cemas," kata Eko yang sedari tadi hanya diam. "Toh, kalian tidak melakukan hal yang salah."


"Tapi, kalau kalian mengambilnya dari mading, berarti... sudah ada yang melihat foto ini.." kata Wida pelan sambil menatap Asti. Asti mengangguk mengiyakan.


"Apakah itu.. tidak akan apa-apa?"

__ADS_1


Dan tak lama bel tanda masuk pun berbunyi. Prima dengan berat hati meninggalkan Wida untuk kekelasnya.


Dalam hati Wida dan Prima merasa cemas, menanti apa yang akan meraka hadapi selanjutnya, akibat dari foto itu...


__ADS_2